Ficool

Chapter 1 - part 1 and next

Di bawah terik matahari Meksiko tahun 1989, di sebuah kota kecil kumuh di pinggiran Ciudad de México, hidup seorang gadis bernama Isabella Morales. Kulitnya sawo matang deep brown yang berkilau lembut seperti madu gelap di bawah cahaya senja. Hidungnya mancung tegas, matanya bulat besar seperti boneka hidup—bulu matanya panjang dan lentik, membuat siapa pun yang menatapnya merasa sedang melihat sesuatu yang terlalu indah untuk dunia yang rusak ini. Bibirnya kecil namun tebal, selalu tampak basah meski ia jarang tersenyum. Wajahnya glowing sehat, seolah cahaya surgawi tersembunyi di balik pori-porinya. Parasnya secantik dewi—menyaingi Aphrodite yang lahir dari busa laut atau Isis yang menyatukan dua kerajaan Mesir kuno.

Di usia lima belas tahun, tubuhnya masih kurus kerempeng. Tinggi 167 cm dengan berat badan yang sangat ringan, tulang-tulangnya hampir terlihat di balik kulit sawo matangnya yang tipis. Kekurangan makan kronis membuatnya tampak rapuh seperti patung kaca yang bisa pecah kapan saja. Kecantikan itu adalah kutukannya.

Sejak berusia enam tahun, Isabella sudah mengenal rasa sakit yang tak seharusnya dirasakan seorang anak. Ayahnya, Miguel Morales, seorang pria pemalas yang tak pernah bekerja. Pekerjaannya hanya satu: keluar malam ke bar-bar kumuh untuk mencari wanita-wanita murahan dan melampiaskan nafsu. Nafkah? Tak pernah ada satu peso pun. Rumah mereka selalu gelap, listrik sering diputus, dan perut Isabella kerap kosong berhari-hari.

Ibu kandungnya, Elena, perempuan lemah yang terlalu mencintai suaminya yang playboy itu. Setiap malam Elena menangis di sudut dapur sambil curhat kepada Isabella yang masih kecil. "Ayahmu… dia tak bisa diubah, mi hija. Tapi aku mencintainya." Elena tak pernah berani membela putrinya. Ia hanya berdiri diam saat suaminya marah.

Siksaan dimulai dari gudang belakang rumah yang kotor, berdebu, penuh sarang laba-laba tebal yang menjuntai seperti tirai neraka. Miguel menjambak rambut hitam panjang Isabella, mendorongnya masuk ke dalam kegelapan itu, lalu mengunci pintu dari luar. "Kau anak sialan! Beban keluarga ini!" teriaknya. Isabella meringkuk di pojok, tubuh kurusnya gemetar. Tangisannya pecah mengharukan—suara kecil yang rapuh seperti kaca retak—tapi tak pernah didengar siapa pun.

Setiap hari adalah neraka baru. Pukulan, tendangan, hinaan kasar. Stres yang tak tertahankan itu perlahan membunuhnya dari dalam. Sejak usia sepuluh tahun, maag akut dan GERD sudah menghantuinya. Setiap malam ia terbangun dengan dada terbakar seperti ada api yang menyala di kerongkongan, asam lambung naik, mual hebat, dan rasa pahit yang tak hilang. Darahnya terlalu manis; luka kecil saja bisa berdarah lama. Ditambah penyakit jantung bawaan yang membuat detak jantungnya tiba-tiba liar seperti genderang perang saat stres memuncak.

Penderitaan bertubi-tubi itu melahirkan sesuatu yang gelap di dalam dirinya.

Pada usia sepuluh tahun, kelainan jiwa mulai muncul. Isabella merasa ada jiwa lain yang hidup di dalam tubuhnya—seorang pria tampan yang ketampanannya menyaingi dewa-dewa Yunani dan Mesir. Kadang ia muncul sebagai asap hitam pekat berbentuk pria dewasa, suaranya dalam dan menenangkan. Kadang wujud aslinya terlihat jelas: rambut hitam legam, kulit pucat sempurna, senyum yang bisa membuat malaikat jatuh ke neraka. "Aku di sini, Bella," bisiknya di kepala Isabella saat gadis itu menangis sendirian di kegelapan. "Kita satu."

Masyarakat sekitar menghinanya tanpa ampun. "Anak kurus aneh," bisik tetangga. "Mirip iblis yang menyamar jadi malaikat." Isabella sering mencoba mengakhiri hidupnya—meminum obat maag berlebihan, memotong pergelangan tangan dengan pisau dapur tumpul—tapi selalu gagal. Jiwa pria di dalamnya selalu menahannya. "Belum waktunya," katanya lembut tapi tegas.

