Ficool

Chapter 1 - bab 1

Bau antiseptik yang menusuk adalah hal pertama yang menyambut kesadaranku. Dingin, kaku, dan menyesakkan. Aku mencoba menggerakkan jemariku, tapi rasanya seperti terkunci dalam semen basah. Ingatan terakhirku hanyalah lampu depan truk yang menyilaukan dan bunyi decit ban yang memekakkan telinga sebelum semuanya menjadi hitam.

Aku masih hidup?

Perlahan, aku memaksakan kelopak mataku terbuka. Cahaya lampu neon di langit-langit bangsal terasa seperti pisau yang menghujam pupil. Aku mengerang kecil, tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan pasir.

"Pasien di ranjang 4B sudah sadar!" sebuah suara wanita berseru, cukup dekat dari telingaku.

Aku menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang perawat muda dengan seragam putih ketat sedang berdiri di samping ranjangku. Wajahnya cukup manis, tapi ekspresinya datar, hampir terlihat jengkel karena tugas tambahannya baru saja dimulai. Seragamnya yang pas di badan menonjolkan lekukan tubuh yang seharusnya tidak menjadi fokus perhatianku di saat seperti ini.

Namun, saat itulah pandanganku mulai bergetar. Sebuah kotak transparan, mirip antarmuka gim video, muncul tepat di atas kepala perawat itu. Awalnya buram, lalu perlahan menajam dengan teks berwarna neon yang berpendar.

[Analisis Target Dimulai...]

Nama: Shinta Rahayu

Pekerjaan: Perawat Junior

Status:

Kesehatan: 88/100

Logika: 72/100

Kepatuhan: 65/100

Gairah: 12/100

Mood: Lelah, Teriritasi.

Aku mengerjap berkali-kali, mengira ini adalah efek samping dari benturan di kepalaku. Gegar otak. Ya, pasti itu. Tapi kotak itu tidak hilang. Bahkan saat Shinta mendekat untuk memeriksa infusku, angka-angka itu ikut bergerak, menyesuaikan jarak dengannya.

"Mas Erlan? Bisa dengar suara saya? Coba ikuti arah jari saya," ucap Shinta dengan nada profesional yang dipaksakan. Matanya melirik jam tangan, seolah menghitung detik sampai shift-nya berakhir.

Aku tidak melihat jarinya. Aku terpaku pada angka Gairah: 12. Angka itu sangat rendah, kontras dengan bagaimana dadanya yang membusung saat ia membungkuk untuk memeriksa denyut nadiku. Ada sesuatu yang sangat aneh di sini. Bukan hanya aku bisa melihat statusnya, tapi aku merasa seolah-olah ada koneksi antara pikiranku dan kotak transparan itu.

Sistem Otoritas diinisialisasi, sebuah suara mekanis bergema di dalam kepalaku, begitu jernih hingga membuat bulu kudukku meremang.

Level Otoritas: 1.

Poin Tersedia: 10.

"Mas? Kok malah bengong?" Shinta mengibaskan tangannya di depan wajahku. "Apa kepalanya masih pusing banget? Saya panggilkan dokter ya?"

"Tunggu," suaraku serak, hampir tidak terdengar.

Aku menatap status Shinta sekali lagi. Sebuah dorongan impulsif muncul. Di samping angka Kepatuhan, ada simbol '+' kecil yang berkedip. Seolah-olah sistem ini menantangku untuk mencoba.

Gunakan 5 poin untuk meningkatkan Kepatuhan Shinta Rahayu? pesan sistem muncul di benakku.

Ya, jawabku dalam hati, setengah ragu, setengah penasaran.

Seketika, angka 65 itu berubah menjadi 70. Dan saat itu juga, aku melihat perubahan yang mustahil secara medis. Bahu Shinta yang tadinya tegang tiba-tiba rileks. Ekspresi jengkel di matanya menghilang, digantikan oleh sorot mata yang lebih lembut hampir tunduk.

"Ah... maksud saya, Mas Erlan butuh sesuatu? Minum? Atau posisi bantalnya kurang nyaman?" nadanya berubah total. Tidak ada lagi nada malas. Sekarang ia terdengar seperti seseorang yang benar-benar ingin melayaniku.

"Air..." bisikku.

"Tentu, sebentar ya." Ia bergegas mengambilkan gelas, jemarinya menyentuh tanganku dengan lembut saat ia membantuku minum. Sentuhannya terasa berbeda. Terasa ada aliran hangat yang menjalar dari kontak kulit itu. Tidak ada lagi jarak profesional yang dingin.

