Ficool

Chapter 419 - Hari yang Tenang

Beberapa hari telah berlalu sejak pertempuran di langit kota H2700.

Markas X.A.R.A yang sempat rusak kini kembali berdiri seperti semula.

Panel kaca yang pecah telah diganti.

Dinding-dinding yang retak diperbaiki oleh drone konstruksi otomatis.

Teknisi dan ilmuwan kembali bekerja seperti biasanya.

Di ruang observasi utama, teleskop raksasa kembali mengarah ke langit malam.

Seolah tidak pernah terjadi pertempuran besar di tempat itu.

Namun bagi mereka yang menyaksikannya—

Mereka tahu markas ini pernah hampir menjadi pusat bencana.

Di salah satu koridor asrama X.A.R.A.

Suasana jauh lebih tenang.

Lampu putih menerangi lorong yang sunyi.

Di sebuah kamar sederhana—

Storm berbaring santai di atas kasurnya.

Tangannya berada di belakang kepala.

Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar.

Tidak ada armor.

Tidak ada pertempuran.

Hanya ketenangan yang jarang ia rasakan.

Velora berbicara pelan di dalam pikirannya.

"Tubuhmu masih dalam masa pemulihan."

Storm mendecih pelan.

"Sudah tiga hari berlalu."

"Kekuatan Ice Emperor tidak bisa digunakan terus-menerus," jawab Velora tenang.

"Energi inti masih menstabilkan dirinya."

Storm menutup matanya sebentar.

Ia masih bisa merasakan sisa kelelahan di tubuhnya.

Bukan karena luka.

Melainkan karena terlalu sering memaksa kekuatannya keluar.

Pertarungan melawan naga alien.

Kemudian duel melawan Lgris.

Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Storm menghela napas panjang.

"Setidaknya sekarang tenang."

Dari luar jendela kamarnya terlihat langit biru cerah.

Tidak ada petir.

Tidak ada es yang jatuh dari langit.

Hanya awan tipis yang bergerak perlahan.

Beberapa burung bahkan terlihat terbang melewati menara observatorium X.A.R.A.

Velora kembali berbicara.

"Tenang bukan berarti aman."

Storm tersenyum tipis.

"Aku tahu itu."

Ia menatap tangannya sendiri.

Storm menutup matanya lagi.

Namun kali ini bukan karena lelah.

Ia hanya menikmati satu hal yang sangat jarang ia dapatkan.

Beberapa saat kemudian—

Terdengar suara langkah kecil di koridor luar kamar.

Diikuti ketukan ringan di pintu.

"Storm?"

Suara itu lembut dan sangat familiar.

Storm membuka satu matanya.

Hari yang tenang itu sepertinya tidak akan benar-benar sepi.

More Chapters