Perjalanan menuju Ursa Major berlangsung tenang. Ginga Stars melaju membelah ruang angkasa dengan energi Antares yang masih berdenyut kuat di dalam intinya. Storm dan Arabels masih berada di ruang observasi. Sementara Proxi mengendalikan seluruh sistem navigasi.
Ketenangan itu tidak berlangsung lama.
*BEEP! BEEP! BEEP! *
Alarm deteksi mendadak berbunyi. Proxi langsung menoleh ke layar utama. Ratusan titik cahaya bermunculan. Kemudian ribuan. Lalu puluhan ribu.
Wajah hologram Proxi berubah serius. "Kontak tidak dikenal terdeteksi. Jumlah armada meningkat. Perkiraan —" Beberapa layar langsung dipenuhi data. "— jumlah armada sangat besar."
Storm dan Arabels segera berlari menuju ruang pilot. Saat mereka melihat layar utama, keduanya ikut terkejut.
Di berbagai sisi ruang angkasa. Armada-armada raksasa mulai bermunculan. Kapal perang berukuran kilometer. Benteng luar angkasa. Kapal induk. Dan berbagai kapal tempur yang membentuk formasi luar biasa besar. Mereka mengelilingi Ginga Stars dari berbagai arah.
Proxi langsung mengaktifkan sistem tempur. "Ancaman terdeteksi. Memulai persiapan serangan." Energi mulai mengalir ke berbagai senjata Ginga Stars.
Sebelum sistem tempur aktif sepenuhnya — Storm langsung menekan panel kendali. "Tunggu."
Arabels juga mengangguk. "Jangan menyerang."
Proxi sedikit bingung. "Tapi mereka mengelilingi kita."
Storm menyipitkan mata. "Aku mengenali salah satu simbol armada itu."
Di salah satu kapal terbesar. Terlihat lambang konstelasi Orion.
---
Tidak lama kemudian. Sebuah layar hologram muncul di depan mereka. Sosok seorang pria muda muncul di layar. Rambutnya berwarna perak kehitaman. Tatapannya tenang. Dan di balik dirinya terlihat jembatan komando kapal perang yang sangat megah.
Pemuda itu tersenyum tipis. "Akhirnya kita bisa berbicara langsung."
Storm memperhatikannya. Sementara Arabels bersiaga.
Pria itu mengangguk. "Perkenalkan. Aku Astralon Volta. Pangeran Kerajaan Betelgeuse. Konstelasi Orion."
Storm dan Arabels saling berpandangan. Nama itu tidak asing. Mereka pernah mendengarnya dari berbagai laporan perang.
Astralon melanjutkan. "Sekaligus salah satu pemimpin armada Tartanos." Ia mengangkat tangannya sedikit. Di belakangnya muncul peta hologram galaksi. Terlihat berbagai wilayah yang saat ini berada dalam konflik.
"Aku tidak sendirian," katanya. "Ada Rea Yellowgrid. Putri Kerajaan VV Cephei. Pemimpin Armada Cepheus."
Lalu muncul gambar lain. Seorang gadis berambut putih keemasan yang sedang berdiri di ruang komando kapal perang.
Astralon tersenyum kecil. "Dan tentu saja. Orang yang menyatukan kami." Layar berikutnya menampilkan Tyrannons. Sosok yang sudah cukup dikenal di berbagai penjuru galaksi.
"Tyrannons Galactive. Pewaris Kekaisaran. Yang memilih meninggalkan takdirnya. Dan membentuk pasukan pemberontak Tartanos."
Suasana di dalam Ginga Stars menjadi hening.
Storm menyilangkan tangan. "Aku pernah mendengar namanya."
Astralon mengangguk. "Sebagian besar galaksi juga begitu." Tatapannya berubah sedikit lebih serius. "Namun aku tidak menghubungimu untuk membicarakan masa lalu." Ia melihat langsung ke arah Storm. "Aku memperhatikan pertarunganmu di Antares. Aku melihat bagaimana kau menghadapi Scorpios. Cancer. Pisces. Bahkan setelah semua yang terjadi."
Storm menghela napas. "Jadi kalian mengawasi kami selama ini."
Astralon mengangguk. "Aku lebih suka menyebutnya mengamati."
Arabels mengangkat alis. "Itu tetap terdengar mencurigakan."
Astralon tidak membantah. Sebaliknya ia tersenyum santai. "Aku hanya ingin memastikan bahwa rumor tentang Mecha raksasa benar. Dan ternyata — rumor itu jauh lebih kecil dibanding kenyataannya."
---
Untuk sesaat. Tidak ada yang berbicara.
Lalu Astralon menatap hamparan bintang di luar jendelanya. Ekspresinya menjadi lebih tenang.
"Kalau boleh jujur — aku tidak yakin kami bisa menang."
Storm sedikit terkejut mendengar itu. Pengakuan seperti itu jarang keluar dari seorang pemimpin.
Astralon tersenyum tipis. "Kekaisaran terlalu besar. Terlalu kuat. Mereka memiliki Kaisar Oreons. Mereka memiliki Rangers. Belum lagi armada yang jumlahnya hampir tidak ada habisnya." Ia menghela napas. "Kadang aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah semua ini akan berhasil? Tapi setiap kali aku melihat apa yang dilakukan kekaisaran —" Matanya kembali tajam. "— aku tahu satu hal. Berdiri melawan mereka adalah pilihan yang benar."
Suasana menjadi lebih serius.
Astralon menatap ke atas sekali lagi. "Pejuang sejati tidak selalu bertarung karena yakin akan menang. Kadang mereka bertarung karena tahu itu adalah hal yang harus dilakukan."
Storm terdiam. Ia memahami maksud kata-kata itu. Jauh di dalam dirinya. Ia juga sering memilih jalan yang mustahil. Bukan karena yakin akan berhasil. Tetapi karena tidak ada pilihan lain yang ingin ia ambil.
Astralon tersenyum tipis. "Dan itulah alasan kami masih berdiri sampai sekarang."
---
Di luar sana. Ribuan kapal Armada Orion tetap mengawal Ginga Stars. Sementara di kejauhan. Konstelasi Ursa Major perlahan mulai terlihat.
