Ficool

Chapter 459 - Lawan yang Tidak Bisa Hancur

Di dalam Domain Deathrays—

Kabut gelap terus bergerak di antara tulang-tulang raksasa yang berserakan di tanah.

Beberapa monster hasil eksperimen gagal menggeram di kejauhan, namun tidak berani mendekat ke pusat pertarungan.

Di sana—

Storm dan Deathrays masih bertarung dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.

BLARR!

Tinju Storm menghantam dada Deathrays dengan kekuatan penuh.

Tubuh Deathrays terpental jauh hingga menghancurkan tumpukan tulang monster di belakangnya.

Namun—

Beberapa detik kemudian—

Deathrays berdiri lagi.

Tubuhnya yang tadi retak mulai menyatu kembali.

Daging dan energi gelap di tubuhnya bergerak seperti hidup: Regenerasi.

Storm menatapnya dengan wajah kesal.

"Lagi lagi dia berenegerasi?"

Deathrays menggerakkan bahunya santai.

Retakan di tubuhnya sudah hilang sepenuhnya.

"Aku sudah bilang."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Aku tidak akan pernah hancur."

Ia langsung melesat maju.

WHUSH!

Serangan bertubi-tubi menghantam Storm.

BOOM!

CRASH!

BLARR!

Tanah di sekitar mereka retak oleh benturan.

Storm melompat mundur untuk menjaga jarak.

Dadanya naik turun.

Ia melihat tangan Deathrays yang baru saja terkena serangannya tadi.

Tidak ada luka.

Tidak ada bekas.

Storm menggeram pelan.

"Regenerasiya benar-benar gila."

Deathrays berjalan perlahan mendekatinya.

"Tubuhku tidak bisa dihancurkan dengan serangan biasa."

Ia menunjuk Storm.

"Kau tidak punya cara untuk mengalahkanku."

Storm menghela napas panjang.

Ia tahu satu hal.

Jika ini terus berlanjut—

Ia akan kehabisan tenaga lebih dulu.

Storm mencoba memanggil kekuatannya.

Energi dingin mulai muncul di sekitarnya.

"Ice Emperor—"

Namun—

Energi itu langsung pecah dan menghilang.

Storm menyadari sesuatu: Dimensi ini menekan kekuatannya.

Storm mencoba lagi.

"Armor Scarlet Greater—"

Tetapi hasilnya sama.

Energi itu tidak terbentuk sempurna.

Storm mendecih kesal.

"Sial…"

Ia baru menyadari sepenuhnya.

Domain Deathrays membatasi kekuatannya.

Ice Emperor tidak bisa muncul.

Armor Scarlet Greater juga tidak bisa dipanggil.

Sementara itu—

Deathrays berjalan santai seperti tidak terburu-buru.

"Apa sudah menyerah?"

Storm tidak menjawab.

Ia hanya menatap lawannya dengan lebih serius.

Kalau kekuatan besarnya tidak bisa digunakan—

Ia harus menggunakan sesuatu yang masih bisa ia andalkan.

Storm mengatur napasnya.

Tubuhnya sedikit merendah.

Otot-ototnya menegang.

Deathrays memiringkan kepala.

"Apa sekarang yang akan kau lakukan?"

Storm menjawab singkat.

"Kecepatan."

Dalam sekejap—

WHUSH!

Storm menghilang dari tempatnya.

Ia melesat mengitari Deathrays dengan kecepatan luar biasa.

Bayangannya muncul di berbagai arah.

BAM!

BLAST!

CRASH!

Serangan cepat menghantam Deathrays dari berbagai sisi.

Walau tubuhnya terus beregenerasi—

Storm mulai menyerangnya tanpa memberi kesempatan bernapas.

Deathrays sedikit terkejut melihat perubahan itu.

"Kau memilih bertahan rupanya?"

Storm muncul beberapa meter di depannya.

Napasnya masih stabil.

"Selama aku masih bisa bergerak…"

Ia mengepalkan tangannya.

"Aku tidak akan kalah."

More Chapters