Ficool

Chapter 352 - Kembali ke Kota H2700

Kota H2700 berdiri seperti benteng cahaya di tengah dunia yang hancur.

Menara baja menjulang tinggi, dilapisi perisai energi transparan yang melindungi warga dari monster di luar batas kota. Drone patroli melintas di langit senja, sementara layar hologram menampilkan berita darurat yang belum sepenuhnya mereda.

Di salah satu atap gedung distrik pusat—

Sebuah retakan tipis muncul di udara.

WHUSSH.

Storm terjatuh keluar dari celah itu dan menghantam lantai beton dengan keras.

Retakan langsung menutup.

Langit kembali normal.

Ia terbaring beberapa detik, napasnya berat. Tubuhnya dipenuhi luka bekas tekanan dimensi. Armor Scarlet Skycrimson telah lenyap, menyisakan pakaian yang robek dan sisa energi merah yang perlahan memudar.

Velora berbisik pelan.

"Kau masih hidup, manusia. Ini mengejutkan sekali."

Storm tertawa lemah.

"Belum waktunya aku mati."

Langkah kaki tergesa terdengar dari pintu akses atap.

"Kak Rem?!"

Suara itu membuatnya menoleh.

Arabels berdiri di sana.

Rambutnya tertiup angin senja kota, matanya membesar melihat kondisi Storm yang nyaris tak berdiri tegak.

Tanpa ragu, ia berlari mendekat dan berlutut di sampingnya.

"Kamu gila kak… kamu benar-benar gila!" suaranya gemetar.

"Seminggu menghilang tanpa kabar, lalu muncul dalam keadaan seperti ini?"

Storm tersenyum tipis, meski wajahnya penuh debu.

"Aku rindu juga."

Arabels memukul bahunya pelan—lalu memeluknya erat.

Untuk sesaat, dunia terasa sunyi.

Tak ada dimensi.

Tak ada penjaga ruang.

Tak ada kehancuran kosmik.

Hanya detak jantung yang akhirnya tenang.

Dari balik pintu atap, dua sosok lain muncul.

Satu mengenakan jas warna-warni dengan topeng badut yang tersenyum lebar. Rambutnya acak, matanya tajam seperti selalu melihat sesuatu yang orang lain tak lihat.

Jester bertepuk tangan pelan.

"Ah~ reuni yang manis setelah hampir kiamat dimensi. Aku suka momen dramatis seperti ini."

Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan Armor perak mengilap yang memantulkan cahaya kota. Helmnya terbuka, memperlihatkan tatapan tenang namun tegas.

Napstylea memandangnya.

"Kau membuat seluruh jaringan pertahanan kota siaga penuh," ucapnya serius.

"Ada distorsi ruang besar terdeteksi di atas H2700."

Storm mencoba duduk, dibantu Arabels.

"Ada tamu tak diundang."

Jester bertanya pelan.

"Tamu? Oh tidak, Tuan Rem. Itu bukan tamu."

Ia memiringkan kepala.

"Itu penjaga dimensi keempat. Dan sekarang… dia tidak ada."

Napstylea menatap Storm tajam.

"Kau mengalahkannya?"

Storm terdiam sejenak.

Angin senja berhembus melewati atap.

"Aku menghapusnya."

Hening.

Drone patroli melintas di atas mereka, lampu birunya berkedip pelan.

Jester tersenyum lebih lebar di balik topengnya.

"Langkah yang berani. Tapi ketika satu penjaga runtuh… biasanya yang lain akan menoleh."

Arabels menggenggam tangan Storm lebih erat.

"Apa maksudnya?"

Napstylea menjawab pelan.

"Dimensi tidak pernah dibiarkan tanpa pengawas."

Storm menatap langit.

Sejak pertarungan itu berakhir, ia benar-benar merasakan lelah.

Namun di sisi lain—

Ia juga merasakan sesuatu yang berbeda.

Beban yang selama ini menekannya… sedikit berkurang.

Velora berbicara pelan di dalam dirinya.

"Kau kembali ke duniamu."

"Ya," jawab Storm dalam hati.

"Kali ini… aku tidak sendirian."

Jester melangkah maju, tongkatnya berputar ringan di tangannya.

"Baiklah, tuan Rem. Kota H2700 masih berdiri. Monster masih berkeliaran. Dan ramalanku baru saja berubah menjadi lebih rumit."

Napstylea menyilangkan tangan.

"Jika kau sudah selesai menghancurkan dimensi, mungkin kita bisa kembali fokus menyelamatkan dunia ini."

Storm tertawa pelan.

Arabels menatapnya dengan mata lembut namun tegas.

"Kamu tidak boleh menghilang lagi tanpa pamit, kak Rem."

Storm menatapnya balik.

"Aku tidak bisa berjanji sepenuhnya."

More Chapters