Ficool

Chapter 365 - Blades of Crimson

Langit H2700 membeku dalam ketegangan.

Dua kubu saling berhadapan.

Di satu sisi—Lgris, Rizen, dan Marika, simbol resmi APH.

Di sisi lain—Storm dengan Scarlet Skycrimson, didampingi Jester dan Napstylea.

Namun Storm melangkah maju.

"Berhenti kalian."

Suaranya tidak keras.

Namun gravitasi di sekitarnya bergetar pelan, membuat udara terasa berat.

Napstylea menoleh.

"Tuan Rem—"

"Jangan ikut campur," potongnya tenang.

Jester memiringkan kepala.

"Kau seperti: Dialog protagonis klasik, Tuan Rem."

Storm menatap keduanya.

"Kalau pertarungan ini terus melebar, kota akan jadi korban."

"Amankan penduduk. Itu lebih penting."

Napstylea terdiam.

Ia melihat retakan tipis di armor Storm, melihat bagaimana ia masih menahan diri meski dikepung.

"Kau yakin?" tanyanya rendah.

Storm mengangguk.

"Aku tidak akan menghancurkan kota ini."

Jester menghela napas panjang, lalu menjentikkan kartu di tangannya.

"Baiklah. Tapi jangan sampai mati. Aku malas menyegel arwah."

Napstylea mengepalkan tangan.

"Kalau situasi di luar kendali, kami akan masuk lagi."

Tanpa menunggu jawaban, keduanya melesat turun—membuka medan pengaman di sekitar distrik, mengevakuasi warga dengan portal ilusi dan perisai energi perak.

Kini—

Hanya Storm dan tiga pahlawan APH yang tersisa di langit.

Marika mengangkat tangan.

"Bijak juga kau," katanya dingin.

"Mereka hanya akan jadi beban."

Storm tidak menjawab.

Sebaliknya—

Lingkaran merah tipis muncul di belakangnya.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Lalu puluhan.

Ratusan bilah baja berlapis energi crimson terbentuk di udara.

Pisau-pisau panjang, ramping, dengan ujung tajam berkilau merah gelap.

Blades Crimson melesat di udara, langit bergetar oleh resonansi logam kosmik.

Rizen mempersempit matanya.

"Manifestasi senjata massal…"

Marika mengayunkan tangannya.

Rantai emas kembali menyambar, membelah udara dengan segel penyegel yang lebih kuat dari sebelumnya.

"Kali ini aku tidak akan memberimu celah!"

Rantai emas menukik seperti naga cahaya.

Storm menggerakkan jari.

Blades Crimson meluncur.

Cepat.

Presisi.

Puluhan bilah menebas rantai dari berbagai sudut. Percikan emas dan merah meledak di udara. Segel-segel Marika retak satu per satu.

Marika memperkuat energi, namun setiap rantai yang muncul langsung disambut badai baja crimson.

Dalam hitungan detik—

Formasi rantainya hancur.

Satu bilah meluncur tepat di depan wajahnya, berhenti hanya beberapa sentimeter dari helm emasnya.

Storm tidak membunuh.

Ia memperingatkan.

Marika terdiam, napasnya sedikit berat.

Rizen melangkah maju.

"Kau terlalu fokus pada ofensif."

Kubus-kubus transparan membesar dan menutup ruang di sekitar Storm.

Dimensional Compression kembali aktif—kali ini jauh lebih padat.

Ruang terasa seperti beton tak terlihat.

Blades Crimson melambat.

Gerakan Storm tertahan.

Rizen mengangkat kedua tangannya.

"Immortal Geometry."

Struktur kubus saling bertaut, membentuk penjara dimensi.

Namun Storm menutup matanya.

Velora berbisik pelan.

"Biarkan beratnya turun."

Storm membuka mata.

Gravitasi di sekitar tubuhnya tidak lagi berputar liar.

Ia turun.

Lebih dalam.

Lebih berat.

Bukan menarik—

Melainkan menekan.

Udara runtuh ke arah pusat tak terlihat.

Kubus-kubus Rizen mulai berderak.

"Apa—" Rizen menegang.

Tekanan ruang melonjak drastis.

Bukan ledakan.

Bukan pusaran.

Melainkan kompresi murni.

Kubus-kubus transparan retak seperti kaca.

Rizen terhenti di udara.

Tubuhnya tertekan oleh gravitasi tak kasat mata dari segala arah.

Kubus pelindungnya berusaha memperbaiki diri, namun tekanan Storm terus meningkat—mengunci ruang di sekitar Rizen sendiri.

"Ini…" Rizen menggertakkan gigi.

"Bukan sekadar gravitasi…"

Storm melangkah maju perlahan di udara.

Setiap langkahnya membuat ruang bergelombang.

"Ruang bisa ditekan," katanya tenang.

"Dan kau berdiri di dalamnya."

Dengan satu gerakan tangan—

Tekanan mencapai puncaknya.

Kubus Rizen pecah total.

Ia terhenti di udara, tak mampu bergerak, terkurung oleh medan tekanan tak terlihat yang mengunci setiap koordinat ruang di sekelilingnya.

Rizen tidak bisa berkutik.

Marika menoleh tajam.

"Rizen!"

Lgris menyaksikan semuanya tanpa berbicara.

Matanya kini benar-benar serius.

Storm berdiri di tengah langit yang bergetar pelan.

Blades Crimson masih melayang di belakangnya seperti sayap baja.

More Chapters