Dataran Risveyland dipenuhi debu dan retakan.
Angin berputar membawa sisa energi dari benturan sebelumnya.
Di tengahnya, Storm berdiri dengan napas berat.
Gerakannya mulai melambat.
Auranya tidak sekuat sebelumnya.
Dan itu...
Tidak luput dari perhatian.
Rizen Krystoren menyipitkan matanya.
"Akhirnya terlihat juga."
Ia melangkah maju perlahan.
Aura di sekitarnya mulai berubah.
Lebih padat.
Lebih berat.
Lgris yang berdiri di sisi lain langsung menyadarinya.
"Kau akan menggunakannya?"
Rizen tersenyum tipis.
"Ini kesempatan bagus untuk melemahkannya."
Ia mengangkat tangannya.
Energi berbentuk geometris mulai muncul di sekitarnya.
Garis-garis cahaya membentuk sudut.
Bidang.
Ruang.
Sesuatu yang tidak alami.
Storm melihat ke arahnya.
Matanya menyipit.
"Domain?"
Rizen tidak menjawab.
Namun senyumnya cukup menjelaskan.
"Supercube."
Dalam sekejap...
WHOOOOOM!!!
Ruang di sekitar Storm berubah.
Garis-garis cahaya muncul dari segala arah.
Membentuk dinding transparan.
Sisi-sisi tajam seperti kubus raksasa mulai menutup.
Storm langsung bergerak.
Namun...
Terlambat.
CRAAAAACK!!
Kubus itu menutup sempurna.
Mengurung Storm di dalamnya.
Di luar, Rizen menurunkan tangannya perlahan.
"Sudah masuk."
Lgris melihat kubus itu dengan serius.
Permukaannya terlihat transparan.
Namun aura di dalamnya terasa berbeda.
Berat.
Menekan.
---
Di dalam Domain Supercube
Storm berdiri di tengah ruang kosong.
Tidak ada tanah.
Tidak ada langit.
Hanya ruang berbentuk kubus tak berujung.
Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa berat.
Energinya...
Terasa ditekan.
Storm mengernyit.
"Dimensi ini membatasi kekuatanku."
Suara Rizen terdengar dari segala arah.
"Benar."
Gema suaranya memenuhi seluruh dimensi.
"Di sini…"
"Aku adalah pengendalinya."
Garis-garis cahaya di dinding kubus mulai bergerak.
Seolah hidup.
Menyesuaikan diri.
Mengunci setiap kemungkinan gerakan.
Rizen melanjutkan.
"Kekuatanmu akan terus ditekan."
"Semakin lama kau di sini…"
"Semakin lemah kau jadinya."
Storm mengepalkan tangannya.
Ia mencoba memanggil kekuatannya.
Namun responsnya lebih lambat.
Ia mendecih pelan.
"Menyebalkan sekali."
---
Di luar Domain
Rizen menyilangkan tangannya.
Ekspresinya tenang.
"Sekarang…"
Ia menatap kubus itu.
"Kau tidak punya kecepatan lagi untuk kabur dari dimensi buatanku."
