Ficool

Chapter 8 - Bab 8

"Aku gevan dari kekaisaran terkuat galespier" gevan menatap den.

"Bagaimana kehidupan disana? Apa seru? Sejujurnya kemarin aku pergi ingin mengunjungi wilayah selatan. Dan membeli beberapa biji – bijian, karena aku selalu di tugaskan di dalam wilayah gurun ini" den dengan sedih menatap makanannya.

"Sepertinya saat pulang nanti setelah sampai tempat tujuan, aku akan melewati wilayah ini jadi tunggulah saat itu kita bisa bersama ke wilayah selatan" sambung gevan bersemangat.

"Berapa lama aku harus menunggu?" den selesai makan.

"Sepertinya butuh 5 bulan karena aku harus mendapatkan jantung naga" gevan tersenyum.

"Kau yakin ada mitos mengatakan kalau membunuh naga itu akan menjadikan kita abadi, tapi sampai sekarang tidak ada seorangpun yang pernah bertemu naga" den mendekat berbisik pada gevan.

"Akanku pikirkan setelah menemui naga langsung, karena ini mahar untuk calon istriku" lanjut gevan.

"Apa ada potret lukisan nya?" jawab den.

Akupun menunjukkan potret lukisan tersebut.

"Cantik sekali, kalian berdua harus bahagia. Perjuanganmu mendapatkan hatinya sangat menyentuh, kabarin kalau butuh bantuanku di masa mendatang" den meninggalkan gevan.

***

Beberapa hari setelah itu akupun melanjutkan perjalanan menuju ke tempat naga.

Akupun melewati berbagai rintangan binatang buas, monster, rawa – rawa, suku hutan, dll... selama 1 bulan 18 hari aku terus mencari tempat pemukiman penduduk yang masih layak di huni, dan terus melanjutkan perjalanan melewati desa mati tidak berpenghuni 2 hari setelahnya akupun menetap di desa pemberontak karena persediaanku habis.

Akupun menceritakan tujuanku yang ingin mengambil jantung naga sebagai mahar tunanganku kepada penduduk desa dan tidak lupa menunjukkan potret lukisan calon istriku kepada mereka.

Aku menetap 1 malam di tempat desa pemberontak dan melanjutkan perjalananku.

Melewati beberapa benua dan menetap setiap kali ada penduduk desa yang telihat di wilayah tersebut. Sudah 2 bulan 7 hari dari wilayah baron memulai perjalanan panjangku.

Tersebar rumor pemuda tampan yang ingin memikat tunangannya dengan jantung naga sebagai mahar pernikahannya.

Di perjalanan mendekati hutan luas tidak berpenghuni aku menatap langit dan berhenti sejenak.

*Wilayah mana lagi yang harus ku ceritakan ya, senyum jahat sambil berpikir. Satu dunia harus kalau aku akan menikah dengan calon istriku. Dalam hati sambil mikir keras.

***

Setelah pemilihan kadidat calon putri mahkota. Saat sudah di umumkan pemenangnya adalah putri grand duke valensya le karl brayzn. Saat itu aku pertama kali melihat sosok terindah yang pernahku temui. Aku yang memandangi dari kejauhan menginginkannya.

"Ayah aku ingin yang itu" menunjuk salah satu seorang kadidat tersebut gevan memegang baju ayahnya.

"Sayang tidak semua harus kamu milikin nak" duke tersenyum.

Aku menghampiri sosok terindah tersebut. Sambil membawakan coklat dan memberi coklat tersebut.

"H- halo bagaimana cara mendapatkanmu, ini coklat untuk kamu" bertanya gugup.

Diapun menerima dan berkata "Panggil dengan benar namaku mystiani de agelyzn grayson" sambil tersenyum menerima coklat itu "Aku terima coklatnya kedepannya panggil namaku mystiani" beranjak pergi.

Aku terdiam dan tersipu malu untuk sesaat memandanginya pergi dari kejauhan. "Tuan muda, tuan muda, Tuan... *Plakkk..."

"Jangan sembarangan menyentuhku" gevan menepis pelayan tersebut.

"Maaf tuan muda tadi aku memanggil anda tidak menjawab, mari kuantarkan ke tempat tuan duke berada" ujar pelayan.

***

"Makan yang banyak nak kamu harus cepat tinggi" duke memberi makanan.

"Ayah aku mau baju warna ungu tadi aku lihat seseorang cantik saat memakainya" gevan sambil makan.

"Kain tersebut harganya sangat mahal nak, kita di ibu kota hanya untuk 2 th sayang baju sekali pakai. Ayah akan membelikan baju dengan warna baru" sambung duke menatap sedih.

"Tidak apa sayang putra kita meminta kita bukan?" membujuk duke "Nanti ibu dan ayah akan berikan" duches mencium pipi duke.

"Tapi sayang masalahnya jika kita membeli baju tersebut itu sama saja dengan pengeluaran 1 th di utara, kita akan menghadapi krisis pangan" duke menatap duches.

"Gevan putra yang sudah lama kita nantikan sayang" duches senyum menatap gevan.

"Jadi ayah dan ibu tidak sayang aku. Akukan anak satu – satunya harusnya ayah dan ibu memberiku segalanya -!!" mengakhiri percakapan gevan berteriak memecahkan piring meninggalkan ruangan.

***

"Buka pintunya sayang ini ibu... biarkan ibu masuk ya" duches masuk membujuk anaknya dan memberikan baju ungu yang di minta.

Setelah hari itu gevan kembali ceria dan bermain seperti biasa.

Apapun yang di minta selalu di berikan dan harus di dapatkan apapun itu.

***

"Ayah aku masuk ya" mengetuk pintu gevan memanggil dari luar ruang kerja.

