Ficool

Chapter 721 - Kerinduan di Tengah Bintang

Di antara lautan kosmik yang luas. Ginga Stars melaju menembus ruang angkasa. Energi Antares yang tersimpan di dalam inti mecha membuat perjalanan mereka jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.

Di luar. Hamparan bintang membentang tanpa akhir. Nebula-nebula berwarna indah tampak seperti lukisan raksasa yang menghiasi kegelapan semesta.

Sementara itu. Di salah satu ruang observasi Ginga Stars. Storm duduk bersandar di dekat jendela transparan yang menghadap langsung ke luar angkasa. Di sampingnya. Arabels sedang membaca sebuah buku. Halaman demi halaman ia balik dengan tenang. Suasana terasa damai. Sangat berbeda dibandingkan pertarungan yang baru saja mereka lalui di Antares.

Storm memandangi bintang-bintang di luar. Lalu tersenyum kecil.

Arabels yang menyadarinya menoleh. "Ada apa Storm?" tanyanya.

Storm terdiam beberapa saat. "Entahlah," katanya pelan. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

Arabels menutup bukunya.

Storm kembali menatap lautan bintang. "Lagipula — aku sebenarnya merindukan Bumi."

Arabels sedikit terkejut. Storm jarang membicarakan hal itu. Selama ini. Storm selalu terlihat bersemangat menjelajahi galaksi. Seolah tidak pernah memikirkan rumah. Tetapi kali ini berbeda.

Storm tersenyum tipis. "Kadang aku teringat langit malam di sana. Tidak sebesar ini. Tidak semegah ini. Tapi tetap terasa berbeda."

Arabels mendengarkan dalam diam.

Storm melanjutkan. "Aku merindukan tempat asal kita. Tapi — aku memilih jalan ini. Menjelajahi semesta. Menjadi lebih kuat. Mencari hal-hal yang bahkan belum pernah dilihat manusia." Storm tertawa kecil. "Mungkin karena itu aku harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu."

Arabels terdiam. Lalu perlahan menundukkan kepala.

Storm segera menyadarinya. "Arabels?"

Gadis itu menggenggam bukunya sedikit lebih erat. "Aku juga merindukan seseorang," katanya pelan.

Storm tidak perlu bertanya. Ia sudah tahu jawabannya.

"Apa ayahmu?"

Arabels mengangguk. Ayahnya. Robert Everyn Krysren. Salah satu tokoh penting di Kota H2700. Orang yang selama ini membesarkannya. Orang yang selalu mengkhawatirkannya. Dan orang yang mungkin saat ini tidak tahu putrinya sedang berada sejauh ini dari Bumi.

"Ayah pasti marah kalau tahu aku melakukan semua ini," ucap Arabels sambil tersenyum lemah.

Storm ikut tersenyum. "Itu terdengar seperti sesuatu yang akan dilakukan ayahmu."

Arabels tertawa kecil. Namun matanya tetap terlihat sedih. Kerinduan memang tidak mudah dihilangkan. Terutama ketika rumah berada begitu jauh. Jauh melampaui ribuan sistem bintang.

Storm menatap Arabels beberapa saat. Lalu tanpa banyak bicara. Ia merangkul gadis itu.

Arabels sedikit terkejut. Namun tidak menolak.

Storm memandang keluar jendela. "Kita masih bisa kembali," katanya tenang. "Bumi tidak akan pergi ke mana-mana. Kota H2700 juga tidak akan hilang begitu saja."

Arabels mendengarkan.

Storm tersenyum. "Tapi bukan sekarang." Masih ada terlalu banyak hal yang harus mereka lakukan. Masih ada terlalu banyak misteri yang belum terpecahkan. Terlalu banyak musuh. Terlalu banyak perjalanan. Dan terlalu banyak alasan untuk terus maju.

"Suatu hari nanti," kata Storm. "Kita akan pulang."

Arabels menatapnya. Lalu mengangguk pelan. "Ya."

Perasaan di hatinya terasa lebih ringan.

---

Sementara itu. Di ruang pilot utama —

Proxi R-10 sedang mengendalikan Ginga Stars. Layar-layar hologram memenuhi sekelilingnya. Jalur menuju Ursa Major terus dihitung dan diperbarui.

Namun sesekali. Sensor audionya menangkap percakapan dari ruang observasi. Proxi sebenarnya tidak berniat mendengarkan. Tetapi sistemnya tetap menerima suara-suara tersebut. Ia mendengar pembicaraan tentang rumah. Tentang kerinduan. Tentang keluarga.

Robot itu terdiam. Prosesornya memproses berbagai data. Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana. Apa itu perasaan? Mengapa manusia bisa merindukan tempat yang jauh? Mengapa mereka tetap memikirkan seseorang meski berada di ujung galaksi? Dan mengapa hal itu terlihat begitu penting bagi mereka?

Proxi mencoba mencari jawaban. Tetapi tidak menemukan hasil yang memuaskan. Semua data yang dimilikinya tidak mampu menjelaskan perasaan secara sempurna.

Akhirnya ia menggelengkan kepala. "Tidak efisien," gumamnya. Meski begitu. Pertanyaan itu tetap tersimpan di dalam memorinya.

More Chapters