Dataran luas Risveyland kembali bergetar.
Angin berputar liar.
Tanah retak di berbagai titik.
Di tengah medan, Storm berdiri dengan Armor Scarlet Skycrimson yang menyala merah.
Di hadapannya, para pahlawan APH mulai bergerak.
Tidak ada lagi kata-kata.
Tidak ada lagi penahanan.
Pertarungan dimulai.
WHOOOM!
Terminator Demon melesat lebih dulu.
Tubuh logam hitamnya menghantam udara seperti peluru.
Tinju raksasanya langsung diarahkan ke Storm.
Tekanan dari serangan itu menghancurkan tanah di bawahnya.
Namun...
Storm tidak menghindar kali ini.
Ia justru maju.
Matanya tajam.
Tinju kanannya ditarik ke belakang.
Energi merah terkumpul.
Dalam sepersekian detik, keduanya bertabrakan.
BOOOOOOM!!!
Benturan dahsyat mengguncang seluruh Risveyland.
Gelombang kejut menyebar ke segala arah.
Namun...
Di tengah ledakan itu, hanya satu yang tetap berdiri: Storm.
Dan di depannya, tubuh Terminator Demon terlihat retak.
Storm berbicara pelan.
"Tinjunya terlalu berat."
Lalu, dengan satu gerakan cepat—
BLAAARRR!!!
Storm menghantamnya.
Tinju penuh kekuatan langsung mengenai tubuh logam itu.
Tubuh Terminator Demon terpental.
Menembus udara.
Menembus awan.
Terus melesat tanpa henti.
Menuju jauh.
Sangat jauh.
Hingga akhirnya...
Kutub utara.
CRAAAAASH!!!
Tubuhnya menghantam lapisan es dengan kekuatan luar biasa, menciptakan kawah besar di tengah es beku.
---
Kembali ke Risveyland.
Beberapa pahlawan terdiam sesaat.
Rizen mengangkat alis.
"Dia melemparnya sejauh itu?"
Namun tidak ada waktu untuk terkejut.
WHOOOSH!
Rizen langsung bergerak.
Tekanan ruang di sekitarnya meningkat drastis.
Udara menjadi berat.
Tanah di sekitar Storm mulai retak.
Rizen mengangkat tangannya.
"Coba tahan serangan ini."
Tekanan itu langsung menghimpit Storm dari segala arah.
Namun di saat yang sama, Lgris juga bergerak.
Ia mengangkat tangannya ke langit.
"Jangan beri dia celah sedikit pun."
Langit langsung berubah dingin.
Ribuan tombak es terbentuk di udara, mengarah ke Storm.
"Jatuhlah."
SHHHHHRRRR!!!
Hujan es turun dengan kecepatan tinggi.
Serangan dari dua arah: tekanan ruang dan serangan es mematikan.
Namun...
Di tengah itu semua, Storm tetap berdiri.
Matanya menatap ke atas, lalu ke arah Rizen.
Aura merah di tubuhnya kembali meningkat.
Tanah di bawah kakinya mulai retak lebih dalam.
Ia mengepalkan tangannya.
"Mari kita lanjutkan."
WHOOOOOSH!!!
Storm langsung melesat.
Menghadapi dua pahlawan sekaligus, tanpa keraguan.
