Ficool

Chapter 702 - Antares

Di Konstelasi Scorpio. Di pusat sistem bintang Antares. Sebuah pengejaran besar masih berlangsung.

Ginga Stars melesat menembus ruang angkasa. Mesin pendorongnya memancarkan cahaya biru yang semakin tidak stabil. Lampu peringatan di berbagai panel kokpit terus berkedip. Cadangan energi mereka sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Namun mereka masih terus bergerak. Menuju satu tujuan. Bintang Antares.

Di belakang mereka. Scorpios mengejar tanpa henti. Tubuh raksasa Sacred Zodiac itu melesat seperti komet hidup. Ekornya menyapu ruang angkasa. Meninggalkan jejak energi biru gelap yang menggetarkan medan gravitasi di sekitarnya.

"Kalian tidak akan sampai ke sana!" raung Scorpios.

*WHOOOOSH!! *

Salah satu capit energinya menghantam kehampaan ruang. Gelombang serangan langsung melesat menuju Ginga Stars.

"Serangan dari belakang!" teriak Proxi.

Storm langsung memutar kendali. Ginga Stars berputar tajam.

*BOOOOM!! *

Serangan Scorpios melintas hanya beberapa meter dari bahu mecha raksasa itu. Ledakannya menghancurkan gugusan asteroid yang berada di jalurnya.

Arabels menelan ludah. "Itu nyaris mengenai kita!"

Storm tidak menjawab. Tatapannya tetap fokus pada jalur menuju Antares. Karena satu kesalahan kecil saja bisa mengakhiri semuanya.

---

Sementara itu. Antares semakin membesar di layar depan. Bintang merah raksasa tersebut tampak seperti lautan api kosmik yang tak berujung. Lidah-lidah plasma raksasa terus meletus dari permukaannya. Setiap letusan cukup kuat untuk menghancurkan armada perang biasa. Dan mereka sedang menuju tepat ke arahnya.

Arabels masih sulit mempercayainya. "Kita benar-benar akan melakukan ini..." gumamnya.

Storm tersenyum tipis. "Tentu saja."

"Apa kamu yakin Storm?!" Arabels menunjuk layar. "Itu bukan baterai. Itu bukan reaktor. Itu bintang! Bintang sungguhan!"

Storm tetap terlihat santai. "Aku tahu. Itulah alasannya."

Arabels memegangi kepalanya. Setiap kali Storm mengatakan sesuatu seperti itu — biasanya situasi akan menjadi jauh lebih berbahaya.

---

Di sisi lain kokpit. Proxi R-10 terus menganalisis data. Ribuan baris informasi memenuhi layar holografiknya.

"Tingkat ancaman meningkat," lapornya. "Scorpios terus meningkatkan kecepatan. Jarak tinggal dua ribu kilometer. Seribu delapan ratus. Seribu lima ratus."

Arabels langsung menoleh. "Dia makin dekat!"

"Ya," jawab Proxi. "Dan berdasarkan analisis perilakunya — dia benar-benar tidak berniat membiarkan kita mendekati Antares."

Storm tersenyum. "Itu sudah jelas." Jika seseorang tiba-tiba datang ke rumahnya lalu mencoba menyerap energi matahari utama wilayahnya — ia juga akan marah.

---

Di luar. Scorpios kembali menyerang.

*WHOOMMMM!! *

Ekor raksasanya menghantam ruang angkasa. Gelombang energi biru gelap melesat. Storm segera menggerakkan kendali. Ginga Stars berputar. Miring. Lalu menukik.

Ledakan kembali mengguncang ruang di belakang mereka. Namun kali ini beberapa pecahan energi berhasil mengenai perisai mecha.

*BZZZZT!! *

Alarm langsung berbunyi. "Perisai turun menjadi tiga puluh tujuh persen," lapor Proxi.

Arabels semakin tegang. "Kita tidak akan bertahan lama seperti ini."

"Benar," jawab Proxi. "Karena itu kita harus mencapai Antares sebelum Scorpios menghancurkan kita."

Kalimat itu sama sekali tidak membuat Arabels merasa lebih baik.

---

Di layar depan. Antares kini memenuhi sebagian besar pandangan mereka. Panas luar biasa mulai memengaruhi sensor eksternal. Beberapa sistem pendingin mulai bekerja melebihi kapasitas normal.

Storm terlihat semakin fokus. Karena tujuan mereka sudah sangat dekat.

Di luar kokpit. Scorpios akhirnya menyadari sesuatu. Mereka tidak berusaha melarikan diri. Mereka benar-benar menuju Antares. Dan firasat buruk yang sejak tadi mengganggunya semakin kuat.

"Sial..." gumam Scorpios. Meskipun belum mengetahui rencana lengkap manusia itu. Instingnya terus berteriak. Hentikan mereka. Sekarang juga. Jika Ginga Stars benar-benar berhasil melakukan sesuatu pada Antares — maka hasilnya mungkin akan menjadi salah satu peristiwa paling berbahaya yang pernah terjadi di Konstelasi Scorpio.

---

Sementara itu. Di dalam kokpit. Proxi akhirnya mengangkat kepalanya dari layar analisis.

"Tuan Storm."

"Apa?"

Robot itu terdiam sesaat. Lalu menjawab. "Kita sudah memasuki zona gravitasi utama Antares. Jika kita benar-benar ingin menjalankan rencana itu — maka tidak ada jalan kembali setelah ini."

Hening sejenak. Arabels menatap Storm. Menunggu jawabannya.

Sementara di luar. Scorpios kembali mempercepat kecepatannya. Dan di hadapan mereka. Lautan api merah Antares menunggu.

Storm perlahan tersenyum. Lalu menggenggam kendali Ginga Stars lebih erat.

"Kalau begitu — mari kita lihat apakah teori itu berhasil."

More Chapters