Ficool

Chapter 1 - BAB-1 Kepulangan

Darma Witjaksono tidak pernah benar-benar memiliki rumah.

Bahkan tempat ia dilahirkan pun… tidak pernah menerimanya.

Langkahnya berhenti tepat di depan gerbang kayu tua itu.

Masih sama.

Catnya mulai pudar, engselnya berderit pelan saat disentuh. Seolah waktu berjalan, tapi tempat ini memilih untuk diam.

Darma menatapnya beberapa detik lebih lama.

Sepuluh tahun.

Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali ia keluar dari rumah ini—tanpa benar-benar tahu apakah ia akan kembali.

Dan hari ini, ia berdiri lagi di sini.

Bukan sebagai anak.

Tapi sebagai seseorang yang dipanggil pulang.

Udara sore terasa lembap. Langit mulai gelap, menyisakan cahaya jingga yang jatuh tepat di atap joglo besar di dalam halaman.

Rumah itu masih berdiri kokoh.

Terlalu kokoh, untuk sesuatu yang menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah selesai.

Darma melangkah masuk.

Pelan.

Tanpa ragu.

Tanpa perasaan.

Pintu utama terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Seorang pria berdiri di sana.

Lebih tinggi. Lebih rapi. Lebih "sempurna".

Aditya Wicaksana.

Kakak tirinya.

"Lama tidak pulang," ucap Aditya singkat.

Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan.

Hanya kalimat yang terasa seperti formalitas.

Darma mengangguk kecil.

"Dipanggil."

Jawaban pendek. Dingin. Cukup.

Ruang utama masih sama.

Lantai marmer dingin. Ukiran kayu memenuhi dinding. Lampu gantung besar menyala redup, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di setiap sudut ruangan.

Semua terlihat mewah.

Tapi tidak ada yang terasa hangat.

Makan malam berlangsung tanpa suara.

Kursi besar di ujung meja kosong.

Tempat itu seharusnya milik kepala keluarga.

Sekarang… tidak lagi.

Darma duduk di sisi paling ujung.

Seperti dulu.

Seolah ia tahu itu bukan tempatnya.

"Besok kita bahas soal warisan."

Suara itu datang dari arah kepala meja.

Surya Witjaksono.

Ayahnya.

Masih sama.

Duduk tegak, wajah tenang, tapi sulit dibaca.

Darma tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap piring di depannya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

"Saya tidak datang untuk itu."

Hening.

Untuk pertama kalinya, suasana berubah.

Aditya mengangkat pandangannya.

Sekar yang duduk di samping hanya tersenyum tipis.

"Kamu tetap bagian dari keluarga ini," kata Surya akhirnya.

Kalimat yang seharusnya terdengar seperti pengakuan.

Tapi entah kenapa…

tidak terasa seperti itu.

Malam turun lebih cepat dari biasanya.

Kamar di ujung lorong masih ada.

Tidak berubah.

Tidak tersentuh.

Seolah memang disiapkan untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar tinggal.

Darma menutup pintu pelan.

Sunyi.

Hanya suara kipas angin dan detak jam dinding yang terdengar.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Lalu, tanpa berpikir panjang, membuka laptopnya.

Layar menyala.

Grafik bergerak naik turun.

Hijau. Merah. Angka-angka yang tidak pernah peduli siapa dia.

Darma menatapnya tanpa ekspresi.

Lebih lama dari yang seharusnya.

Sebuah suara pelan terdengar dari video yang berjalan di sudut layar.

"Tidak ada yang akan peduli sama hidupmu selain dirimu sendiri."

Darma tidak menoleh.

Tangannya tetap diam di atas trackpad.

Seolah kalimat itu bukan hal baru.

Seolah… ia sudah hidup dengan itu sejak lama.

Di luar sana, rumah besar itu tetap berdiri megah.

Penuh nama.

Penuh sejarah.

Penuh rahasia.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali…

Darma mulai menyadari satu hal:

ia tidak pulang untuk menjadi bagian dari keluarga ini.

Ia pulang…

untuk memahami sesuatu yang seharusnya tidak pernah diwariskan.

Dan sekarang warisan itu....menunggunya

NEXT~~~

More Chapters