"Masuk nak ada apa" duke membuka pintu ruang kerja.

"Ayah aku besok mau menemui owen di istana buatlah surat untuk ke istana, aku mau main di taman" sambung gevan bercerita.

"Ini pilihlah potret lukisan yang akan menjadi tunanganmu" ujar duke.

Gevan melihat semua potret lukisan kecil itu dan melemparkan semuanya ke luar jendela dan memecahkan cangkir gelas.

Prakkk... prakkk... prakkk... arghhhhhh... arghhhh...

"Ada apa, sayang?" duches dengan tergesa – gesa berlari ke ruang kerja duke.

"Ini gevan yang berteriak dia melempar semua potret tunangannya lagi kali ini" ujar duke.

"TIDAK MAU! TIDAK MAU! TIDAK MAU! Aku tidak mau sama mereka" gevan berontak merengek sambil menangis keluar ruangan.

"Sepertinya dia menyukai putri marquess grayson" duke dengan kecewa.

"Kalau seperti itu kita tidak bisa berbuat apa – apa" sambung duches sedih.

"Seharusnya aku tidak membawanya ke sana" duke merasa bersalah.

"Ini bukan kesalahanmu. Kita harus mencoba dulu tetapi marquess grayson orang yang sulit untuk kita hadapi di masa depan" duches pasrah.

*Kenapa anak itu keras kepala sekali. Dalam hati duke stefmpier.

***

Setelah hari kandidat selesai duke stefmpier buru -buru mencari tunangan untuk anaknya.

Tunangan pertama dia menjambak saat pertama bertemu dan akhirnya kami memustukan pertunangannya. Yang kedua anak itu membakar gaun tunangannya saat resepsi. Yang ketiga tunangannya di buat terluka di bagian wajahnya saat memasuki kediaman.

Mereka semua tidak ada yang bisa bertahan. Kepalaku pusing memikirkan anak itu, dia pasti mogok makan lagi kalau tidakku turuti.

***

"Ayo makan sayang nak kamu udah 3 hari belum makan apapun" duches mengetok pintu dan masuk.

"Ibu sudah tidak sayang aku. Ibu cuman sayang ayah" gevan tidur sambil memalingkan wajahnya.

"Ibu sayang kalian berdua, sayang ibu jauh lebih besar untuk anak ibu" duches membujuk makan.

"Kan aku udah bilang ke ayah di waktu itu aku mau yang itu. Kenapa aku tidak bisa dapat !!! malah ayah membawa orang – orang aneh" gevan menangis.

"Ibu sudah berbicara dan menemui keluarga mereka jadi kita akan segera bertemu dengan mereka. Jadi sebelum itu nak kamu harus makan yang banyak" duches menyuapi makanan.

Beberapa setelah hari itu akupun bertemu dengan keluarga marquess grayson dan mystiani itu lah awal pertemuan ku saat usia 12 th.

***

Aku mulai membakar api unggun dan mengikat tali kuda untuk bermalam di hutan.

Lebih baik aku mengundang seluruh rakyat kekaisaran agar mereka ikut melihat pernikahan kami atau ku undang orang – orang yang selama di perjalananku ya. Tapi pasti calon istriku tidak bakal suka kedatangan banyak tamu. Tapi aku ingin dunia tahu kalau kami akan menikah. Sambil berpikir keras.

Tolong... tolong... tolong... rawrrrr...

Menghampiri suara tersebut saat mendekati melihat pemuda berambut coklat dengan wajah luka berbintik dengan baju sedikit berantakan aku menolong pemuda tersebut dari babi hutan. Setelah menolong babi hutan yang kubunuh kami panggang untuk di makan.

"Terimakasih sudah menolongku" pemuda tersebut sambil makan "Sebenarnya aku bisa membunuh babi hutan tersebut cuman aku tidak memiliki senjata."

"Bagaimana kau bisa sampai di hutan ini" ketus gevan sambil makan.

"Sebenarnya aku sedang dalam perlarian dari kerajaan vahalla, aku seorang buronan" merasa bangga "Kau sendiri darimana?" pemuda penasaran.

"Aku dari kekaisaran galespier, setelah perlarian ini kau mau kemana?" sambung gevan penasaran.

"Wah jangan bilang kau orang yang di rumorkan ya -!!" pemuda itu mengecek sekeliling badan.

"Panggil saja aku riger, rumor itu udah tersebar tau, lagian melihat penampilanmu pasti kau orang yang di maksud" riger penasaran.

"Ternyata menyebar lebih luas dari perkiraanku" gevan terkejut.

"Kau belum memperkenalkan nama?" riger penasaran.

"Sudahlah selesai kan makanmu setelah itu pergilah saat fajar nanti" gevan beranjak tidur.

***

"Ku bilang pergi -!! Kau tidak dengar? Pergi -!! Cepatlah" ketus gevan dingin.

"Jahatnya padahal ini masih pagiloh. Aku akan pergi tapi sebut dulu namamu" riger menjegat.

"Panggil saja gevan sudahlah menyingkir" gevan beranjak pergi menaiki kuda.

"Namanya sama kayak rumor kau orangnya. Biarkan aku ikut denganmu aku akan diam dan tidak merengek, aku tidak punya tempat yang dituju kau harus mengajak orang yang sama tampannya denganmu bukan?, Aku naik ya" riger dengan bangga.

*Mukanya saja kayak babi hutan kemarin sepertinya babi hutan lebih baik dari pada dia. Dalam hati gevan kesal.

***

Selama di perjalanan mereka melewati hutan tidak kunjung keluar.

"Riger benarkan jalannya di sini?" gevan cemberut.

