Ficool

Chapter 4 - Chapter 4 - Threads of the Market

Chapter 4 - Threads of the Market (Benang-benang Pasar)

Beberapa waktu kemudian, transaksi demi transaksi berlangsung. Beberapa ukiran kayu laku terjual kepada seorang wanita muda yang tampak terpikat oleh detail halus pada pahatan itu. Ia menatap Lian Yuexin sebentar, lalu tersenyum hangat sebelum pergi.

Lian Yuexin merasa dirinya dipenuhi rasa bangga, seolah-olah itu adalah karyanya sendiri. Ia berbisik kecil, “Ayah, ukiran-ukiran ini benar-benar disukai orang...”

Lian Haoyu mengangguk, matanya menatap Lian Yuexin dalam. “Kerajinan tangan, Xin‘er, selalu punya tempat di hati seseorang. Ingatlah, sesuatu yang lahir dari kerja keras dan ketulusan akan selalu bernilai.”

Sambil menunggu pembeli berikutnya, pandangan Lian Yuexin teralihkan ke sisi lain pasar. Ia melihat sekumpulan anak-anak sebayanya berlari sambil membawa permen di tangan mereka.

Ada juga orang yang memainkan alat musik di jalanan, nadanya cukup merdu untuk didengar, bercampur dengan teriakan pedagang dan tawa pembeli.

Hati kecilnya melonjak ingin mendekat. Dia menggenggam ujung lengan baju ayahnya. “Ayah.... bolehkah aku jalan-jalan sebentar? Aku mau melihat lebih dekat.”

Lian Haoyu menatap putrinya lama, lalu menarik napas pelan. “Boleh, tapi hanya di sekitar sini. Jangan sampai aku kehilanganmu dari pandangan.”

“Baik, Ayah!” jawab Lian Yuexin dengan riang, lalu ia melangkah kecil, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Di dekatnya, ia berhenti di depan lapak seorang penjual manisan. Permen berlapis gula berwarna merah dan hijau membuatnya tertarik. Lian Yuexin menelan ludah, matanya tidak bisa berpaling.

Penjual itu seorang wanita paruh baya, tertawa kecil melihat tatapan polosnya. “Nak, kau ingin mencobanya? Ini manisan buah, manis sekali.”

Lian Yuexin tersipu, menoleh sebentar ke arah ayahnya yang masih sibuk. Dia ragu-ragu, tetapi sebelum sempat menjawab, Lian Haoyu sudah berjalan menghampiri, membawa beberapa koin perak di tangan.

“Berikan satu untuk putriku.”

Wanita itu menyerahkan sebatang manisan, dan Lian Yuexin menerimanya dengan wajah berseri-seri. “Terima kasih, Ayah!” serunya penuh kegembiraan, lalu menggigit manisan itu perlahan.

Lian Yuexin kembali ke sisi ayahnya, wajahnya masih berseri-seri.

Keramaian pasar kian padat menjelang sore hari. Pedagang berteriak lebih keras, aroma rempah, daging panggang, dan buah-buahan bercampur di udara.

Lian Yuexin yang masih memegang manisan di tangannya, melangkah sedikit menjauh tanpa sadar. Ia terpikat oleh suara genderang dari sisi lain pasar, di mana sekelompok orang membuat pertunjukan.

“Lihat, Ayah! Ada pertunjukan di sana!”

Namun ketika ia menoleh, sosok ayahnya sudah terhalang oleh kerumunan yang semakin padat. Ia terdiam sejenak, matanya mencari-cari dengan cemas. Orang-orang berlalu lalang cepat, suaranya riuh, dan Lian Yuexin terseret arus langkah orang.

“Ah.... Ayah?” panggilnya lirih, tapi suaranya tenggelam di antara kerumunan orang-orang.

Lian Yuexin menggenggam erat sisa manisannya, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mencoba menembus kerumunan, tapi setiap dia melangkah malah membuatnya semakin terhimpit.

Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dan menarik lengannya pelan. “Kau terpisah dari orang tuamu?” suara wanita muda terdengar lembut.