Aku meneguk air itu sambil terus memperhatikan layar status di atas kepalanya. Poin otoritas di kepalaku berkurang, tapi kendali yang kurasakan sangat nyata. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah realitas yang bisa kuubah sesuai keinginanku.

Perawat yang tadinya menganggapku beban, kini menatapku seolah perintahku adalah prioritas utamanya. Dan ini baru level satu. Baru Shinta.

Aku menyandarkan kepala kembali ke bantal, sebuah senyum tipis tersungging di bibirku yang pecah-pecah. Dunia tidak akan pernah sama lagi. Di luar sana, ada ribuan orang dengan status yang menunggu untuk aku manipulasi.

"Terima kasih, Shinta," kataku, sengaja menyebut namanya dengan nada yang lebih dalam.

Ia tersipu, rona merah tipis muncul di pipinya yang bersih.

Gairah: 15.

Angkanya naik sedikit hanya karena aku menyebut namanya dengan cara seperti itu.

"Sama-sama, Mas Erlan. Saya akan di sini kalau Mas butuh apa-apa lagi. Apa saja..."

Shinta masih berdiri di samping ranjangku, merapikan selimut dengan gerakan yang jauh lebih telaten dari sebelumnya. Aku bisa merasakan tatapannya sesekali mencuri pandang ke arahku. Statusnya masih mengambang di sana, pendar neonnya seolah mengejek hukum alam yang kukenal selama dua puluh lima tahun ini.

Pintu bangsal terbuka dengan suara gesekan roda yang halus. Seorang pria paruh baya dengan jas putih dokter masuk, diikuti oleh seorang dokter muda wanita yang kecantikannya seketika membuat suasana kamar yang suram ini terasa lebih cerah.

Namanya, menurut papan nama di dadanya, adalah dr. Vania. Tapi yang membuatku terpaku adalah barisan status di atas kepalanya.

[Analisis Target...]

Nama: Vania Clarissa

Pekerjaan: Dokter Residen (Spesialis Bedah)

Status:

Kesehatan: 95/100

Logika: 92/100

Kepatuhan: 15/100

Gairah: 5/100

Mood: Fokus, Dingin.

Angka Kepatuhan: 15? Aku hampir tertawa dalam hati. Wanita ini adalah tipe alfa. Logikanya tinggi, namun kepatuhannya hampir tidak ada. Dia tipe yang memerintah, bukan diperintah. Rambutnya diikat rapi, kacamatanya memberikan kesan intelektual yang sangat provokatif, dan cara dia berjalan menunjukkan otoritas yang mutlak.

"Pasien Erlan, bagaimana perasaanmu?" tanya dokter senior itu, namun matanya sibuk membaca papan catatan medis.

"Sedikit pusing, Dok. Tapi sudah jauh lebih baik," jawabku tenang.

Vania mendekat, dia mengambil stetoskop dan mulai memeriksaku. Wangi parfumnya campuran antara citrus dan jasmine yang mahal langsung memenuhi indra penciumanku. Saat dia menempelkan stetoskop ke dadaku, aku bisa melihat kulit lehernya yang putih bersih.

"Detak jantungmu sedikit cepat," gumam Vania tanpa ekspresi. Matanya menatapku dari balik kacamata, dingin dan analitis. "Normal untuk pasien pasca-trauma, tapi tetap harus diobservasi."

"Mungkin karena saya baru saja melihat sesuatu yang indah, Dok," sahutku pelan, sebuah keberanian yang biasanya tidak kumiliki muncul begitu saja.

Vania hanya mengangkat satu alisnya. Logika: 92. Rayuan murahan seperti itu tidak mempan padanya. Statusnya tidak bergeming.

Sisa Poin: 5.

Aku melihat ke arah barisan statusnya. Poin terakhirku. Jika aku menggunakannya pada Shinta tadi, efeknya sangat drastis karena kepatuhannya sudah cukup tinggi. Tapi pada Vania? Kepatuhan 15 itu seperti tembok beton.

Tingkatkan Gairah Vania Clarissa sebanyak 5 poin? Sistem berbisik di kepalaku.

Lakukan, perintahku.

Angka Gairah: 5 berkedip dan berubah menjadi 10.

Hanya naik 5 poin, tapi aku melihat perubahan kecil yang menarik. Vania yang tadi hendak menarik diri, tiba-tiba terdiam sejenak. Tangannya yang memegang stetoskop di dadaku tidak segera beranjak. Dia menarik napas sedikit lebih dalam.

"Mas Erlan, tolong jangan bercanda. Anda baru saja lolos dari maut," katanya. Suaranya masih dingin, tapi ada sedikit getaran tipis di sana. Statusnya berubah: Mood: Sedikit Terganggu / Bingung.