"Benar di depan ada penduduk desa untungnya ini tidak melewati Kerajaan vahalla" riger lega.

"Kenapa lama sekali sampai nya?" sambung gevan kesal.

"Itu di depan sudah sampai kenapa memarahiku terus" riger dengan kesal.

"Karena kita berdua kasian kudaku ini menanggung beban yang di pikul" gevan melihat ke kuda.

Kudanya = ngos... ngos... ngos...

"Turun cepat -!!, Kau yang harus jalan" gevan memaksa.

"APAA?? Kau serius ini baru sampai gerbang desa. Mencari penginapan masih sangat jauh" riger mengoceh.

"Curi saja kuda yang ada di sini, lagian yang mau ikut pengembara itu kan kau sendiri" gevan dengan kesal melempar riger dari kuda.

"Dasar jahat kau" sambil berjalan kaki "Itu di depan sana ada penginapan kita istirahat di sana" riger memegang tali kuda.

"Kau sudah memegang mengikat kuda dengan benar belum?" gevan teriak di depan pintu.

"Bisanya nyuruh – nyuruh dan teriak. Iya sudah" sambung riger dari kendang kuda ke tempat penginapan.

"Kau memesan berapa kamar" riger berjalan bersama gevan menuju kamar.

"Satulah aku ingin menghemat uang" dengan bangga gevan tersenyum.

"Jadi aku beban bagimu?" riger dengan kesal.

"Tentu saja. Karena aku baik hati dan tidak sombong, kau tidurlah di sofa" mengakhiri percakapan gevan tersenyum bahagia membuka pintu.

Riger menutup pintu langsung membanting, brukkk... langsung menuju tidur di sofa.

***

"Bangun cepat sudah fajar" gevan segera membangunkan riger.

"Ini masih malam kau tahu, aku masih mengantuk. Aku lanjut tidur ya" riger melihat ke arah jendela dari sofa belakang.

"Bangun cepat kita harus mencuri kuda, sekarang waktu yang tepat. Bagaimana kalau pagi nanti banyak orang yang mengenaliku" gevan menjewer riger "Kau yakin dasar gila" riger beranjak bangun.

Setelah selesai merapikan kami beranjak pergi dan keluar saat masih sepi. Berhasil mencuri kuda di penginapan dan hampir tiba keluar desa.

***

Seharian kami sudah memasuki kawasan hutan lagi tetapi ada yang berbeda binatang di sini sangat besar dari biasanya.

"Ko bisa mereka lebih besar dari pada kita?"gevan dengan heran.

"Sepertinya karena magic dari sang naga yang bocor membuat mereka berevolusi menjadi besar" riger menjelaskan.

"Dimana tempat sang naga?" gevan dengan penasaran.

"Kita mau sampai. Cukup bergunakan, aku bisa tahu" riger merasa bangga.

"Karena kau itu orang sini" gevan memalingkan wajahnya.

"Kita sudah sampai" sambung riger.

"Mana? dimana? Riger kau berniat menipuku?" gevan dengan nada kesal.

"Dasar bodoh" riger tersenyum.

"APAA? Yang boleh ucap bodoh itu cuman tunanganku tahu cuman dia -!!" gevan mengoceh beradu mata dengan riger.

"Tunangan mana yang tidak beruntung itu?" riger membalas adu tatap mata.

"Apa kau bilang, ngomong sekali lagi coba!" gevan menjambak riger.

"Dasar budek -!! Tunanganmu tidak beruntung" riger membalas jambak rambut gevan.

"Pantesan kau jadi buronan" terus berlanjut gevan meledek.

"Sudahlah aku menyerah kau menang" riger menyudahi "Nah ayo kita masuk kegunung" riger memimpin jalan.

***

"Kita bermalam disini" riger mengikat para kuda

"Kau yakin disini sangat dingin kita di pertengahan" gevan menggigil kedinginan.

"Pengembara mencari cinta sejati kedinginan?" riger meledek.

"Ini karena selama di perjalanan belum muncul musim dingin sebenarnya aku itu orang utara tahan dingin" gevan menjelaskan.

"Sudahlah cepat tidur" beranjak tidur.

***

"Berapa lama lagi?, Ini sudah mulai siang" gevan mengeluh.

"Bisanya mengoceh terus, sudah mulai terlihat itu di atas ada goa sepertinya disana" riger melihat keatas.

"Kita sudah 3 hari didalam gunung, katanya sebentar lagi sampai sebentar lagi tapi mana" gevan mengoceh.

"Kepalaku pusing, kukira orang sepertinya sangat dewasa dari penampilannya, tetapi selama di perjalanan dia hanya mengoceh dan memakiku. Apa pilihanku tepat mengikutinya? Tapi dia keliatan seperti orang kaya" riger berbicara sendiri.

***

Saat ke atas memasukin goa dan memasuki tempat yang gelap menuju goa tersebut sepajang perjalanan kami di serang segerombolan kelelawar. Melanjutkan perjalanan hingga di ujung kami melihat seorang pria tampan berambut biru panjang menyentuh tanah dengan indah tertidur di sofa.

"Sepertinya dia naga yang kau cari ?" riger menujuk.

"Kau yakin dia seperti pemuda pemalas, tuh" gevan menatap sang naga tersebut yang sedang tertidur.

"Coba kita bangunkan saja dia" riger sambil mengambil kayu.

Gevan mengambil batu dan mencoba untuk melempar kan ke pemuda yang sedang tertidur menyusul riger melempar kayu tersebut.

Plukkk... duhkkk...

Pemuda tersebut perlahan – lahan membuka mata sayu dan memandangi kami. Karena tekanan aura magic yang di pancarkan membuat sekitar terasa tertekan.

