Ficool

Chapter 368 - Duel of Frozen Sovereigns

Dimensi Endless Frost bergetar.

Langit putih yang sunyi kini dipenuhi retakan tipis seperti kaca beku yang ditekan dari dua sisi berbeda.

Di tengah hamparan es tak berujung—

Storm menggenggam Glyzier Slasher, aura Ice Emperor berkilau di sekelilingnya.

Beberapa puluh meter di depannya, Lgris berdiri tegap dengan armor kristalnya yang menyatu sempurna dengan Domain.

Dua otoritas es.

Satu wilayah.

Dan tak ada ruang untuk dua raja.

Lgris bergerak lebih dulu.

Ia mengangkat kedua tangannya.

"Absolute Glacial Spear."

Langit Domain retak, lalu ratusan tombak es raksasa terbentuk dari udara tipis—bukan sekadar kristal biasa, melainkan inti es murni yang diperkuat hukum Domain.

Tombak-tombak itu melesat turun seperti hujan kiamat.

Storm tidak mundur.

Ia memutar pedangnya.

Glyzier Slasher berkilau terang.

"Ice Emperor: Sovereign Arc."

Satu ayunan horizontal.

Gelombang es biru menyapu udara.

Tombak-tombak Lgris membeku di tengah lintasan—lalu retak dan hancur menjadi serpihan halus yang berputar seperti salju berkilau.

Namun serpihan itu tidak jatuh.

Lgris menutup kepalan tangannya.

Serpihan berubah menjadi badai jarum kristal yang menyerang dari segala arah.

Storm memutar gravitasi ringan di sekitar tubuhnya, bukan untuk menghancurkan—

Melainkan menggeser lintasan.

Jarum-jarum itu meleset tipis, menggores armor tipis es yang terbentuk otomatis di tubuhnya.

Lgris melesat maju.

Kecepatannya melonjak drastis di dalam Domain miliknya.

Tinju kristalnya menghantam.

Storm menahan dengan pedang.

Benturan—

Menghasilkan gelombang kejut beku yang menyapu daratan es sejauh ratusan meter.

Permukaan tanah pecah, membentuk jurang kristal di antara mereka.

Storm memutar tubuhnya dan menebas vertikal.

Lgris mengangkat dinding es setebal gunung kecil.

Tebasan Glyzier Slasher membelahnya bersih.

Namun di balik dinding itu—

Lgris sudah menghilang.

Tiba-tiba dari bawah kaki Storm, pilar es raksasa meledak naik.

Storm meloncat, memutar tubuh di udara.

Lgris muncul di atasnya dan menendang dengan kaki berlapis kristal.

Storm tertembak ke bawah, menghantam tanah es dan menciptakan kawah besar.

Es merambat membekukan kawah itu, mencoba mengurungnya.

Namun dari dalam—

Cahaya biru menyebar.

Storm berdiri kembali.

Retakan-retakan di sekitar kawah justru menyatu menjadi pola simetris yang lebih indah—seolah es itu tunduk padanya.

Lgris mendarat beberapa meter jauhnya.

"Kau sangat cepat beradaptasi dengan es," katanya dingin.

Storm mengangkat pedangnya sedikit.

"Aku tak mudah dikalahkan oleh lawan sepertimu," jawabnya jujur.

Angin kembali berputar.

Kali ini lebih liar.

Kedua aura mereka bertabrakan di udara—biru cahaya dan biru kristal saling menekan, menciptakan pusaran salju yang membumbung tinggi hingga langit Domain.

Lgris mengaktifkan teknik lanjutan.

"Frozen Dominion Crest!"

Simbol Domain di langit menyala terang.

Seluruh dimensi beresonansi.

Suhu turun drastis.

Gerakan Storm melambat sepersekian detik—

Cukup bagi Lgris untuk menyerang.

Ia menciptakan pedang kristal panjang dan menyerbu.

Kedua bilah bertemu.

Es melawan es.

Tebasan beradu cepat—setiap benturan menciptakan ledakan serpihan yang langsung membeku kembali menjadi proyektil.

Storm menebas tiga kali.

Lgris menangkis dua dan membalas satu.

Glyzier Slasher bergesekan dengan pedang kristal Lgris, menciptakan percikan cahaya dingin.

Storm menyapu kaki.

Lgris meloncat.

Storm memutar tubuh dan mengayun ke atas.

Armor kristal Lgris tergores.

Retakan tipis muncul di bahunya.

Lgris menyentuh retakan itu.

Matanya menyipit.

"Jadi… otoritasmu cukup dalam untuk melukai fondasi Domain."

Storm menarik napas panjang.

Ia tidak tersenyum.

Ia juga tidak terprovokasi.

"Aku tidak ingin menghancurkan dimensimu," ucapnya pelan.

"Tapi aku tidak akan kalah di dalamnya."

Lgris kembali menyerang lagi.

Gunung es di kejauhan mulai bergerak.

Bukan runtuh—

Melainkan berjalan.

Raksasa-raksasa kristal bangkit dari horizon, melangkah perlahan menuju pusat duel.

Storm menggenggam Glyzier Slasher lebih erat.

"Kalau begitu," katanya tenang,

"Mari kita lihat… es siapa yang benar-benar bertahan hingga akhir."

More Chapters