Di tempat lain—
Sebuah ruangan besar yang dipenuhi perangkat energi dan layar hologram berdiri dalam suasana yang sunyi.
Cahaya biru dari berbagai panel teknologi menerangi dinding logam ruangan itu.
Di tengah ruangan—
Seorang pria berdiri menghadap layar besar yang menampilkan peta berbagai wilayah dunia.
Ia adalah Dooms Wlenleys.
Tatapannya tajam, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Di belakangnya—
Seseorang muncul dari bayangan ruangan: Franskeinsteins Lywara.
Ia berjalan perlahan sambil membawa perangkat data kecil di tangannya.
"Laporan terbaru sudah datang."
Dooms tidak langsung menoleh.
"Apa yang mereka lakukan di markas X.A.R.A?"
Franskeinsteins menekan panel perangkatnya.
Beberapa layar hologram muncul di udara.
Menampilkan rekaman data yang dikirim oleh Deathrays dari dalam rapat markas X.A.R.A.
"Semua pembicaraan rapat berhasil dikirim."
Ia mulai menjelaskan satu per satu.
"Pertama…"
"Profesor Romeos Glitz memperkenalkan proyek Eternal City."
Sebuah hologram kota mengambang muncul di udara.
"Sebagian manusia akan tinggal di sana untuk menghindari ancaman monster di permukaan Bumi."
Dooms masih diam.
Franskeinsteins melanjutkan.
"Namun inti rapat sebenarnya adalah ini."
Layar berubah.
Kini muncul gambar kapal Nexus S-4473.
"Kapal antariksa antar bintang milik X.A.R.A."
Ia menatap Dooms.
"Aryes berencana mengaktifkan kapal itu dalam beberapa bulan ke depan."
"Setelah itu…"
"Mereka akan mulai menjelajahi luar angkasa."
Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
Dooms akhirnya berbicara.
"Aryes…"
Ia menghela napas pelan.
"Aku sudah menduga itu."
Franskeinsteins sedikit mengangkat alis.
"Jadi Anda sudah tahu?"
Dooms menatap layar yang menampilkan kapal Nexus S-4473.
"Aryes selalu memiliki ambisi yang lebih besar dari sekadar mengamati bintang."
Ia melanjutkan dengan suara yang lebih berat.
"Dia ingin manusia keluar dari Bumi."
Franskeinsteins menambahkan.
"Storm juga berada di sana."
Ia memperbesar salah satu rekaman.
Storm terlihat duduk di aula rapat bersama Arabels.
"Jika Storm ikut..."
Franskeinsteins tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun Dooms sudah mengerti maksudnya.
Dooms menatap layar itu dengan serius.
"Justru itu masalahnya."
Ia melangkah sedikit mendekati hologram.
"Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Franskeinsteins menyilangkan tangan.
"Karena entitas di dalam dirinya?"
Dooms mengangguk pelan.
"Selama itu masih ada di dalam tubuh Storm…"
"Ancaman tidak akan pernah benar-benar hilang."
Ia menatap peta luar angkasa yang muncul di layar.
"Bahkan jika mereka pergi sangat jauh dari Bumi."
Dooms berbicara dengan nada tegas.
"Jika kekuatan itu lepas kendali di luar angkasa…"
"Dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan."
Ruangan kembali hening.
Franskeinsteins menatap Storm di layar hologram.
"Jadi apa keputusan Anda?"
Dooms menutup layar dengan satu gerakan tangan.
"Kita akan terus mengawasi."
Tatapannya menjadi lebih serius.
"Jika Storm mencoba pergi keluar angkasa…"
"Aku sendiri yang akan menghentikannya."
Di ruangan itu—
Sebuah keputusan besar mulai terbentuk.
