Lorong istana terasa semakin sunyi saat Rangers berjalan menuju area dalam. Aura emas samar mengelilingi tubuhnya. Setiap langkah armor perangnya menggema berat di lantai logam istana.
Tak lama kemudian — ia akhirnya tiba di dapur utama kekaisaran.
Suasana di sana kacau. Beberapa pelayan terlihat panik mengelilingi seseorang yang terbaring di lantai.
"Itu tidak berhasil!" "Cepat bangunkan Nona Yllarxa!" "Kita akan dihukum kalau Yang Mulia tahu!"
Suara mereka dipenuhi ketakutan. Karena semua orang di istana tahu — Oreons sangat mempercayai Yllarxa. Dan jika sesuatu terjadi padanya — kemarahan Oreons bisa menjadi bencana.
---
Di tengah kepanikan itu — suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang. "…Jadi dia ada di sini."
Seluruh pelayan langsung membeku. Mereka perlahan menoleh. Dan wajah mereka langsung pucat.
Rangers berdiri di pintu dapur dengan tatapan tajam. Beberapa pelayan hampir jatuh ketakutan. "J-Jenderal Rangers?!"
Mereka awalnya lega karena mengira Oreons belum mengetahui situasi ini. Namun ternyata — orang yang datang justru jauh lebih menegangkan.
Rangers berjalan mendekati Yllarxa yang masih tidak sadarkan diri. Tatapannya langsung berubah serius.
Para pelayan buru-buru menunduk. "Kami tidak tahu apa yang terjadi!" "Tiba-tiba saja Nona Yllarxa pingsan!"
---
Rangers mengangkat tangannya pelan. "Tenang. Tidak perlu panik." Suaranya tetap tenang — namun justru terasa lebih menekan.
Ia perlahan berlutut di dekat Yllarxa. Lalu menyentuh pelipis gadis itu beberapa detik. Aura emas tipis menyala. Mata Rangers sedikit menyipit.
"…Begitu." Ia perlahan berdiri kembali. Tatapannya berubah tajam.
"Ini bukan serangan fisik."
Seluruh pelayan langsung bingung.
Rangers menatap pecahan gelas di lantai. Lalu area sekitar yang masih memiliki sisa gangguan energi kecil. "Kesadarannya diputus menggunakan serangan data. Seolah ada AI… atau robot yang melakukannya."
Suasana dapur langsung membeku. Itu berarti — ada penyusup teknologi di dalam istana kekaisaran. Dan itu bukan ancaman biasa.
Aura Rangers mulai berubah jauh lebih berat. Tatapannya perlahan mengarah ke lorong sunyi di kejauhan.
"…Jadi benar. Ada penyusup di istana ini."