"Aku sudah mendengar tentang kalian yang mau membunuh naga. Tapi sekarang aku sedang sangat malas" naga biru berbaring lelah.

"Tidak bisakah kau berubah jadi naga saja aku ingin membunuhmu dengan wujud naga" gevan dengan datar.

"Keren aku ingin segera pulang dan menulis naga bisa berubah wujud" riger semangat.

"Aku sudah dengar kisahmu tapi siapa pria jelek ini yang kau bawa? Mengganggu pemandangan saja" sang naga biru menunjuk.

"APAA?? Dasar naga sialan siapa yang kau bilang jelek? Kenapa kau masih berdiri cepat bunuh naga kurang ajar begini" riger ingin memukul sang naga tetapi di pegangin oleh gevan.

"Tenanglah setidaknya dia tidak mengatakan wajahmu mirip babi hutankan" gevan menahan tawa memegangi pundak riger.

Menepis tangan gevan membungkuk menahan nangis.

"Sudahlah jangan berisik sekarang aku tidak niat mati. Temani aku dulu jikaku suruh" naga biru mulai mengantuk.

"Baiklah kami tidak akan berisik" riger dan gevan mendekati sang naga.

"Besok kita bicara lagi tenagaku ke kuras bicara dengan kalian" sang naga biru mulai tertidur.

"Ayo kita keliling masih sore jangan membungkuk terus" gevan sambil menyeret kerah pakaian riger.

***

Hari mulai sore sambil berjalan mencari makanan di pegunungan hutan.

Setelah berjalan cukup lama kami menemukan gubuk tua terbengkalai dan mencoba memasuki.

"Gevan kemarilah disini ada cermin besar" riger sambil bercermin.

"Jangan menyentuh apapun" gevan mencoba mengingatkan.

"Loh, kenapa? Aku cuman menyentuh cermin doang. Kau terlalu sensitive" riger berpose dua jari.

"Cermin cermin apa aku tampan? Hmm sepertinya bukan cermin ajaib. Sudahku duga aku ini memang tampan. Ibuku yang mengatakannya" riger berbicara sendiri dicermin.

"Kau orang yang paling jelek yang pernahku temui" cermin ajaib bereaksi.

"Arghhh... sialan bikin kaget aja" riger kesal memecahkan cermin mengacungkan jari tengah.

"Ada apa? Jangan teriak bagaimana kalau ada binatang yang kemari" dengan penasaran gevan menuju ke riger.

"Tidak ada sudah ayo pergi. Perutku sudah lapar" riger bergegas meninggalkan gubuk.

***

"Ini enak makan daging dan buah sekaligus. Loh kau bawa apaan?" riger mengunyah makanan.

"Ah ini lonceng dari gubuk tua sepertinya terbawa" gevan memegangi lonceng.

"Setelah membunuh naga kau mau kemana?" tanya riger dengan nada penasaran.

"Sepertinya aku akan menikah setelah itu kami bulan madu dan memiliki anak seperti pasangan umum lainnya. Aku selalu membayangkan sosoknya yang tersenyum indah kepadaku" khayalan gevan yang terukir indah dibenaknya.

*Wah dia mulai lagi. Dalam hati riger kesal.

"Sudalah kita fokus membunuh naga saja" riger bergegas tidur.

***

"Dasar naga males ayo bangun ini sudah pagi -!!" riger berteriak membangunkan sang naga biru.

"Sudah denger tidak usah berteriak. Lebih baik kalian menemaniku ini adalah wasiat terakhirku sebelum mati" sang naga biru dengan malas.

"Kenapa ribet sekali si" gevan dengan kesal.

"Sudahlah turutin saja perintahku" sang naga biru menunjuk diri sendiri.

Menuruti perintahnya selama 1 minggu penuh menjadi pelayan pesuruh naga, memijat tubuh, bermain catur bersama, dll...

"Aku sudah muak sebenarnya berapa lama lagi kita akan menjadi pesuruh naga itu?" riger menjadi semakin kesal.

"Sabarlah dia pasti mau menikmati sisa hidupnya. Mau tanya sekarang?" dengan penasaran gevan bergegas ke sang naga.

***

"Jadi kapan waktu yang tepat? Aku ingin cepat – cepat kekaisaran tahu. Temanku ini jadi lama nikahkan gara – gara kau" sambil memohon riger memijit sang naga.

*Kalau naga ini menyuruh lagi aku akan mencekik lehernya lalu buang jauh - jauh. Dalam hati khayalan riger dengan kesal. 

"Tapi boong dasar kalian ini. Baiklah aku akan memberi tahu yang kalian bunuh bukan aku tentunya" dengan nada rendah sang naga biru berbaring tidur.

*Sialan naga ini mempermainkan kami berdua. Dalam hati riger menatap gevan cemas.

"APAA ?? Kau bilang? Waktu berhargaku -!!" dengan kesal gevan mengambil pedang ingin membunuh sang naga.

"Sabar. Jangan membunuhnya dulu. Aku juga ingin membunuhnya kita bagi dua" riger memegangi tangan gevan yang sedang mengamuk.

*Dasar bajingan ini juga tidak berguna. Waktuku terbuang sia - sia tau -!!. Dalam hati gevan marah.

"Cepat pegangi naganya -!! jangan terus memegangiku -!!" gevan berteriak kesal.

"Hei sudahlah aku akan memberi kalian si tua itu. aku ini masih muda hidupku baru 200 th. Si tua itu pasti menginginkan kematian aku akan mengirim kalian kesana jadi jangan ganggu tidurku" naga biru bermalasan di sofa.

"Kenapa tidak memberi tahu dari awal dari naga siala--- !!!" riger dengan kesal.

