Kawah raksasa masih mengepulkan kabut air kosmik. Udara di sekitarnya terasa sejuk akibat aura samudra yang dibawa Xyros Sealactive.
Tyrannons dan yang lainnya masih berdiri mengelilingi pria misterius dari luar Galaksi Bima Sakti itu. Suasana sempat hening beberapa saat. Hingga akhirnya Tyrannons menghela napas pelan.
"Lalu kau ingin menuju Urco Tastarius?"
Xyros mengangguk. "Itu tujuan utamaku. Aku harus menemui Oreons."
Tyrannons menatap langit sesaat sebelum akhirnya menunjuk ke arah tertentu di ruang angkasa. Ia menjelaskan jalur yang harus dilalui. Wilayah-wilayah konstelasi yang perlu dilewati. Serta posisi pusat galaksi tempat Planet Urco Tastarius berada.
Xyros mendengarkan dengan saksama.
---
Di belakang Tyrannons. Rea tampak tidak senang. "Apa kau yakin?" tanyanya pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari Xyros. "Aku tidak mempercayainya. Dia muncul begitu saja dari luar galaksi. Kita bahkan tidak tahu siapa sebenarnya dia."
Zero dan Lira tidak ikut berbicara. Namun mereka memahami kekhawatiran Rea. Kedatangan Xyros memang terlalu mendadak. Dan kekuatannya juga sulit diperkirakan.
Tyrannons hanya mengangguk kecil. "Aku tahu. Tapi aku tidak merasakan niat buruk darinya."
Rea mengernyit. "Itu saja alasannya?"
Tyrannons menatap Xyros. Armor air kosmik yang dikenakan pria itu masih memancarkan energi yang sangat besar. Bahkan seorang petarung berpengalaman seperti dirinya bisa merasakan betapa kuatnya tamu tersebut. "Mungkin dia sangat kuat. Bahkan jauh lebih kuat dari yang terlihat. Tapi dia tidak datang untuk bertarung. Setidaknya bukan sekarang."
Xyros tersenyum kecil mendengar itu. "Terima kasih atas kepercayaannya." Lalu ia memandang ke arah yang telah ditunjukkan Tyrannons. "Jadi di sana letak Urco Tastarius... Jauh juga," gumamnya.
---
Ketika hendak melangkah pergi. Xyros tiba-tiba berhenti. Matanya kembali menatap Tyrannons. Beberapa detik berlalu. Seolah ia baru menyadari sesuatu.
"Hm?" Xyros menyipitkan mata. "Aku baru sadar."
Semua orang menoleh kepadanya. Xyros menunjuk Tyrannons. "Kau memiliki energi yang mirip dengan Oreons."
Kalimat itu membuat Rea langsung waspada. Sementara Tyrannons hanya diam.
Xyros tampak berpikir. Kemudian matanya sedikit membesar. "Oh... Jadi kau pewaris kekaisaran itu?"
Jester mengangkat alis. Lira langsung menatap Tyrannons. Sedangkan Rea terlihat semakin tidak nyaman dengan arah pembicaraan tersebut.
Tyrannons tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Sebaliknya ia melipat kedua tangannya. "Itu masa lalu," jawabnya singkat.
Xyros tertawa. "Begitu rupanya. Tidak heran auranya terasa mirip." Meski begitu. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dirinya bisa merasakan bahwa itu bukan topik yang ingin dibahas Tyrannons.
---
Akhirnya Tyrannons menunjuk ke langit. "Kalau tujuanmu sudah jelas. Pergilah sekarang. Sebelum aku berubah pikiran."
Xyros langsung mengangkat kedua tangannya. "Tidak perlu mengusirku dua kali," katanya santai. "Aku tidak tertarik ikut campur urusan pemberontakan atau politik galaksi. Itu bukan urusanku."
Rea masih menatap curiga. Tetapi Xyros benar-benar tidak terlihat memiliki niat lain.
Setelah itu. Aura air kosmik mulai berkumpul di sekitar tubuhnya. Lautan energi biru berputar membentuk pusaran besar. Angin kencang menyapu area kawah. Bahkan beberapa batu besar terangkat dari tanah.
Xyros menggenggam tombaknya. Lalu menoleh untuk terakhir kalinya. "Terima kasih atas petunjuknya. Tyrannons Galactive."
Kemudian —
*BOOOOM!! *
Tanah langsung retak. Xyros melompat tinggi ke langit. Kecepatannya begitu luar biasa hingga menciptakan gelombang kejut yang mengguncang kawasan sekitar. Dalam hitungan detik. Tubuhnya berubah menjadi cahaya biru terang. Perisai energi tebal menyelimuti dirinya. Lapisan itu tampak hampir sama seperti meteor raksasa yang sebelumnya menghantam Ursa Major.
Hanya saja kali ini semua orang tahu bahwa di dalam "meteor" tersebut terdapat seorang pejuang. Cahaya itu melesat menembus ruang angkasa. Semakin cepat. Semakin jauh. Hingga akhirnya menghilang di antara lautan bintang.
---
Rea menghela napas panjang. "Aku tetap tidak menyukainya," katanya.
Jester tertawa kecil. "Setidaknya dia tidak menghancurkan istana."
Tyrannons tetap memandangi arah kepergian Xyros. Ia merasa kedatangan pria itu bukan kebetulan. Makhluk dari luar galaksi tidak mungkin datang sejauh itu hanya untuk urusan sepele.
