Langit di atas Planet Monos tidak pernah benar-benar biru. Di bawah naungan bintang raksasa Grandis 5, cakrawala Valerion selalu diselimuti warna jingga yang menyakitkan mata, seolah-olah dunia ini sedang terbakar perlahan dalam api abadi.
Di suatu tempat, cahaya Grandis 5 menembus kaca patri Gereja Imperion cabang Luvorth, memproyeksikan bayangan santo-santo yang terdistorsi di lantai marmer yang dingin.
Di kota Luvorth yang penuh sesak oleh kaum papa dan pemuja fanatik, Gereja Imperion berdiri tegak seperti pilar gading di tengah tumpukan bangkai. Namun, keindahan arsitektur itu tidak menjangkau sudut tersepi di perpustakaan bawah tanahnya yang lembap. Di sanalah ia berada.
Seorang anak laki-laki berpakaian lusuh, dengan kain yang begitu tipis hingga angin musim gugur yang merayap masuk lewat celah ventilasi sanggup membuat tulang-tulangnya bergetar.
Cane. Nama itu tidak berarti apa-apa. Itu hanyalah label yang diberikan oleh Uskup Luvorth saat menemukannya meringkuk di keranjang sampah pada hari pelantikannya. Bagi Gereja, Cane adalah proyek amal—sebuah bukti hidup tentang "belas kasih" yang bisa dipamerkan kepada jemaat.
Namun bagi Cane, hidup adalah rentetan rutinitas yang mematikan jiwa: menyapu lantai dari darah peziarah yang merangkak hingga lutut mereka hancur, membersihkan altar dari lilin yang meleleh, dan mengabdikan sisa waktunya untuk belajar menjadi kandidat pastor dalam diam.
Tangannya yang kasar membalik halaman sebuah manuskrip kuno yang sudah mulai menguning. Matanya yang gelap, yang menyimpan kehampaan lebih dalam dari sumur tua, menatap baris demi baris tulisan tentang Dewa Luxerion.
"Kebenaran adalah pedang, dan Iman adalah perisainya. Luxerion tidak perlu menampakkan diri, karena setiap napas orang benar adalah manifestasi dari eksistensi-Nya."
Cane mendengus pelan, sebuah suara yang hampir tidak terdengar di perpustakaan yang sunyi itu. Di luar sana, orang-orang saling membunuh demi membuktikan siapa yang paling suci. Namun di dalam buku ini, semuanya terdengar begitu mulia.
Sistem Iman di Monos adalah rantai yang mengikat realitas. Setiap anggota Gereja Imperion terobsesi pada Luxerion, sang Dewa Kebenaran yang misterius. Berbeda dengan dewa-dewa picisan yang pamer kekuatan di alun-alun kota—seperti Dewa Cinta yang menyatukan dua insan atau Dewa Kelimpahan yang menumbuhkan gandum dalam semalam—Luxerion adalah keheningan yang absolut. Ia tidak pernah menampakkan wajah. Ia tidak pernah bersuara. Namun, kekuatannya adalah fondasi dari tatanan Monos saat ini.
Cane membaca tentang peristiwa agung yang terjadi beberapa dekade silam, sebuah legenda yang menjadi dogma bagi setiap kandidat pastor. Saat itu, seorang penganut Dewa Pedang—entitas yang menjanjikan ketajaman mutlak yang mampu membelah ruang—berniat mengeksekusi seorang pria pendosa di sebuah desa terpencil. Penganut itu telah menarik pedangnya, sebuah serangan yang secara logis harus berakhir dengan kematian. Namun, Paus Gereja Imperion pada saat itu berdiri di sana. Tanpa baju besi, tanpa senjata.
Hanya dengan satu jari yang terangkat, Paus menghentikan bilah pedang yang mampu memotong intan tersebut.
Bukan karena fisik Paus yang kuat, melainkan karena imannya. Paus meyakini, dengan keyakinan yang begitu absolut hingga hukum fisika pun harus mengalah, bahwa tindakan penganut Dewa Pedang itu salah. Dan karena Luxerion adalah Dewa Kebenaran, maka apa pun yang dianggap salah oleh wakil-Nya di dunia, tidak akan pernah diizinkan untuk terjadi. Keyakinan itu menulis ulang realitas. Jika Paus berkata pedang itu tidak akan melukainya, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk memastikan pedang itu kehilangan ketajamannya.
"Logika yang absurd," bisik Cane. Ia menutup buku itu, menimbulkan kepulan debu yang menari-nari di bawah sinar Grandis 5 yang pucat.