"Dadah...." sang naga melambaikan tangan melanjutkan tidur nya.

Sebelum sempat melanjutkan obrolan sang naga langsung mengirim kami ke tempat naga lain.

***

"Akhirnya kalian datang juga. Selamat datang hohoho..." naga hitam dalam wujud sang naga.

"Wah gagahnya" riger dengan kagum menatap sang naga hitam.

"Aku sudah dengar tetapi kita harus bertarung dulu bukan. Ini akan menjadi hiburan terakhirku" sang naga hitam menatap gevan.

"Dengan senang hati" gevan mengeluarkan pedang.

"Tetapi kau sudah tahukan konsekuensi membunuh naga?" sambung sang naga hitam.

"Mau matipun banyak bicara" dengan semangat gevan mengayunkan pedang.

"Ini wasiat terakhirku jadi aku harap tidak menyesalinya di kemudian hari" nada memohon sang naga hitam.

"Naga ini wasiat naga itu wasiat, apa semua naga punya wasiat?" riger ngeledek.

"Hei kau pemuda jelek ini sungguh – sungguh tahu -!!" naga hitam menatap tajam.

"Kau tunggu apa lagi naga tua ini minta di bunuh cepat – cepat itu -!!"riger dengan nada kesal.

"Bisa diem ga? gevan dengan kesal.

"Setelah kau membunuhku, aku ingin jantungku ini di pusatkan menjadi fregman inti dan menyerap ke dalam tubuh" sang naga hitam mengakhiri percakapan.

Setelah itu terjadi pertarung satu sama lain. Beradu pedang dengan sang naga mengeluarkan napas api mengatur arah angin menjadikan arah berlawanan menyerang titik membabi buta dengan sengit gevan bisa mengimbangi seiring berjalannya waktu. Mencari titik celah sang naga, melompat saat sang naga mencoba memfokuskan diri ke menggunakan alam membuat petir dengan gerakan membuang energi terus mencari celah mengayunkan pedang hingga sang naga lengah membunuh inti sang naga hitam dan terjatuh.

Brukkk...

Tubuh sang naga perlahan menghilang dan menyerap ke dalam tubuh gevan memancarkan cahaya sinar selama proses tersebut.

"Keren baru pertama kali melihat pertarungan jarak sedekat ini dengan sengit tidak terlihat" riger mengacungkan jempol.

"Memangnya apa yang kau lihat?" sambung gevan dengan nada datar.

"Kau terlalu fokus membunuh naga aku melihat pertarungan kalian seperti meteor muter – muter" dengan bersemangat riger menjelaskan.

"Sudahlah sekarang perjalanan kita pulang kerumah" gevan beranjak pergi.

"Kerumah? K – E – R – U – M – A -H? KERUMAH? Kau serius? Yey pulang kerumah" riger senang beranjak menyusul gevan.

***

Selama diperjalanan menuju pulang kekaisaran kami terus mencari tempat penginapan, perjalanan dimulai sore saat pertarungan dengan sang naga berakhir kami langsung segera memulai perjalanan berlanjut hingga hari mulai gelap dan malam tiba. Sampai akhir kami tidak menemukan tempat penginapan...

"Berhenti dulu kita istirahat sejenak kasian kudanya tidak makan apapun dari siang" gevan dengan lesuh mengeluh.

"Ayo kita berhenti di depan sana" riger memimpin jalan.

"Memangnya ada apa di depan" gevan mengikuti jalan.

"Sudahlah ikut saja" jawabnya.

Sesampainya di tempat berhenti kami menemukan tempat terindah yang pertama kaliku lihat seumur hidupku. Dengan rumput luas di kelilingi berbagai bentuk bunga yang indah seperti lukisan, dengan bunga mengelilingi sekitar hingga beberapa binatang terlihat menikmati pemandangan yang sangat indah ada kupu – kupu membuatku terpaku tanpa sadar akan kehadiran kunang – kunang di sekitarku.

"Bagaimana baguskan?" riger dengan bangga.

"Ini indah sekali seperti berada di dunia lain" sambung gevan masih terpana.

"Kenapa masih berdiri? Tidurlah sini, di rumput lihat ke atas langitnya indah bukan?" riger mendorong kaki gevan hingga terjatuh.

Bruk...

"Sakit sialan, bisa sedikit lebih lembut tidak?" gevan dengan nada kesal memukulnya.

Plak...

"Dasar kau sungguh tidak murah hati ya" riger terkena pukulan.

Melihat bintang dari kejauhan dengan pemandangan seperti tidak nyata membuat seakan – akan waktu berhenti padanya.

"Kenapa kau tidak diam saja? Lihatlah kuda kita saja makan dengan lahap menikmati pemandangan" riger berbaring menatap gevan.

"Jangan menatapku seperti itu" gevan tanpa memedulikan memejamkan mata.

"Kau tidak lihat pemandangan malam ini bukan kah indah" riger menatap langit.

"Iya, ini sangat indah" gevan menatap langit.

"Aku harap bisa seperti dirimu yang percaya diri akan keyakinan diri sendiri" riger tersenyum menatap langit.

"Mungkin karena keluargaku yang menuntutku untuk menjadi seperti yang mereka inginkan" gevan menatap langit dengan datar.

"Kau itu sangat beruntung gevan lahir dengan wajah tampan, di besarkan sebagai bangsawan kaya raya dan memiliki marga besar, sedangkan aku hanya seorang rakyat jelata tanpa marga di belakang namaku" sambung riger tersenyum "Terkadang aku mencuri roti untuk bertahan hidup, walau akhirnya terkurung di penjara setidaknya ini karena bertahan hidup" menatap ke arah langit sambil menunjuk langit "Tapi kau tidak semuanya bisa kau dapat dengan mudah."

