Ficool

Chapter 2 - Prolog

Gunung Arjuno

Di mulut Goa Onto Boego, sinar mentari pagi terasa lembut di kulit

"Kalian seharusnya sudah turun kemarin."

Suara itu datang dari seorang kakek tua yang duduk mematung di dekat lubang goa, titik di mana kami baru saja turun dari ojek. Pakaiannya kusam dan kusut, wajahnya dipenuhi keriput, namun tatapannya tajam. Saat ditanya identitas dan maksud ucapannya, ia hanya bergumam tentang langit yang sedang tidak merestui salah satu dari mereka. Ia menutup kalimatnya dengan peringatan dingin, "Pulanglah kalau masih sayang nyawa."

"Omong kosong," ucap Haidar setelah mereka melangkah agak jauh dari goa.

Haidar, yang dibesarkan agar selalu mengandalkan logika, tidak sedikit pun gentar. Takhayul baginya bukan tentang apa, tapi mengapa. Orang-orang merajut cerita menyeramkan karena itu cara paling mudah agar orang-orang percaya.

"Persis seperti dialog karakter yang mati duluan di film horor," cetus Jay menyindir dengan nada tenang

Jojo tidak setenang itu. Sejak peringatan tadi, ia terus merutuk, kegelisahannya meluap-luap. Langkah mereka yang lambat membuat Haidar geram. Ia tidak terbiasa menghadapi orang-orang yang begitu mudah termakan mitos.

"Kalian beneran mau putar balik setelah bayar seratus lima puluh ribu buat ojek ke sini?" tanya Haidar, menatap kedua temannya dengan seksama.

"Aku lebih sayang nyawa daripada uang, Dar," jawab Jojo tegas.

"Oke. Jadi kita bayar ojek lagi, buang bensin buat pulang, lalu balik lagi beberapa hari kemudian dan memesan ojek yang sama? Kakek itu bisa saja sekongkol dengan tukang ojek untuk menakuti pendaki. Coba pakai logika!"

Ide mereka sekarang terdengar konyol setelah diucapkan demikian. Jay memalingkan wajah dan mengupil, pura-pura cuek, padahal dia awalnya juga setuju dengan Jojo.

 "Kita bisa jalan kaki untuk kembali ke basecamp." Balas jojo dengan wajah meringis, mengantisipasi kemarahan Haidar. Ia masih belum terbiasa dengan nada suara Haidar yang dibawa dari Palembang

"Yaudah. Kalau kalian ga berani, biar aku sendiri yang naik," ucap Haidar atas usulan Jojo.

Dengan berat hati, Jay dan Jojo mengalah. Perjalanan setelahnya jauh dari kata menyenangkan. Pikiran paranoid terus menggerogoti pikiran Jojo. Ia mengeluhkan bau melati yang mencekam, padahal itu hanya aroma perkebunan kopi yang sedang berbunga. Ia terus mengeluh bahwa jalur ini terlalu sunyi, dan terus merasa ada sesuatu yang mengawasi. Ini Arjuno, bukan pasar. Sepi itu syarat mutlak, bukan keanehan, batin Haidar, menahan diri agar tidak menghardik temannya.

Mereka melewati Pos 2 Tampuono dan mata air Dewi Kunthi dalam keheningan yang kaku. Matahari yang terik tambah membuat mereka ingin menghemat bicara yang dapat membuat mulut kering. Meskipun begitu, mereka tetap lah teman yang selalu menghabiskan waktu bersama di perkuliahan. Saat tiba di Pos 4 Alas Tengah setelah beberapa jam perjalanan, panas matahari siang seperti ikut mencairkan suasana di antara mereka. Insiden di Onto Boego telah terlupakan dan mereka dapat menikmati sisa pendakian hingga tiba di Pos 5 Makutoromo untuk bermalam.

Haidar menyadari ada rombongan lain di dekat Candi Makutoromo. Enam orang peziarah sedang membersihkan pelataran, lalu duduk melingkar di tengah kepulan asap dupa yang menusuk hidung.

"Mereka adalah para lelaku," bisik Jay. "Masyarakat lokal yang mencari berkah pada hari tertentu. Mungkin malam ini salah satunya."

Haidar dan Jay menonton kegiatan itu sebagai sesuatu yang eksotis setelah makan malam. Jojo berusaha mengalihkan pikirannya dari ketakutan yang kembali tumbuh bermain ponsel di dalam tenda.

"Perasaanku saja, atau tuh cowok terus ngeliatin kita?" tanya Haidar, merujuk pada salah satu peziarah yang usianya mungkin sebaya dengan mereka.

"kalaupun iya, sah-sah saja. Kita juga dari tadi ngeliatin mereka," balas Jay santai sambil membersihkan sisa daging kambing di sela giginya.

Sedikit lebih dari pukul sembilan malam, mereka semua sudah nyaman di dalam tenda untuk menyambut tidur. Itu lah yang terakhir kali diingat Haidar dan teman-temannya sebelum semua berubah menjadi aneh.

