Ficool

Chapter 366 - Domain of Endless Frost

Langit H2700 bergetar dalam diam.

Rizen terkurung tekanan ruang, tak mampu bergerak. Marika berdiri dengan rantai emas yang tercerai-berai, napasnya berat. Blades Crimson masih melayang di belakang Storm seperti mahkota baja.

Dan Lgris—

Akhirnya melangkah maju.

Tatapannya tidak lagi sekadar menyelidik.

Kini ia memutuskan.

"Baiklah, aku akan menghabisimu," ucapnya pelan.

Udara mendadak membeku total.

Bukan hanya suhu—

Tetapi ruang itu sendiri.

Kristal es tipis menyebar di udara, membentuk pola lingkaran raksasa di langit. Simbol-simbol geometris dari kristal biru berputar perlahan, menandai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar teknik biasa.

Storm merasakannya.

Velora berbisik pelan.

"Domain."

Lgris mengangkat satu tangan ke langit.

"Jika kau bukan ancaman… maka kau akan bertahan di dalam wilayahku."

Lingkaran kristal menyala terang.

Ruang terlipat.

Langit H2700 retak—namun kali ini bukan oleh kehancuran, melainkan oleh pemindahan.

Storm merasakan gravitasi di sekitarnya terbalik. Tekanan ruangnya sendiri seperti ditelan oleh sesuatu yang lebih besar.

Blades Crimson pecah menjadi partikel merah.

Dan dalam sekejap—

Kota menghilang.

Storm mendarat di atas permukaan es yang tak berujung.

Langitnya putih pucat. Tidak ada matahari. Tidak ada bintang. Hanya cahaya dingin menyebar dari segala arah.

Horizon membentang tanpa akhir—gunung-gunung es raksasa berdiri seperti tombak surgawi. Angin dingin berdesir membawa serpihan kristal yang berkilau.

Dimensi: Domain of Endless Frost.

Storm berdiri perlahan.

Scarlet Skycrimson menyala lebih redup dari biasanya.

Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda.

Gravitasi di sini bukan miliknya.

Hukum ruang tunduk pada kehendak Lgris.

Langkah kaki terdengar di kejauhan.

Lgris berjalan di atas permukaan es tanpa suara, armor kristalnya menyatu sempurna dengan dunia ini.

"Di sini," katanya tenang,

"Aku tidak perlu menahan diri menghancurkan kota."

Storm mengamati sekitar.

Ia bisa merasakan batas-batas dimensi ini—namun samar. Seperti lapisan es yang menutup pintu keluar.

"Dimensi ciptaan sendiri," gumam Storm.

"Impresif."

Lgris berhenti beberapa meter darinya.

"Di wilayah ini, es adalah absolut."

"Gravitasi, panas, bahkan kehancuran—akan tunduk pada hukumku."

Storm mengepalkan tangan.

Ia mencoba memanggil resonansi Domain-nya sendiri—

Namun tidak ada respons.

Velora terdiam beberapa detik sebelum berbicara.

"Kau belum bisa membuka milikmu."

Storm menyadari itu.

Ia belum pernah benar-benar mengaktifkan Domain pribadi.

Scarlet Skycrimson hanyalah manifestasi kekuatan.

Black Hole hanyalah senjata.

Namun Domain—

Itu adalah pernyataan eksistensi.

Dan ia belum siap mengucapkannya.

Es tiba-tiba mencuat dari tanah seperti ribuan tombak.

Storm melesat, memutar gravitasi untuk menghancurkan sebagian, namun tombak-tombak itu muncul lagi tanpa batas.

Langit putih di atas retak, dan bongkahan es raksasa jatuh seperti meteor.

Storm menghindar dengan gerakan cepat, menghancurkan satu meteor dengan tinju crimson.

Namun serpihannya membeku kembali dan menyerang lagi.

Lgris menyerang dari berbagai arah.

"Di sini, kelelahan akan mengejarmu lebih dulu."

Storm berdiri tegak, napasnya terlihat jelas dalam udara beku.

Ia tidak panik.

Tidak gentar.

Matanya menyala merah dalam dunia putih tak berujung.

"Kalau begitu aku akan bertahan sampai hukummu retak."

Lgris menatapnya.

"Domain bukan teknik yang bisa dipatahkan dengan kekuatan mentah."

Storm tersenyum tipis di balik helmnya.

"Justru itulah, Sang penghancur Dimensi."

Gravitasi tidak lagi mencoba melawan hukum es.

Sebaliknya—

Ia memadatkan dirinya sendiri.

Mengurangi jejak.

Mengunci energi agar tidak tergerus.

Scarlet Skycrimson menyala stabil.

Bukan meledak.

Bukan melawan langsung.

Melainkan bertahan dalam tekanan.

"Kau tidak mencoba menghancurkan wilayahku."

Storm menatap hamparan es tak berujung.

"Karena aku tahu," ucapnya pelan,

"Aku juga bisa memanggil kekuatan es milikku sendiri ."

Angin es berputar lebih kencang.

Tombak kristal kembali mencuat dari segala arah.

More Chapters