Lian Yuexin menoleh. Di hadapannya berdiri seorang gadis remaja berusia belasan, mengenakan jubah sederhana berwarna biru pucat.

“Aa-aku.... aku kehilangan ayahku,” jawab Lian Yuexin dengan gugup, matanya sedikit berkaca-kaca.

Wanita muda itu tersenyum tipis, lalu melihat Lian Yuexin. “Jangan takut. Pasar memang ramai dan berisik. Ayo, aku akan membantumu mencari ayahmu.”

Belum sempat Lian Yuexin menjawab, suara berat memanggil dari belakang. “Xin‘er!”

Lian Yuexin menoleh cepat. Ayahnya berlari kecil menerobos kerumunan, wajahnya tegang. Begitu tiba, ia langsung merauh bahu putrinya. “Syukurlah kau tidak apa-apa...”

Lian Haoyu menoleh pada gadis berjubah biru itu, “Terima kasih telah menolong putriku.”

Gadis itu tersenyum samar. “Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya kebetulan berada di sini.” Ia menatap Lian Yuexin sekali lagi, lalu berbalik dan menghilang ke tengah keramaian pasar.

“Xin‘er,” suara ayahnya terdengar lembut, “ingatlah jangan pernah pergi terlalu jauh dariku lagi.”

Lian Yuexin menunduk, menggenggam erat tangan ayahnya. “Maaf, Ayah. Aku hanya ingin melihat lebih dekat....”

Lian Haoyu tersenyum samar, “Baiklah. Lain kali berhati-hati, Ayah tidak mau kehilanganmu.”

Kerumunan perlahan menipis seiring hari hendak malam. Lian Yuexin berjalan di samping ayahnya, kali ini dia tidak ingin terlalu jauh dan lebih berhati-hati.

“Pasar ini jauh lebih besar daripada yang ku bayangkan,” ucap Lian Yuexin sambil melihat sekeliling. “Tapi.... juga cukup menyesakkan.”

Lian Haoyu melirik putrinya, senyum samar muncul di wajahnya. “Itulah sebabnya ayah membawamu ke sini. Dunia luar tidak selalu indah, Xin‘er. Ada keramaian, ada persaingan, ada juga bahaya.”

Lian Yuexin menunduk sedikit, lalu tersenyum tipis. "Aku mengerti, Ayah."

Langit sudah benar-benar gelap, hanya diterangi oleh lampu yang tergantung di sepanjang jalan pasar.

“Wah.... akhirnya habis juga.” Lian Yuexin meregangkan kedua lengannya, wajahnya lega. “Aayah, kita lumayan cepat, kan? Aku kira bakal sampai larut.”

Lian Haoyu tersenyum, mengangkat keranjang kosong. “Cepat karena ada yang rajin bantu ayah. Kalau kau tidak ikut, mungkin ayah batu selesai tengah malam.”

Lian Yuexin menyengir kecil. “Kalau begitu, aku memang harus ikut lebih sering.“ ia menoleh ke kanan dan kiri, matanya berbinar.

“Ayah, sebelum pulang... kita beli sesuatu, ya? Untuk ibu. Dan... aku juga mau bawain sedikit untuk Su Linyao dan Han Meiyun.”

“Teman-temanmu itu?” Ayahnya menanggapi sambil berjalan santai.

“Iya. Masa aku pulang dari kota tangan kosong? Aku sudah berjanji dengan mereka untuk membawa sesuatu dari kota.”

Lian Haoyu tertawa kecil. “Baiklah, terserah kau. Apa yang ingin kau beli?”

Lian Yuexin berjalan cepat, matanya meneliti deretan bangunan dan lapak. Ia berhenti di depan sebuah toko pakaian.

“Lihat, ayah! Ayo kita masuk ke dalam.”

Penjaga toko, seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi, menyambut mereka dengan senyum ramah. “Silahkan, silahkan.... lihat-lihat saja. Kami baru dapat kain sutra dari utara, warnanya cantik sekali.”