Hingga suatu sore di tahun 1989, saat Isabella berusia lima belas tahun, ia menemukan selembaran kertas lusuh yang terselip di pasar tradisional. "Jasa apa saja. Guru les piano. Pembersih rumah. Apa pun yang Anda butuhkan. Hubungi Rafael Vargas."

Ia pergi ke alamat yang tertera: sebuah rumah besar di pinggiran kota yang tampak terlalu mewah di tengah krisis ekonomi saat itu. Pintu dibuka oleh seorang pria berusia 25 tahun bernama Rafael Vargas. Ketampanannya bukan sesuatu yang bisa digambarkan dengan kata-kata biasa. Kulitnya putih pucat seperti porselen mahal, hidung mancung sempurna, mata bulat dengan tatapan tajam seperti elang yang siap menerkam. Bibirnya kecil dan tipis, lipatan mata dalam yang membuat pandangannya menusuk hingga ke jiwa. Rambut gondrongnya hitam berkilau. Senyumnya adalah senyum maut—mematikan, mampu membuat jantung wanita mana pun berhenti sejenak. Hanya sepuluh persen dari ketampanannya yang bisa dituangkan dalam lukisan atau pahatan marmer; sisanya adalah mimpi buruk yang indah.

Rafael adalah dokter kejiwaan di rumah sakit swasta termahal di kota itu. Ia menatap Isabella dengan pandangan yang seolah sudah tahu segalanya tentang gadis di depannya.

"Siapa namamu?" tanyanya basa-basi, suaranya lembut namun dingin.

Isabella, yang jarang bersosialisasi, menjawab dengan gagap. "I-Isabella…"

Rafael tersenyum tipis. "Kau butuh jasa apa?"

Isabella menatap lantai sejenak, lalu mengangkat wajahnya. Matanya yang seperti boneka hidup berkaca-kaca. "Apakah Anda menyediakan jasa… menculik? Seperti adegan yang seolah-olah tak direncanakan. Anda culik saya, bawa saya pergi ke tempat yang sangat jauh, hingga tak ada seorang pun yang bisa menemukan saya."

Ruangan menjadi hening. Rafael terdiam beberapa saat, mata elangnya menyipit. "Ya, tentu saja bisa."

"Harganya berapa?"

"Tergantung berapa lama kau ingin diculik."

"Saya ingin… selamanya."

Rafael tertawa pelan. Suara itu seperti belati yang dibungkus sutra hitam. "Kalau untuk selamanya, harganya sangat mahal. Kau tak akan mampu membayarnya."

"Berapa?"

"Nyawamu. Dan keluargamu."

Isabella menelan ludah. Dada nya terbakar karena GERD yang langsung kambuh karena tegang. Tapi ia tersenyum kecil, bibir tebalnya bergetar. "Baiklah. Deal."

Penculikan itu terjadi dua hari kemudian, dengan cara yang tak seorang pun bisa duga.

Isabella sedang berjalan pulang dari pasar kecil, membawa roti basi yang ia curi karena kelaparan. Tiba-tiba sebuah mobil hitam elegan berhenti di sampingnya. Rafael turun, berpakaian rapi seperti dokter yang baru selesai tugas. Ia tersenyum maut itu. "Kau tersesat, señorita?"

Sebelum Isabella sempat menjawab, sepotong kain beraroma manis menutup hidung dan mulutnya. Dunia berputar cepat. Yang terakhir ia ingat adalah bisikan Rafael di telinganya, "Selamat datang di selamanya, Bella."

Ketika ia tersadar, ia sudah berada di sebuah rumah mewah tersembunyi di pegunungan dekat perbatasan, jauh dari peradaban. Rumah itu seperti istana gelap—penuh rak buku psikologi tebal, alat-alat medis, dan ruangan-ruangan yang selalu terkunci.

Rafael merawatnya dengan tangan dingin tapi telaten. Ia memberikan obat untuk maag dan jantung Isabella, memasak makanan bergizi yang tak pernah gadis itu dapatkan di rumah lamanya. Tubuh kurus kerempeng Isabella perlahan mulai pulih, tapi masih jauh dari gemuk.

Hubungan mereka berkembang dalam kegelapan yang twisted dan mengerikan. Rafael menciumnya pertama kali di ruangan bawah tanah yang dingin, saat Isabella mencoba melarikan diri dan jantungnya hampir kambuh. Ciuman itu kasar, penuh kepemilikan. Bibir tipis Rafael menekan bibir tebal Isabella hingga ia merasakan rasa darah manisnya sendiri. "Kau milikku sekarang," bisiknya di antara napas mereka. "Bukan ayahmu. Bukan siapa pun lagi."

Ada momen-momen romantis yang gelap dan memabukkan. Rafael memainkan piano tua di ruang tamu sambil Isabella duduk di pangkuannya, tubuh kurusnya bersandar pada dada pria itu. Ia bercerita tentang jiwa pria di dalam dirinya, dan Rafael mendengarkan dengan mata tajam, kadang tersenyum seolah ia bisa melihat sosok itu juga.