"Aku tidak tahu perjuanganmu seberat itu" gevan merasa bersalah.

"Hhh... jangan merasa bersalah seperti itu kau sudahku anggap seperti saudaraku, karena inilah pertama kali aku bisa berteman dengan seseorang" riger dengan ceria menatap gevan.

"Siapa juga yang merasa seperti itu" gevan meledek.

"Kau ini selalu saja bisa membuat orang darah tinggi" riger balas ledekan

"Kalau kau tidak jadi menikah bagaimana menikah denganku saja."

"Dasar gila -!! Aku ini masih normal ya" gevan dengan jengkelnya.

"Buhahaha... bukankah bagus? Apa ini awal mula ayah dan papa bertemu" riger tertawa meledek.

HUEKKK...

"Mendengarnya saja sudah mau muntah" gevan dengan wajah ledeknya memukul riger.

"Pikirkanlah baik – baik" riger balas mendorong gevan hingga gelundung kebawah.

***

Menjelang pagi kami memulai lagi perjalanan panjang setelah cukup beristirahat dan mengumpulkan stamina dengan menunggangi kuda, selama di perjalanan yang panjang seperti waktu itu kami melewati lagi hutan untuk mencapai ketempat penduduk butuh waktu lama karena terletak di sangat jauh. Tapi perjalanan pulang kali ini tidak terlalu membosankan seperti waktu itu, hingga ke tempat istirahat berikutnya menjelang siang kami baru menangkap buruan seekor kelinci dan menetap di tengah hutan untuk beristirahat...

"Kau yakin tidak mau mempertimbangkannya" riger meledek.

"Berisik -!! fokus saja membakar makanannya" gevan datarnya.

*Kapan lagi aku bisa meledek tuan muda kaya raya seperti ini, kalau bukan sekarang. Dalam hati riger dengan bangga.

Sampai beberapa menit berlalu...

*Dia ini mikirin apasih makanannya sampai gosong gitu. Dalam hati gevan dengan kesal.

"Riger??? Riger??? Riger??? Makanannya bisa gosong..." gevan mencoba menyadarkan riger.

Di kalut menghayal menjadi tuan muda riger yang punya banyak uang.

Plakkk...

"Aduh sakit kenapa di pukul sih?" riger tersadar.

"Dasar gila kau mau meracuniku? Lihatlah makanannya itu gosong" gevan dengan kesal meninggalkan riger.

"Kau meninggalkanku cuman karena itu? tungguin -!!" riger menyusul dengan kudanya.

***

Melanjutkan perjalanan menyusuri hutan...

"Kau yakin tidak tertarik?" riger mencoba meledek "Pikirkanlah aku ini cukup berguna apalagi untuk hal seperti itu."

"Diamlah" gevan dengan jengkelnya.

*Benar lebih baik membuangnya, aku terlalu murah hati dengannya. Dalam hati gevan mikir keras.

"Kalau kita berkuda seperti ini sampai sore kita bisa menemukan desa illegal di depan sana" riger memulai memimpin jalan "Bagaimana aku cukup sangat berguna bukan?" riger dengan bangganya.

"Kenapa kau sang--,"

Brukkk... hinyaa...

"Itu suara kuda terluka, mari kita samperin" gevan menghampiri surara tersebut.

"Kau ya. Tungguin -!!" riger menyusul perlarian tersebut.

***

Sesampainya di tempat tersebut kami melihat kuda yang terluka dengan pendarahan di badan kuda, dan melihat binatang buas yang ingin memakan kuda tersebut terlihat seorang wanita yang sedang terluka bersembunyi di balik batu besar yang sedang kesakitan.

"Bantulah gadis tersebut aku akan membunuh binatangnya" riger memimpin.

"Biar aku saja memangnya kau--,"

"Aku ini mantan napi jadi pasti bisa karena hidupku selalu dengan bahaya, anggap saja biaya menumpang" riger dengan percaya diri.

"Dasar kau ini, jangan sampai pedangnya lencet" gevan melemparkan pedang kepadanya.

"Bisa – bisanya masih pikirin pedang dari pada nyawaku" riger mengambil posisi menyerang.

Sementara itu...

"Kau siapa? Tampan sekali. Apa kau pangeran?" ujar wanita tersebut dengan bayang – bayang.

"Bangun -!! jangan pingsan dulu. Hei? Hei? Hei?" gevan mencoba membangunkan wania tersebut "Sudahlah percuma saja" Menyaksikan riger dari kejauhan.

"Jangan ke arah sana pindahlah ke arah berlawanan" gevan berteriak sambil menonton mengarahkan riger.

"Dasar kalau sudah selesai bantuinlah, jangan bisanya berteriak" riger menyerang dengan membabi buta.

"Tidak mau, males tadikan kau yang menawarkannya sendiri" gevan terus menonton.

Sambil menonton riger menyerang serigala yang sudah terkena efek tekanan magic naga yang masih tersisa seperti binatang buas yang kehilangan kendali. Riger terus menyerang tanpa henti hingga tidak ada celah bagi serigala untuk membalas serangannya, tetapi pada saat fokus riger teralihkan sementara serigala langsung mengambil kesempatan untuk menyerang dengan cakarnya dan melukai tubuhnya. Saat fokus serigala teralihkan di situ riger langsung menyerang titik vital tenggorokan dengan serangan mengakhiri pertarungan menusuk jantungnya.

"Sebentar aku butuh istirahat capek tau" riger berbaring lelah.

"Tidurlah aku akan mencari beberapa buruan di sekitar sini" gevan beranjak pergi.