Cane memandang ke arah jendela kecil di atas sana. Di gereja ini, gelar dan kekuatan dibagikan berdasarkan seberapa besar seseorang bisa menipu dirinya sendiri untuk percaya. Para Kardinal dan Uskup Agung memanifestasikan iman mereka dalam bentuk cahaya—api suci yang mampu membakar dosa dan menyembuhkan luka. Mereka menyebut diri mereka pembawa cahaya, sementara Cane selalu berada di balik bayang-bayang, memegang sapu lidi yang kayunya sudah mulai lapuk.
"Kenapa kau masih di sini, Anak Terbuang?" Sebuah suara berat memecah kesunyian.
Uskup Luvorth berdiri di ambang pintu, jubah putihnya yang dihiasi benang emas tampak sangat kontras dengan lingkungan perpustakaan yang kusam. Pria itu menatap Cane bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan rasa kasihan yang merendahkan—jenis kasih sayang yang diberikan manusia kepada seekor anjing liar yang cacat.
"Aku sedang belajar, Bapa," jawab Cane datar, tanpa berdiri dari kursinya. Sebuah tindakan yang dianggap tidak sopan, namun sang Uskup terlalu malas untuk menghukumnya hari ini.
"Belajarlah sesukamu, tapi jangan lupa tempatmu. Kau adalah kandidat pastor karena kemurahhatian Gereja. Berdoalah pada Luxerion yang Agung agar suatu hari nanti kau bisa merasakan setetes saja dari cahaya-Nya. Tanpa iman, kau hanyalah onggokan daging yang menunggu untuk busuk di planet ini." Uskup itu berbalik dan pergi, meninggalkan aroma kemenyan yang tajam dan memuakkan.
Cane kembali menatap sampul buku di hadapannya. Ia meraba dadanya sendiri. Di sana, tidak ada getaran iman untuk Luxerion. Tidak ada kekaguman pada cahaya para Kardinal. Yang ada hanyalah sebuah kesadaran dingin yang mulai mengakar sejak ia pertama kali bisa berpikir.
Dunia berkata bahwa seseorang harus menyembah dewa untuk menjadi kuat. Dunia berkata bahwa kebenaran ditentukan oleh apa yang tertulis dalam kitab suci.
Tapi bagaimana jika kebenaran itu hanyalah sebuah kebohongan yang disepakati bersama? pikir Cane.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju cermin perak yang sudah kusam di sudut ruangan. Ia melihat pantulan dirinya: seorang remaja dengan rambut hitam berantakan, mata ungu yang tajam namun letih, dan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
Di dunia di mana orang-orang memperoleh kekuatan dengan memuja entitas sekelas Dewa, Cane mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia tidak butuh cahaya dari Luxerion. Ia tidak butuh izin dari langit untuk menjadi kuat.
"Paus menahan pedang karena dia percaya itu salah," gumam Cane, tangannya menyentuh permukaan cermin yang dingin. "Lalu, apa yang terjadi jika aku percaya bahwa aku adalah pemilik dari hukum sebab-akibat itu sendiri?"
Sebuah pemikiran sesat. Pemikiran yang jika diketahui oleh Gereja, akan membuat Cane dibakar di tiang gantungan sebagai heretik tingkat paling tinggi. Namun, di tengah kesunyian perpustakaan itu, sesuatu yang gelap dan purba seolah merespons pikirannya. Cane tidak merasa takut. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah seluruh Planet Monos, bintang Grandis 5, dan bahkan para Dewa yang duduk di singgasana mereka, hanyalah sekadar debu yang hinggap di bahunya.
Ia meyakini satu hal. Bukan tentang Luxerion, bukan tentang surga yang dijanjikan Paus.
Ia meyakini bahwa dirinya, Cane, adalah titik pusat dari segala keberadaan. Bahwa dunia ini ada hanya karena ia melihatnya. Dan bahwa suatu hari nanti, realitas itu sendiri harus berlutut di bawah kakinya, bukan karena ia benar, tapi karena keberadaannya.
Cane mengambil sapunya, melangkah keluar dari perpustakaan menuju halaman gereja yang luas untuk mulai menyapu. Langkah kakinya terasa lebih berat, seolah setiap pijakannya memberikan beban baru pada kerak Monos. Di bawah cahaya Grandis 5 yang menyengat, sang "Anak Terbuang" mulai merencanakan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh nabi mana pun.
Zaman Keberkahan mungkin telah tiba bagi umat manusia, namun bagi Cane sang "Anak Terbuang", ini hanyalah awal dari zaman di mana ia akan membuktikan bahwa Surga tidak perlu diraih, Surga harus ditaklukkan.