Lian Yuexin masuk ke dalam, matanya tertuju pada sehelai pakaian berwarna hijau muda dengan bordiran bunga halus di bagian lengan. Ia menyentuhnya, merasakan kelembutan kain.

“Ayah, coba lihat ini.... cocok untuk ibu, bukan?”

Lian Haoyu menatap sebentar, lalu tersenyum tipis. “Ibumu pasti akan terlihat semakin anggun dengan itu.”

Wajah Yuexin berbinar, ia melipat hati-hati pakaian itu dan menyerahkannya kepada penjaga toko. “Aku ambil yang ini.”

Dia juga membelikan beberapa pakaian untuk ayah, dirinya, dan teman-temannya.

Setelah membayar, mereka kembali menyusuri jalan pasar. Pedagang buah masih berjualan, tumpukan buah berkilau terkena cahaya lampu.

“Ayah, bagaimana kalau kita beli buah juga? Ibu pasti senang, dan teman-temanku.... ya, mereka bisa mencicipi juga.”

“Boleh,” jawab ayahnya singkat. Ia menepuk bahu putrinya. “Pilih saja yang menurutmu paling bagus.”

Lian Yuexin memilih beberapa buah dengan teliti, memasukkannya ke keranjang kecil. Ia sempat tersenyum sendiri, membayangkan wajah Su Linyao dan Han Meiyun.

Saat berjalan kembali mencari toko lain, mereka berhenti di depan sebuah kios kecil berisi perhiasan dan aksesoris sederhana.

Mata Lian Yuexin terpaku pada sebuah tusuk rambut berhiaskan batu biru kecil. “Ayah... yang ini bagus sekali. Aku ingin membelinya untuk diriku sendiri.”

Ayahnya tersenyum melihat ekspresi putrinya yang sedikit malu. “Kalau kau suka, belilah. Gadis seusiany memang cocok memakai benda seperti itu.”

Wajah Lian Yuexin memerah sedikit, tapi ia akhirnya membeli tusuk rambut itu. Saat penjual membungkusnya, ia tak bisa menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

Dia juga membeli beberapa aksesoris sederhana untuk teman-temannya. Sebuah tusuk rambut yang cukup indah.

Setelah itu, dengan pakaian untuk ibunya, ayah, dirinya, dan teman-temannya, buah segar, dan aksesoris sederhana, mereka berjalan pelan meninggalkan area itu.

Udara malam lebih sejuk, bintang-bintang bertebaran di langit. Suasana yang tadi riuh kini berganti dengan tenang.

“Perjalanan ke kota ini.... jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan,” ujar Lian Yuexin sambil menggenggam erat barang-barangnya. “Aku merasa seperti membawa pulang lebih dari sekedar barang.”

Ayahnya menoleh sebentar, lalu tersenyum. “Benar, Xin‘er. Bukan hanya apa yang bisa kita lihat atau beli, tapi juga apa yang bisa kita rasakan... dan pelajari.”

Lian Yuexin menatap ayahnya, lalu tersenyum tipis. Dalam hatinya, dia tahu perjalanan singkat ke kota ini akan jadi kenangan yang tak akan terlupakan.

Langkah mereka makin pelan, melewati jalanan kota yang mulai sepi. Mereka memutuskan untuk mencari tempat menginap untuk beristirahat dan melanjutkan pulang ke desa besok.

“Ayah, kita pulangnya besok bukan?” tanya Lian Yuexin sambil menoleh.

Lian Haoyu mengangguk. “Iya. Malam ini kita cari tempat untuk menginap dulu. Tidak baik memaksa pulang malam-malam, jalanan gelap dan berbahaya.”

Lian Yuexin mengangguk setuju, matanya mengamati deretan rumah penginapan di pinggir jalan. Ada satu yang tampak cukup ramai, papan kayu di depannya bertuliskan ”Penginapan Seruni”. Dari jendela, cahaya hangat menyorot keluar.

