Ficool

Chapter 456 - Tantangan di Aula

Aula markas X.A.R.A berubah sunyi.

Tidak ada lagi percakapan para ilmuwan.

Tidak ada lagi diskusi rapat.

Semua orang hanya melihat dua sosok yang kini berdiri saling berhadapan di tengah ruangan: Storm Realms & Deathrays.

Beberapa kursi dan meja di sekitar mereka sudah hancur akibat serangan Storm sebelumnya.

Debu tipis masih melayang di udara.

Napstylea berdiri tidak jauh dari Storm.

Zero dan Lira juga sudah bersiap jika situasi berubah menjadi pertarungan besar.

Jester hanya mengamati sambil memutar kartu Arkananya perlahan di antara jarinya.

Sementara itu—

Deathrays berdiri dengan santai di tengah reruntuhan kursi.

Ia menepuk sedikit debu di jas ilmuwan yang masih ia kenakan.

Lalu ia menatap Storm dengan senyum tipis.

"Sepertinya penyamaranku tidak bertahan lama."

Storm tidak menjawab.

Tatapannya tetap tajam.

Aura kekuatan di sekeliling tubuhnya mulai terasa oleh semua orang di aula.

Deathrays akhirnya berbicara dengan nada santai.

"Aku datang bukan untuk bermain-main."

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Energi gelap mulai muncul di telapak tangannya.

"Storm Realms."

"Menyerahlah."

Beberapa ilmuwan langsung terlihat tegang mendengar kata itu.

Deathrays melanjutkan.

"Ikut saja denganku ke markas APH."

Ia berkata seolah itu keputusan yang sudah pasti.

"Jika kau menurut, semuanya akan selesai dengan mudah."

Namun senyum tipisnya berubah sedikit lebih dingin.

"Jika tidak…"

Energi di tangannya mulai bergetar.

"Aku akan membunuhmu di sini."

Beberapa orang di aula langsung terkejut.

Arabels menatap Storm dengan cemas.

Namun Deathrays terlihat sangat percaya diri.

Ia melanjutkan dengan nada penuh keyakinan.

"Aku tidak pernah kalah."

Ia mengepalkan tangannya.

"Aku juga tidak pernah hancur oleh serangan siapa pun."

Energi di sekeliling tubuhnya semakin terasa kuat.

"Aku sudah menghadapi banyak pertarungan dahsyat."

"Tidak satu pun yang bisa menghancurkanku."

Ia menatap Storm lurus.

"Jadi jangan buang waktuku."

Namun—

Storm justru menghela napas pelan.

Seolah merasa bosan mendengar ancaman itu.

Ia menggaruk sedikit bagian belakang kepalanya.

"Apa kau serius?"

Storm akhirnya menjawab dengan santai.

"Kalimat seperti itu sudah terlalu sering kudengar."

Beberapa orang di aula sedikit terkejut melihat reaksinya.

Storm menatap Deathrays dengan ekspresi datar.

"Aku tidak tertarik pergi ke markas APH."

Deathrays sedikit menyipitkan matanya.

Storm melanjutkan.

"Kalau kau benar-benar ingin menangkapku…"

Ia menunjuk Deathrays dengan jari telunjuknya.

"Datang saja sendiri."

Udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

Storm berkata dengan nada yang lebih dingin.

"Aku malah punya urusan dengan seseorang."

Deathrays mengangkat alis sedikit.

"Siapa dia?"

Storm menjawab tanpa ragu.

"Dooms."

Nama itu membuat beberapa orang di aula saling berpandangan.

Storm mengepalkan tangannya perlahan.

"Orang itu sudah terlalu banyak membuatku repot."

Ia menatap Deathrays tajam.

"Kalau kau benar-benar datang dari APH…"

"Bawa aku menemuinya."

Aura Storm mulai bergetar lebih kuat.

"Karena aku ingin menghajarnya langsung."

Suasana aula semakin tegang.

Storm benar-benar menantang APH secara langsung.

More Chapters