Ficool

Chapter 1 - BAB 1: Tegukan yang Mengubah Takdir

Matahari pagi menyelinap malu-malu di antara celah pohon pinus, menyirami sebuah pondok kayu yang terisolasi di pinggiran hutan. Di dalamnya, Cecilia sedang sibuk dengan rutinitas paginya. Sunyi. Hanya ada suara kicauan burung yang sesekali memecah keheningan.

Cecilia mengelap meja kayu tuanya dengan kain usang. Namun, ada yang aneh hari ini.

"Udara hari ini terasa lebih berat dari biasanya... apa mungkin akan hujan?" gumamnya pelan.

Ia berjalan menuju jendela, menatap jalan setapak yang membelah hutan menuju desa. Jarak satu jam berjalan kaki bukanlah hal yang mudah, tapi bagi Cecilia, kesunyian di pondok ini jauh lebih berharga daripada hiruk-pikuk manusia.

"Persediaan gandum masih cukup untuk tiga hari. Aku tidak perlu terburu-buru ke pasar," pikirnya sambil menghela napas lega.

Tiba-tiba, rasa haus yang hebat menyerang kerongkongannya. Rasa kering yang muncul begitu mendadak, seolah-olah tubuhnya sedang memohon untuk segera dibasahi.

Cecilia meraih cangkir kayu sederhana miliknya. Ia menuangkan air dari kendi tanah liat—air yang baru saja ia ambil dari mata air suci pagi tadi. Air itu tampak begitu murni, berkilau seperti berlian di bawah cahaya matahari yang masuk dari celah atap.

"Segar sekali..."

Teguk. Teguk. Teguk.

Cecilia meminumnya hingga tetes terakhir. Namun, tepat saat air itu melewati kerongkongannya, sebuah sensasi aneh menjalar hebat ke seluruh tubuhnya.

Bukan rasa sakit. Bukan pula racun.

Itu adalah gelombang hangat yang berdenyut, mulai dari jantungnya, turun dengan cepat, dan menetap di satu titik: rahimnya.

Tak!

Cangkir kayu itu nyaris terlepas dari tangannya yang mendadak gemetar.

"Tunggu... kenapa jantungku berdetak sangat kencang?"

Cecilia memegang dadanya, mencoba mengatur napas yang kian memburu. Namun, keajaiban—atau mungkin kutukan—itu baru saja dimulai. Di depan matanya sendiri, sesuatu yang mustahil terjadi.

Perutnya yang semula rata, mulai membuncit sedikit demi sedikit. Bajunya yang longgar perlahan-lahan mulai terasa sesak, meregang mengikuti bentuk sesuatu yang tumbuh di dalamnya secara gaib.

"Apa yang terjadi? Bajuku... terasa sesak?"

Wajah cantik Cecilia memucat pasi. Ia menunduk, menyentuh perutnya dengan telapak tangan yang dingin. Ada kehidupan di sana. Ada detak jantung lain yang berdenyut selaras dengan miliknya. Sangat kuat. Sangat nyata.

"Bagaimana mungkin?" suaranya bergetar hebat. "Aku... aku tidak pernah... tidak ada siapapun di sini kecuali aku!"

Ia segera memeriksa pintu dan jendela. Semuanya terkunci rapat. Tidak ada jejak orang asing. Tidak ada sihir hitam yang terlihat. Hanya ada ia dan rahasia besar yang kini bersemayam di dalam tubuhnya.

Cecilia terduduk lemas di kursi kayu. Tangannya masih mendekap perut yang kini sudah menyerupai wanita yang hamil beberapa bulan.

"Apakah ini kutukan? Atau... air tadi?"

Di tengah ketakutan yang luar biasa, sebuah ketenangan aneh tiba-tiba menyelimuti hatinya. Sebuah insting yang tidak pernah ia duga sebelumnya kini bangkit.

Cecilia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Sesuatu telah memilihnya.

More Chapters