Ficool

Chapter 2 - Pertama

Lima tahun itu seharusnya cukup.

Cukup untuk melupakan.

Cukup untuk menyembuhkan.

Cukup untuk berhenti merasa apa-apa.

Tapi nyatanya, tidak.

Aku masih ingat semuanya dengan terlalu jelas—cara dia tertawa, cara dia memanggil namaku, bahkan cara dia pergi tanpa benar-benar menjelaskan apa-apa. Dan yang paling menyebalkan, bukan kenangannya yang menyakitkan… tapi fakta bahwa aku masih di tempat yang sama, sementara dia sudah lama pergi.

"Mbok ya fokus kerja, Nad."

Suara itu menarikku kembali ke kenyataan. Aku tersadar, tanganku sudah lama diam di atas meja resepsionis, sementara layar komputer di depanku menampilkan data yang belum kusentuh.

"Iya, iya…" jawabku asal, sedikit menghela napas.

Hari ini seperti hari-hari biasanya. Sibuk, ramai, dan melelahkan. Tapi ada satu hal yang berbeda—katanya akan ada staf baru yang masuk hari ini.

Aku tidak terlalu peduli, jujur saja.

Orang datang dan pergi itu biasa.

"Eh, katanya anak baru ganteng, loh," bisik salah satu teman kerjaku sambil menyenggol lenganku.

Aku hanya mengangkat alis, setengah tidak tertarik.

"Standar kamu rendah."

Dia terkekeh kecil.

Belum sempat aku melanjutkan pekerjaan, suasana lobby mendadak sedikit berubah. Beberapa orang menoleh ke arah pintu masuk.

Dan di sanalah dia.

Staf baru itu.

Langkahnya tenang. Wajahnya… biasa saja—atau setidaknya itu yang ingin kuakui. Tapi ada sesuatu dari cara dia melihat sekitar, dari caranya berdiri, yang entah kenapa membuatku… berhenti.

Tatapan kami bertemu.

Hanya beberapa detik.

Tapi rasanya seperti waktu ditarik mundur. Seperti ada sesuatu yang pernah kukenal… atau mungkin hanya perasaan bodohku saja.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan.

"Yang itu?" bisikku pelan ke temanku, pura-pura santai.

"Iya, itu dia."

Aku menyender sedikit, lalu berbisik lagi dengan nada mengejek tipis,

"Hmm… kelihatannya tipe yang sok kalem, ya."

Temanku tertawa kecil,

"Kayak yang pernah kamu suka dulu?"

Aku menatapnya tajam.

"Jangan mulai."

Tapi tanpa sadar, mataku kembali melirik ke arah staf baru itu.

Dan anehnya…

dia juga sedang melihat ke arahku.

Aku langsung berpura-pura sibuk, mengetik sesuatu yang bahkan tidak kupahami.

"Kenapa?" tanya temanku lagi, menggoda.

Aku menghela napas pelan.

"Enggak kenapa-kenapa."

Tapi dalam hati, aku tahu satu hal pasti—

Ada sesuatu yang terasa… tidak asing.

Dan aku tidak yakin itu hal yang baik.

More Chapters