“Ayah, bagaimana kalau di sana saja? sepertinya ramai dan nyaman,” ujarnya sambil menunjuk.

Mereka masuk, disambut seorang pria paruh baya dengan senyum ramah. “Selamat malam, silahkan masuk. Ingin menginap semalam?”

“Iya,” jawab Lian Haoyu singkat. “Satu kamar untuk diriku dan putriku.”

“Baik, satu kamar sederhana dengan dua ranjang kecil, 5 koin perak semalam, sudah termasuk sarapan.”

Lian Yuexin sedikit terkejut, berbisik pada ayahnya, “Ayah.... itu lumayan mahal.”

“Mahal mana dengan barang belanjaan mu?” Ayahnya tersenyum lembut kepada putrinya itu.

Lian Yuexin tersipu malu, dia lupa bahwa barang belanjaannya lebih mahal dari biaya penginapan.

“Tidak apa-apa. Sesekali saja, lagipula perjalanan ke kota juga untuk pengalamanmu.”

Wajah Lian Yuexin perlahan berbuah lalu dia tersenyum dan mengangguk. “Baiklah.”

Setelah membayar, mereka naik ke lantai 2. Kamarnya sederhana: dua ranjang kayu dengan kasur, meja kecil dengan vas bunga, serta jendela yang terbuka menghadap jalan.

Lian Yuexin meletakkan barang-barangnya di atas meja, lalu menjatuhkan dirinya ke ranjang. “Ah.... akhirnya bisa istirahat juga. Kakiku rasanya mau patah.”

Ayahnya duduk di ranjang sebelah, melepaskan napas panjang. “Menyenangkan bukan? Walaupun kelelahan, setidaknya sepadan dengan apa yang kau dapatkan.”

Lian Yuexin menoleh sambil tersenyum kecil. “Benar, aku sangat senang. Apalagi.... aku tidak sabar melihat wajah ibu besok saat menerima hadiah ini.”

Ayahnya ikut tersenyum, menatao putirnya dengan mata yang penuh kelembutan. “Ibumu pasti sangat senang. Dan teman-temanmu... akan iri sekaligus bangga punya sahabat seperti dirimu.”

Mereka tertawa kecil bersama. Malam makin larut, suara dari bawah penginapan mulai reda.

Lian Yuexin menarik selimut tipis, matanya mulai mengantuk. “Ayah.... hari ini rasanya panjang sekali. Tapi... aku ingin mengingat setiap detail kecil selama perjalanan menuju kota dan saat tiba di kota.”

Lian Haoyu menunduk, mengusap kepala putrinya dengan lembut. “Kenangan-kenangan seperti ini, Xin‘er, akan menuntunmu suatu hari nanti. Tidurlah, besok kita pulang.”

“Baik, Ayah....” jawabnya lirih, lalu matanya perlahan terpejam.

Lian Haoyu duduk sejenak di tepi ranjang setelah memastikan putrinya benar-benar tertidur. Napas Lian Yuexin terdengar teratur, sesekali bergerak kecil.

Lian Haoyu bangkit perlahan, berjalan ke arah jendela. Malam benar-benar larut. Bintang-bintang bertaburan, berkilau seperti permata.

Lian Haoyu bersandar di sisi jendela, menatao jauh ke langit. Bibirnya membentuk senyum samar. “Hari yang panjang.... tapi indah,” gumamnya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

Dia melihat putrinya di ranjang, anaknya itu meringkuk nyaman di bawah selimut tipis. Ada perasaan lega sekaligus hangat yang mengalir di dada Lian Haoyu. Perjalan ke kota memang melelahkan, tapi tatapan mata cerah dan senyum polos anaknya membuat semua rasa lelah hilang.

Lian Haoyu menutup jendela perlahan, lalu berjalan kembali ke ranjang, melepaskan napas panjang, lalu berbaring.

Sebelum matanya terpejam, ia menoleh sekali lagi ke arah putrinya. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya, lalu Haoyu membiarkan dirinya larut dalam tidur.

More Chapters