Di jalur luar konstelasi Orion — puluhan kapal perang raksasa melaju menembus ruang angkasa. Cahaya mesin hyperspace mereka membelah gelapnya galaksi seperti hujan meteor biru. Itulah armada Orion. Pasukan utama yang dipimpin langsung oleh Astralon.
Di kapal komando terbesar — Astralon berdiri tenang sambil menatap hamparan bintang di depan jendela ruang kendali. Armor panjangnya memantulkan cahaya kosmik samar.
Meski dikenal sebagai pangeran dari Betelgeuse — Astralon tidak pernah benar-benar berdiri di pihak kekaisaran. Karena hampir seluruh wilayah Orion telah lama berada di bawah kendali Kekaisaran Galaksi. Planet-planet dijadikan wilayah militer. Rakyat dipaksa tunduk. Dan kebebasan perlahan menghilang.
Astralon muak melihat semua itu. Karena itulah — ia memilih mengangkat senjata melawan kekaisaran.
---
Seorang prajurit berjalan mendekat lalu membungkuk hormat. "Tuan Astralon. Seluruh armada siap menerima perintah."
Astralon tetap menatap luar angkasa. Lalu perlahan berkata — "Ubah jalur."
Prajurit itu sedikit terkejut. "…Tujuan kita bukan Ursa Major?"
Astralon tersenyum tipis kecil. "Bukan untuk sekarang." Tatapannya perlahan berubah serius. "…Kita menuju Scorpio."
Beberapa awak kapal langsung saling menoleh. Konstelasi Scorpio saat ini dipenuhi gangguan radar dan fenomena aneh. Tidak ada data jelas tentang apa yang terjadi di sana.
Namun justru itu yang membuat Astralon tertarik. Ia masih mengingat cahaya samar yang terlihat dari Hydra sebelumnya. Cahaya yang terasa berbeda dari ledakan biasa. Seolah sesuatu sedang bangkit di Scorpio.
Astralon menyilangkan tangan. "Aku ingin melihat sendiri apa yang sedang bergerak di sana."
Perintah segera dikirim ke seluruh armada. Satu per satu kapal perang Orion mulai mengubah arah. Mesin hyperspace mereka menyala lebih terang.