Gevan membawa buruan babi hutan, selama di perjalanan menuju tempat terakhir kali mereka beristirahat. Sesampainya di tempat tersebut kami kedatangan orang baru, melihat pakaian riger dan wanita tersebut yang berlumuran darah sudah di ganti dengan pakaian pendeta. Beberapa orang asing yang menunggu kedatanganku, dengan pakaian penuh berwarna putih dan gold seperti seorang ksatria dari suatu kerajaan, serta membawa pedang legendaris yang bisa kukenali sekali melihat.

"Kalian siapa?" dengan terheran gevan kembali membawa babi hutan.

"Ternyata anda yang di maksud, ya?" sambung pemimpin tersebut.

"Jangan bilang kalian yang lagi di bicarakan akhir – akhir ini?" gevan mengingat kembali.

"Kami belum memperkenalkan diri dengan benar" ujar pemimpin tersebut.

"Perkenalkan aku vier pahlawan dari kerajaan suci dan mereka adalah rekan seperjuangku alesya, bryen, brzen" berjabat tangan "siapa nama anda?."

"Panggil saja gevan, bagaimana kalian bisa tau hutan ini" gevan balas jabatan tangan.

"Sepertinya memang dia orangnya"

"Dilihat dari wajahnya memang benar"

"Jangan menilai seeorang dari wajahnya"

Beradu mulut bisik beberapa pahlawan suci tersebut.

*Kalian berbisik kedengeran tau!! Gegara kalian aku jadi bersaing dengan gosip yang beredar. Padahal aku lebih dulu tenar tau. Dalam hati gevan dengan kesal.

"Sudahku duga kalian mata empat, kembar!! Benarkan?" sambung riger nimbrung.

"Salam kenal semua namaku sena, terimakasih banyak sudah menolongku dan aku baru bisa menyapa kalian dengan benar" dengn nada gugup gemetaran "S – sebenarnya a - aku tidak t - tau ada monster s – seperti itu!!" dengan mengepalkan tangan sambil memejamkan mata.

"Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu, karena kita sudah saling kenal bagaimana kalau waktunya makan!! Ayo kita panggang" sambung riger menghiraukan.

***

Memperhatikan dengan seksama alesya terus mencoba mendekati "Aku sangat suka dengan wajahmu, apa kau mau menjadi suamiku" menatap mata gevan.

Hokkk... hokkk...

Keselek minuman "Sepertinya tidak bisa karena aku akan segera menikah. Tapi sepertinya bisa jika temanku yang sedang memasak itu menjadi calonnya" jawab gevan meledek.

*Melihat wajahnya saja sudah mau muntah. Dalam hati alesya.

"Hahaha... sangat di sayangkan sepertinya tanpa melihatpun dia tidak akan lolos" alesya mengalihkan topik pembicaraan.

*Kupingku budek seperti ada yang membicarakanku. Dalam hati riger menatap sinis gevan dan alesya dari kejauhan.

"Kau kenapa? Apa apinya ke gedean" bryen terheran dengan ekspresi wajah riger yang sinis.

"Tidak bocah mata empat" sambung riger meledek.

"Apa? Umurku ini sudah dewasa tau!! Apa – apaan mata empat itu? Dasar om – om jelek" bryen berbalik meledek.

"Memangnya berapa umurmu mata empat?" riger sambil memasak.

"Sudahku bilang jangan memanggilku mata empat!! Tahun ini 17" bryen dengan nada marah merasa kesal.

"Bhuhaha... masih kecil juga banyak gaya. Dasar tidak sopan pada paman ini!! Cepat minta maaf yang benar" melanjutkan ledekan riger dengan merasa bangga.

Byurrr... "Segarkan?" menumpahkan minuman ke wajah bryen "Di sekitar kepalamu aku seperti melihat api menyala jadiku siram" brzen dengan segera menumpahkan lagi minuman "Sudahlah jangan memasak terus kau di pangil kapten."

"Awas kau beraninya menumpukan minuman kepadaku setelah ini aku akan memukulmu" bryen dengan kesal meninggalkan tempat.

"Sepertinya kembaranku menyinggungmu, kuharap kau tidak terlalu serius menanggapi percakapan tadi" sambung brzen sambil menatap riger.

"Kalian kenapa dari tadi ribut terus? Kami yang sedang mengobrol terganggu tau!!" alesya menyambung percakapan.

"Dari pada cuman mengorbol mending bantu memasak" sambung riger mengomel "Kau juga masa cuman memburu saja bantu masak juga sini."

"Loh siapa? Sepertinya aku harus membantu sena dia sedang kesulitan, kalian semangat memasaknya" gevan berpura – pura mencoba pergi menghindar.

*Kau mencoba meninggalkanku dengan orang tidak jelas seperti ini. Dalam alesya merasa kecewa.

Menyusul gevan dari kejauhan "Tunggu aku!! aku harus ikut, kami berduakan spesies" menggegam tangannya.

*Cih dasar beruntung sekali kau gevan!! Tanpa berusaha mendeketin cewe, mereka sudah pada nempel. Dalam hati riger menahan tangisan.

***

Di malam gelap yang sunyi hanya ada pohon yang mengelilingi mereka dengan api unggun yang menerangin di sekitar.

"Makanlah yang benar kau seperti orang kelaparan"

"Ini milikku jangan ada yang ambil"

"T – tunggu aku mau satu"

"Aku yang masak kalian ambilnya sedikit saja"

Ujar mereka semua yang ada di tempat dengan berebut.

*Ini pertama kalinya aku di perlakukan sama seperti mereka tanpa memandang status, jadi rasanya sungguh berbeda berdebar dan menyenangkan. Dalam hati gevan tersenyum melihat pemandangan.