"Saya serius, Dok. Rasanya seperti terbangun di dunia yang berbeda," aku menatap matanya dalam-dalam.

Vania membuang muka, merapikan alatnya dengan gerakan yang sedikit lebih terburu-buru dari biasanya. "Shinta, pastikan jadwal obatnya tepat waktu. Berikan sedatif ringan jika dia mulai meracau lagi."

"Baik, Dok," jawab Shinta dengan nada yang sangat patuh tentu saja, kepatuhannya sudah ku-upgrade.

Vania keluar dari kamar tanpa menoleh lagi, tapi aku sempat melihat dia memperbaiki tatanan rambutnya di pantulan kaca pintu. Sebuah gestur bawah sadar yang dilakukan wanita saat mereka merasa diperhatikan.

Aku menarik napas panjang, merasakan kekuatan yang berdenyut di balik mataku. Poin otoritas-ku sekarang nol, tapi aku tidak khawatir. Jika sistem ini bekerja seperti yang kupikirkan, akan ada cara untuk mendapatkan lebih banyak poin.

Shinta kembali mendekat setelah dokter pergi. Dia duduk di pinggir ranjangku sebuah tindakan yang sangat tidak profesional untuk seorang perawat di bangsal umum.

"Mas Erlan beneran nggak apa-apa? Tadi Mas berani banget sama dr. Vania. Dia itu dokter paling galak di sini, lho," bisik Shinta. Tangannya kini berani mengelus lenganku pelan.

Aku menatap Shinta. Kepatuhan: 70. Gairah: 18.

"Kenapa? Kamu takut dia memarahiku?" tanyaku sambil meraih jemarinya.

Shinta sedikit tersentak, tapi dia tidak menarik tangannya. Malah, dia membiarkan jemariku membelai telapak tangannya. "Bukan... cuma, Mas Erlan beda banget sama tadi pagi waktu baru masuk."

"Tentu saja aku beda. Aku sudah melihat 'angka' yang sebenarnya, Shinta," bisikku sambil menarik tangannya sedikit lebih dekat ke arahku.

Wajah Shinta memerah sempurna. Dia menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang, sebelum kembali menatapku dengan tatapan yang mulai berkabut.

Shinta masih bergeming, tangannya yang mungil kini berada dalam genggamanku. Aku bisa merasakan denyut nadinya yang sedikit lebih cepat dari biasanya melalui kulit tipis di pergelangan tangannya. Matanya yang tadi lelah kini berbinar oleh sesuatu yang lebih dari sekadar rasa kasihan sebagai perawat.

"Mas Erlan... jangan begini, nanti kalau ada yang masuk gimana?" bisiknya, tapi dia sama sekali tidak berusaha menarik tangannya.

Aku hanya tersenyum tipis. Aku tahu persis kenapa dia tidak bergerak. Angka Kepatuhan: 70 itu bekerja seperti magnet yang menariknya padaku. Dia merasa harus menuruti apa pun yang aku lakukan, meski logikanya mungkin masih berteriak bahwa ini salah.

"Memangnya ada yang masuk di jam segini?" tanyaku dengan nada rendah, sambil sedikit menarik tangannya agar dia condong lebih dekat ke arahku.

Wajah Shinta kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Bau cologne bayi dan sabun rumah sakit yang khas dari tubuhnya tercium jelas. Aku bisa melihat bulu mata lentiknya bergetar hebat.

[Pemberitahuan Sistem]

Target: Shinta Rahayu

Status Gairah Meningkat: 18 -> 22

Pemicu: Kontak Fisik & Otoritas Suara.

Menarik, pikirku. Ternyata angka-angka ini tidak statis. Mereka bisa berubah secara alami tanpa aku harus membelanjakan poin. Poin hanya jalan pintas, tapi interaksi nyata adalah bahan bakarnya.

"Tadi... dr. Vania bilang Mas Erlan harus istirahat," kata Shinta dengan suara yang hampir menghilang. Dia menelan ludah, matanya melirik ke arah bibirku.

"Aku merasa sangat sehat, Shinta. Malah, aku merasa lebih bersemangat dari biasanya," kataku sambil mengelus ibu jariku di punggung tangannya. "Katakan padaku, apa yang biasanya kamu lakukan kalau shift malammu sudah hampir selesai dan tidak ada lagi pasien yang rewel?"

Shinta menunduk, pipinya makin merah merona. "Biasanya... cuma di ruang perawat, bikin laporan."

