Ficool

Chapter 719 - Menuju Ursa Major

Di dekat Antares. Keheningan masih menyelimuti ruang angkasa. Dragenes Cosmisor telah pergi. Velora Zynira juga sudah kembali menghilang ke dalam alam bawah sadar Storm.

Beberapa saat — tidak ada seorang pun yang berbicara.

Storm perlahan membuka matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu melihat sekeliling. "...Aku pingsan lagi?" gumamnya. Ia mengingat sebagian kejadian yang baru saja terjadi. Namun hanya samar-samar. Seperti mimpi yang hampir terlupakan.

Yang membuatnya lebih terkejut adalah keadaan di depannya. Scorpios. Cancer. Dan Pisces. Tidak satu pun dari mereka menunjukkan niat menyerang. Bahkan Scorpios masih berdiri diam. Tatapannya jauh berbeda dari sebelumnya.

Storm mengangkat alis. "Kenapa dengan mereka?" Biasanya Zodiac itu sudah menyerangnya sejak beberapa detik lalu. Namun sekarang — Scorpios bahkan tidak bergerak.

Di dalam benaknya masih teringat tatapan Velora. Tatapan yang membuat seluruh nalurinya berteriak. Tekanan yang ia rasakan saat itu hampir tidak bisa dijelaskan. Jika dirinya bukan Sacred Zodiac — mungkin keberadaannya sudah musnah hanya karena berada terlalu dekat.

Pisces menatap Storm cukup lama. Lalu tersenyum tipis. "Dia benar-benar manusia yang aneh," ucapnya.

Cancer mengangguk setuju. Meski masih terlihat sedikit tegang.

Storm hanya mengangkat bahu. Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan apa pun. Dirinya sendiri belum tentu mengerti sepenuhnya.

Tak lama kemudian. Armor Skycrimson menghilang. Storm berbalik. Dan terbang menuju Ginga Stars.

---

Sementara itu. Di dalam kokpit —

Arabels terus berjalan mondar-mandir. Ia sudah menunggu cukup lama. Ketika pintu kokpit akhirnya terbuka — Arabels langsung berlari.

"Storm!"

Tanpa memberi kesempatan Storm berbicara. Ia langsung memeluknya erat. Storm bahkan hampir kehilangan keseimbangan.

"Hei, hei," katanya. "Aku baik-baik saja."

Arabels tidak langsung melepaskannya. Bagi dirinya. Pertarungan tadi terasa sangat panjang. Meski dari luar terlihat singkat. Perbedaan waktu di wilayah ruang angkasa sekitar Antares membuat segalanya terasa berbeda. Beberapa jam yang berlalu di sana terasa seperti waktu yang jauh lebih lama. Dan selama itu pula. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Storm.

Akhirnya Arabels melepaskan pelukannya. Meski wajahnya masih terlihat lega. Storm tersenyum kecil. Lalu mengusap kepalanya pelan.

Sementara itu. Proxi R-10 berdehem keras. "Kalau momen emosional kalian sudah selesai — kita punya pekerjaan."

Storm dan Arabels langsung menoleh. Proxi berdiri di depan panel utama. Berbagai data terus bergerak di layar. "Kita tidak bisa berlama-lama di sini," katanya. "Ada banyak hal yang harus dilaporkan."

Storm mengangguk. "Apa laporannya ke Aryes?"

"Tepat sekali," jawab Proxi. Robot itu menunjuk layar hologram yang dipenuhi notifikasi kesalahan sistem. "Sistem komunikasi jarak jauh Ginga Stars rusak saat proses penyerapan Antares. Kita tidak bisa mengirim laporan apa pun. Dan Aryes kemungkinan besar sedang kebingungan mencari tahu apa yang terjadi pada kita."

Storm tertawa kecil. "Itu memang terdengar seperti dia."

Arabels juga mengangguk. Mereka sudah terlalu lama tidak menghubungi markas.

---

Proxi segera mengubah koordinat tujuan. Tujuan baru muncul di layar utama. Konstelasi Ursa Major.

Mesin Ginga Stars mulai aktif. Energi Antares yang kini memenuhi tubuh mecha raksasa itu berdenyut seperti jantung bintang. Untuk pertama kalinya. Cadangan energi mereka tidak lagi menjadi masalah. Bahkan angka pada layar terus meningkat hingga membuat beberapa sistem harus menyesuaikan diri dengan energi baru tersebut.

Ginga Stars perlahan berbalik arah. Lalu mulai meninggalkan wilayah Antares.

---

Tak jauh dari sana. Armada Orion juga mulai bergerak. Astralon berdiri di kapal komando miliknya. Tatapannya mengikuti Ginga Stars.

"Mereka pergi," gumam salah satu perwira Orion.

Astralon hanya tersenyum tipis. "Ikuti mereka," perintahnya.

Seluruh armada Orion langsung bergerak. Ribuan kapal perang mulai meninggalkan konstelasi Scorpio. Menuju Ursa Major.

---

Di belakang mereka —

Scorpios masih berdiri diam. Cancer berada di sampingnya. Sementara Pisces memperhatikan cahaya Ginga Stars yang semakin menjauh. Untuk beberapa saat. Tak ada yang berbicara.

Lalu Pisces tersenyum kecil. "Aku rasa mereka akan menyebabkan banyak masalah lagi," katanya.

Cancer tertawa pelan. "Itu sudah pasti."

Scorpios memandang ke arah kejauhan. Ke arah mecha raksasa yang perlahan menghilang dari pandangan. Ia tidak merasakan kemarahan. Tidak juga permusuhan. Hanya rasa penasaran. Dan rasa hormat.

"Kalau kita bertemu lagi — aku harap bukan sebagai musuh," gumam Scorpios.

Pisces mengangguk. Cancer juga setuju.

Setelah apa yang mereka lihat hari ini — mereka tahu satu hal. Storm. Arabels. Proxi. Dan Ginga Stars. Bukan lagi sekadar pengembara biasa. Mereka telah menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang mungkin akan menentukan masa depan semesta itu sendiri.

More Chapters