***

Haidar tersentak bangun saat merasakan tubuhnya diguncang hebat. Begitu menerka Jay dan Jojo dalam kegelapan, kantuknya seketika sirna.

"Apa yang terjadi?" tanyanya linglung. Ia segera menyadari keanehan, yaitu mereka tidak lagi berada di dalam tenda.

Mereka tengah terduduk di tanah terbuka yang diselimuti kabut tebal di bawah pucatnya sinar rembulan. Di sekeliling mereka, berdiri beberapa bongkahan batus besar dan tiga buah candi batu yang menyerupai pintu gerbang yang terlihat seperti sedang mengawasi.

"Itu juga yang kami ingin tahu!" sahut Jojo dengan suara gemetar.

"Kita lagi di Candi Sepilar." Jay menjelaskan dengan napas tertahan. "Sekitar sepuluh menit pendakian di atas Pos 5. Bagaimana bisa kita pindah ke sini saat tidur?" Ketenangan akhirnya runtuh dari paras tampannya.

Tanpa menunggu jawaban, mereka memutuskan turun kembali ke Pos 5. Melewati jajaran Dwarapala yang tampak mengawasi, mereka membutuhkan lebih dari sepuluh menit untuk turun karena tak ada yang mengantongi senter dan ponsel saat tidur. Rasa lega menyambut saat mereka melihat tenda mereka masih berdiri di tempat yang sama. Namun, keanehan kedua muncul: semua orang hilang.

Tidak ada peziarah. Tidak ada pendaki lain. Hanya ada mereka dan kabut yang kian pekat. Saat mengecek ponsel, sinyal nihil. Saat melihat jam menunjukkan pukul 05.46 pagi, darah mereka seketika terasa membeku. Langit di atas Arjuno masih hitam pekat seolah tengah malam,

"Mungkin matahari terbit lebih lama di sini?" gumam Haidar, berusaha mempertahankan sisa logikanya. Namun, tiga perangkat jam yang berbeda menunjukkan angka yang sama.

"Subuh seharusnya pukul empat lewat. Kita di timur Arjuno," Balas Jay. kata-katanya melambat dan mulai ragu. Ia takut akan kesimpulannya sendiri. "Fajar harusnya sudah pecah sejak tadi."

Suasana hening sejenak sebelum akhirnya dipecahkan oleh Jojo. "Tuh, kan! Harusnya kita gak naik!" Ia terlihat begitu tertekan dan menjambak rambutnya.

"Jo! Bisa tenang ga!" bentak Haidar.

"Tenang?! Kita bisa kaya gini gara-gara kamu!". Jojo menolak untuk diam. selama beberapa saat mereka terus saling bantah, hingga sebuah suara terdengar dari kejauhan dan membuat mereka semua diam. Suara yang mustahil ada di tengah hutan. Suara tabuhan gamelan yang harmonis namun menyayat. Karawitan.

"Masuk." Suara Jay serius. Haidar dan Jojo tidak mengeluh atas instruksi singkat tersebut.

Musik terus terdengar setelah mereka mengunci diri di dalam tenda. Jojo mulai meracaukan doa-doa yang tidak keruan. Haidar dan Jay terpaku. Logika Haidar berbisik ini mungkin suara speaker dari peziarah, namun aroma di sekitar mereka berubah. Aroma bangkai yang busuk bercampur melati yang pekat mendadak menguar hebat, membuat tubuh mereka gemetar hebat.

"Dedep Idep Prabawane sang Sri... Arjuno sepi dadi kratone..."

Muncul nyanyian itu, menggugurkan sisa keberanian di diri mereka. Suaranya serak dan berat, seperti tenggorokan binatang yang dipaksa meniru bahasa manusia.

"Noto agung bantarange... Nalendra dendam ing laline..."

Masing-masing dari mereka mulai merapalkan ayat-ayat yang mereka ingat dari masa kecil, meski terbata-bata karena ketakutan yang mencekik. Jika saja mereka menghafal lebih dari sekadar baris pertama, mungkin hati mereka akan sedikit lebih tenang.

Saat musik itu berhenti mendadak, mereka tidak langsung tenang. Benar saja, beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki yang berat mendekati tenda. Jantung mereka berdegup kencang, mengkhianati usaha mereka untuk tetap diam. Tenda bergoyang pelan. Mereka berharap itu pendaki lain yang sempat hilang, namun Ia dan Jay hanya bisa pasrah menatap celah ritsleting yang perlahan terbuka dari luar. Jojo menutup mata rapat-rapat.

Haidar merasakan jiwanya seolah tercerabut mulai dari kaki yang kian terasa seperti jeli saat sebuah wajah muncul di celah itu. Wajah yang berwarna merah darah dengan mata yang melotot merah, menatap ke dalam tenda dengan amarah yang meluap.

More Chapters