"Malam ini jangan terburu-buru kembali ke sana," bisikku.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Shinta tersentak dan segera menarik tangannya, pura-pura memeriksa selang infusku dengan gerakan kikuk. Pintu terbuka sedikit, dan seorang perawat lain melongokkan kepala.

"Shin, dicari Bu Maya di depan. Katanya ada berkas yang belum ditandatangani."

"I-iya, sebentar!" Shinta menjawab dengan nada tinggi yang sedikit panik.

Temannya itu pergi lagi. Shinta menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang gemetaran. Dia menatapku sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang penuh dengan janji yang tak terucap.

"Aku harus ke depan dulu, Mas. Nanti... nanti aku kembali lagi untuk cek tensi terakhir," katanya cepat-cepat.

Aku hanya mengangguk, membiarkannya pergi. Begitu dia menutup pintu, aku kembali menatap langit-langit bangsal yang putih. Keheningan kembali melingkupiku, tapi kali ini aku tidak merasa kesepian. Pikiranku justru sibuk membedah setiap detail antarmuka transparan yang masih melayang di sudut mataku.

Sistem, panggilku dalam hati. Bagaimana cara aku mendapatkan poin lagi?

Hening sejenak sebelum teks neon muncul di depanku.

[Misi Harian Tersedia]

1. Penaklukan Awal: Buat target dengan Kepatuhan di atas 70 menunjukkan loyalitas absolut

(Hadiah: 10 Poin Otoritas).

2. Provokasi Otoritas: Buat target dengan Logika tinggi (Vania) kehilangan fokus karena kehadiranmu

(Hadiah: 15 Poin Otoritas).

3.volusi Hasrat: Tingkatkan total Gairah di ruangan ini hingga akumulasi 100 poin

(Hadiah: 20 Poin Otoritas).

Aku menyeringai. Misi-misi ini... seolah-olah sistem ini tahu persis apa yang ada di pikiranku. Ini bukan sekadar tentang bertahan hidup setelah kecelakaan. Ini tentang bagaimana aku mendominasi setiap aspek dari kehidupan baruku ini.

Kecelakaan itu bukan akhir. Itu adalah proses pembersihan untuk Erlan yang lemah, dan kelahiran bagi Erlan yang memegang kendali atas segalanya.

Suara pintu bangsal kembali terbuka perlahan. Aku mengira itu Shinta yang kembali, tapi sosok yang muncul adalah pria besar dengan setelan jas hitam yang tampak tidak pas di tubuhnya. Wajahnya keras, dan saat aku menatapnya, layar statusnya muncul dengan warna merah yang peringatan.

[Analisis Target...]

Nama: Tidak Diketahui (Anak Buah)

Status:

Kesehatan: 90/100

Logika: 40/100

Kepatuhan: 95/100 (Kepada Pihak Lain)

Mood: Agresif, Waspada.

Jantungku berdegup kencang. Pria ini bukan staf medis. Dan status kepatuhannya yang tinggi kepada 'pihak lain' memberitahuku bahwa dia datang bukan untuk menjenguk dengan ramah.

"Erlan?" suaranya berat dan kasar.

Aku menatapnya tajam, mencoba tetap tenang meski poin otoritas-ku sedang kosong. "Siapa kamu?"

Pria itu mendekat, matanya menyapu ruangan sebelum terkunci pada wajahku. "Bos ingin tahu kenapa kamu masih bernapas setelah truk itu menghantam mobilmu."

Pria itu melangkah maju, bayangannya yang besar menelan cahaya lampu di atas ranjangku. Tangannya yang kasar meraba saku jasnya, sebuah gerakan yang membuat instingku berteriak waspada. Kepatuhan: 95. Pria ini adalah anjing penjaga yang setia, tapi bukan padaku.

"Katakan pada bosmu," kataku, mencoba menjaga suaraku tetap stabil meski jantungku berdegup kencang, "bahwa truk itu tidak cukup kuat untuk menjemput nyawaku hari ini."

Pria itu menyeringai, menampilkan barisan gigi yang tidak rata. "Bos tidak suka jawaban filosofis, Erlan. Dia lebih suka melihat bukti fisik."

Tangannya mulai menarik sesuatu yang berkilat dari saku jasnya. Namun, tepat sebelum dia bisa melakukannya, pintu bangsal terdorong terbuka dengan kasar.

"Mas Erlan! Saya bawa...."

Shinta masuk dengan nampan berisi peralatan medis, suaranya terputus saat melihat sosok pria asing itu. Nampan di tangannya sedikit bergetar.