Malam-malam horor datang tanpa aba-aba. Rafael sengaja mengunci pintu, meninggalkan Isabella sendirian dalam kegelapan berjam-jam, lalu muncul tiba-tiba seperti hantu untuk memeluknya erat. "Takut?" tanyanya sambil tertawa pelan. "Bagus. Ketakutan membuatmu hidup."

Psikologi mereka saling melilit seperti ular berbisa. Isabella mulai bergantung sepenuhnya pada Rafael. Cinta gelap lahir dari trauma yang dalam. Ia memanggil nama pria itu saat serangan jantung datang, dan Rafael selalu ada—menyuntikkan obat sambil berbisik kata-kata posesif yang membuat bulu kuduknya merinding. Jiwa pria di dalam Isabella kadang "muncul", berdebat dengan Rafael di dalam pikiran gadis itu, tapi lama-kelamaan bahkan jiwa itu seolah tunduk pada kegelapan dan ketampanan dokter tersebut.

Tiga tahun berlalu dalam pelukan neraka yang manis itu. Isabella kini delapan belas tahun. Tubuhnya masih kurus, tapi jauh lebih sehat daripada dulu.

Suatu hari, keluarganya berhasil menemukannya. Elena, yang akhirnya memberanikan diri setelah bertahun-tahun, menyewa detektif swasta. Polisi datang ke rumah tersembunyi itu. Rafael sudah mempersiapkan segalanya—uang suap, dokumen palsu—tapi kali ini mereka berhasil menerobos.

Miguel Morales yang pertama memeluk Isabella di depan rumah besar itu. "Mi hija… akhirnya kau pulang."

Beberapa detik kemudian, pelukan itu berubah menjadi tamparan keras di pipi Isabella hingga bibir tebalnya berdarah. "Dasar pelacur! Kau pergi dengan laki-laki brengsek itu?!" Tinju berikutnya mendarat telak di wajahnya, membuat mata bonekanya memerah dan bengkak. Miguel menginjak-injak tubuh kurus Isabella di tanah berdebu, sepatunya menghantam perut yang sudah sakit maag. "Kau bawa malu ke keluarga ini!"

Jantung Isabella berdegup liar tak terkendali. Dada nya terbakar hebat. Napasnya tersengal-sengal. Polisi menarik Miguel menjauh, tapi kerusakan sudah terjadi.

Beberapa hari kemudian, keluarga membawa Isabella ke Casa Oscura, rumah sakit jiwa paling menakutkan dan terisolasi di seluruh Meksiko. Bangunan tua berlantai tiga dengan dinding batu gelap, lorong-lorong panjang yang selalu basah, dan jeritan pasien yang tak pernah berhenti sepanjang malam. Di sinilah para "gila" yang dianggap tak terselamatkan dikurung.

Di Casa Oscura, Isabella dipaksa menelan obat-obatan berat setiap hari. Makanannya dikontrol ketat oleh perawat-perawat kasar. Tubuhnya yang dulu kurus kerempeng mulai berubah drastis. Karena obat penenang dan makanan paksa yang tinggi kalori, berat badannya naik dengan cepat. Dalam beberapa bulan, ia berubah menjadi gadis gemuk gembrot dengan berat mencapai 95 kilogram. Tubuhnya yang dulu rapuh kini penuh dengan lemak lembut, pinggul dan paha yang membesar, perut yang sedikit menggantung. Kulit sawo matangnya tetap glowing, tapi sekarang dibalut tubuh yang montok dan berat.

Di dalam kegelapan Casa Oscura, Isabella semakin tenggelam dalam dunia batinnya. Jiwa pria tampan di dalam dirinya semakin sering muncul, berbisik kata-kata penghiburan sekaligus ancaman. "Mereka tak akan pernah mengerti kita, Bella."

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur atap rumah sakit, Isabella mendengar langkah kaki yang familiar di lorong gelap. Sebuah senyum maut muncul dari balik kegelapan.

Rafael Vargas telah kembali.

Ia berdiri di depan pintu selnya, mata elangnya menatap tubuh gemuk gembrot Isabella dengan tatapan penuh kepemilikan. "Aku bilang kan, Bella… ini belum berakhir."

Tangisan Isabella pecah lagi, tapi kali ini bercampur dengan senyum kecil di bibir tebalnya yang gemetar.

Karena di dunia yang penuh siksaan ini, satu-satunya tempat ia pernah merasa "hidup" adalah di pelukan monster yang telah menculiknya.

Dan di lorong-lorong gelap Casa Oscura, babak baru yang lebih mengerikan sedang dimulai.

More Chapters