"Siapa Anda? Jam besuk sudah habis!" suara Shinta terdengar tegas, pengaruh dari Kepatuhan: 70 yang kuberi padanya membuatnya merasa memiliki kewajiban mutlak untuk melindungiku.

Pria itu menoleh, menatap Shinta dengan pandangan meremehkan. "Keluar, Suster. Ini urusan laki-laki."

Shinta tidak bergerak. Sebaliknya, dia justru melangkah maju, menempatkan dirinya di antara aku dan pria itu. "Saya bilang keluar atau saya tekan tombol darurat sekarang juga!"

Aku melihat status Shinta berkedip. Mood: Takut tapi Nekat. Tangannya yang memegang pinggiran nampan gemetaran, tapi dia tidak mundur satu inci pun. Pria itu mendengus, melirik ke arah kamera pengawas di sudut ruangan, lalu kembali menatapku dengan mata menyipit.

"Keberuntunganmu masih bertahan, Erlan. Tapi rumah sakit ini punya banyak pintu masuk," bisiknya cukup rendah hingga hanya aku yang bisa mendengar. Dia menyenggol bahu Shinta dengan kasar saat dia melangkah keluar, membuat perawat itu hampir terjatuh.

Begitu pria itu menghilang di koridor, Shinta langsung berbalik arah. Wajahnya pucat pasi. Dia menjatuhkan nampannya di atas meja nakas dan langsung memeluk lenganku.

"Mas... Mas Erlan kenal orang itu? Dia kelihatan ngeri banget," suaranya gemetar hebat.

Aku bisa merasakan dada Shinta naik-turun dengan cepat karena napasnya yang tidak teratur, menempel erat pada lenganku yang masih terbalut perban. Ketakutannya nyata, tapi ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh di balik rasa takut itu.

[Pemberitahuan Sistem]

Misi Harian Terdeteksi: Penaklukan Awal (Progress: 80%)

Gairah Shinta Rahayu: 25 -> 35

Mood: Terguncang, Membutuhkan Perlindungan.

"Tenanglah, Shinta. Dia hanya masa lalu yang mencoba mengejarku," kataku lembut, sambil menariknya lebih dekat hingga dia terduduk di pinggir ranjang. Tanganku mengelus rambutnya, mencoba menenangkannya sekaligus menguji sejauh mana otoritas ini bisa bekerja tanpa poin.

Shinta membenamkan wajahnya di pundakku, menghirup aroma tubuhku yang bercampur bau obat. "Jangan biarkan dia masuk lagi, Mas. Saya... saya takut terjadi apa-apa sama Mas."

"Kamu akan menjagaku, kan?" bisikku tepat di telinganya.

Shinta mendongak, matanya yang sedikit berair menatapku dengan pengabdian yang hampir buta. "Iya. Saya akan pastikan tidak ada yang bisa menyentuh Mas Erlan selama saya di sini."

Ting!

[Misi Selesai: Penaklukan Awal]

Target menunjukkan loyalitas absolut di bawah tekanan.

Hadiah: 10 Poin Otoritas.

Level Otoritas: 1 -> 2.

Aku bisa merasakan gelombang energi baru mengalir ke mataku. Penglihatanku menjadi lebih tajam. Angka-angka yang melayang di atas kepala Shinta kini memiliki warna yang lebih kontras, dan aku merasa bisa melihat detail status yang lebih dalam jika aku memikirkannya.

Sepuluh poin baru. Cukup untuk meruntuhkan pertahanan dr. Vania, atau mengubah Shinta menjadi peliharaan yang paling setia di rumah sakit ini.

Aku menatap Shinta yang masih memelukku. Dia adalah pion pertamaku di papan catur ini. Dan di luar sana, pria berjas hitam itu adalah pengingat bahwa aku tidak boleh membuang waktu. Aku butuh kekuatan lebih besar. Aku butuh lebih banyak orang di bawah kendaliku.

"Shinta," panggilku pelan.

"Ya, Mas?"

"Kunci pintunya. Aku tidak ingin ada orang lain yang masuk selain kamu malam ini."

Shinta ragu sejenak, logikanya berperang dengan perintahku. Tapi angka Kepatuhan: 70 dan Gairah: 40 miliknya memenangkan pertempuran itu. Dia berdiri dengan kaki yang sedikit lemas, berjalan menuju pintu, dan memutar kunci dengan bunyi klik yang memuaskan.

Aku bersandar pada bantal, menatap layar sistem yang kini menampilkan statistik pribadiku yang mulai meningkat.

Permainan baru saja dimulai. Dan di dunia yang dikuasai status ini, aku adalah sang pemegang otoritas.

More Chapters