"Tujuan sebenarnya sama tetapi kami harus menyelidiki kerajaan yang ada di timur" vier mendekatkan ke gevan.

"Kenapa kalian ke kekaisaran?" sambung gevan sambil makan.

"Kami di undang ke acara kenaikan takhta yang mulia kaisar baru" vier sambil makan.

"Kalau aku tiba di sana terlebih dahulu aku akan menjamu kalian terlebih dahulu" jawab gevan.

"Benarkah? Akanku ingat ucapanmu itu" vier menatap tajam "Tetapi apa kau tidak masalah dengan efek samping dari fragmen naga? Setauku energi magic naga itu sangat kuat, kuharap kau bisa mengedalikannya."

"Bagaimana kau bisa tau" gevan menatap.

"Karena aku juga merupakan salah satu pemimjam kekuatan malaikat" vier sambil makan.

"Kukira hal seperti mitos. Mungkin karena kalian berasal dari kerajaan suci, ya tidak salah bukan percaya?" gevan memandangi langit malam yang sangat memanjakan matanya

"Sepertinya kau orang pertama yang percaya mitos tersebut. Entahlah sepertinya aku jadi lega" vier tersenyum.

"Plakkk... ayo tidur perjalanan kita sangat panjang besok" memukul bryen dari kejauhan berteriak.

"Akanku balas kau -!!" teriak bryen.

"Sudahlah ayo tidur" alesya menghentikan pertengkaran.

***

Setelah pagi tiba mereka semua melanjutkan perjalanannya bersama hingga siang tiba mereka pun berhasil melewati hutan tersebut. Dilanjutkan perjalanan dengan rumput yang luas hingga menjelang sore kami semua menemukan penduduk desa di sebrang sana.

"Liat di depan sepertinya ada penduduk desa" riger berteriak semangat.

"Di s - sana rumahku. K - kuharap kalian mau m - menginap se m - malam" sena dengan gugup.

"Tidak masalah kita istirahat dulu di sini semalam" vier mewakili yang lain.

***

"Sena apa tidak ada minuman alcohol?" riger melihat seisi rumah.

"A – akanku b – beli kalian t – tunggu sebentar" sena dengan gugup keluar rumah.

"Karena sekarang sudah aman. Aku akan menjelaskan dengan rinci apa yang akan kita lakukan selanjutnya" vier memimpin rapat.

"Liat mereka tiba – tiba membuat suasana berubah dingin" berbisik ke telinga gevan.

"Diamlah kita jangan ikut campur" gevan menutup mulut riger.

"Aku sudah menyuruh sena membeli alcohol yang banyak" sambung riger terus berbisik.

"Tidak masalah" gevan mendengarkan.

"Benarkah? Soalnya itu uang yang ada di kantongmu semua kuambil" riger berbisik bahagia.

"Apa? Kau gila riger?" gevan menatap tajam.

"Sesekali kita yang harus mentraktir mereka bukan?" riger dengan polosnya.

*Apa kubunuh saja? Dasar tidak memikirkan hari besok. Dalam hati gevan mikir dengan keras.

Prakkk...

"Kau memukul? Memangnya kenapa? Apa aku salah bicara?" alesya berteriak dengan keras.

"Iya karena kau salah -!!" bryen sambung teriak.

"Kalau kau tidak suka mending tidak usah berada disini" membalas pukulan bryen.

"Sudahlah kaka jangan ribut terus" brzen menengahi keduanya.

Tok.. tok...

Membuka pintu "Semuanya aku sudah m – membeli beberapa alcohol, a – aku menghabiskan semua uangnya" sena dengan rendah membawa banyak alcohol "A – apa aku melakukan k – kesalahan? K – kalian bertengkar?" dengan polosnya.

"Tidak ko mereka lagi kerasukan, masuklah ayo kita pesta" sambung vier dengan tersenyum.

"Ini minumanku jangan di ambil"

"Heii -!! jangan lari kau"

"Dasar kalian semua lihatlah aku akan menjadi raja"

*Kyakkk... "ada belalang di rumahku"

Ujar beberapa orang yang sedang berkumpul dengan berisik.

Semua orang menikmati pesta alcohol dengan semangat sampai satu persatu dari merekapun tumbang dan tertidur.

***

Pagi tiba waktu kami pergi berpisah dengan yang lainnya, kamipun juga meninggalkan desa untuk melanjutkan perjalanan karena rute yang mereka lalui muter dengan kami menuju kerajaan timur dan akhirnya berpisah. Sepanjang perjalanan hingga sore kami baru menemukan penduduk desa lagi dan melanjutkan peristirahatan tersebut.

"Ayo di depan ada penduduk desa kita bisa beristirahat" riger dengan senang.

"Sepertinya kita akan tidur di luar. Sampai ke depannya" gevan dengan kesal.

"Loh kenapa? Bukankah uangmu masih banyak" riger dengan heran.

"Pake nanya? Kan kau sendiri yang menghabiskan uang tersebut" gevan menatap tajam.

"Jangan bilang itu uang terakhir kita?" riger dengan cemas.

"Memangnya kau tidak menyisihkan uang? Mari kita cari pekerjaan di sekitar sini" gevan pasrah.

"Tidak, aku tidak punya uang dan kau juga" riger dengan nada lemas "KITA JADI MISKIN - !! Bagaimana untuk kedepannya? Kekaisaran masih sangat jauh."

"Ya, kerjalah uangku habiskan karena biaya hidup kita berdua" gevan beranjak memasuki penginapan.

"Hehehe... baiklah jangan marah – marah nanti kau cepat tua, aku akan bekerja dengan keras" riger menyusul masuk.

***

"Ingin memesan berapa kamar?" pelayan penginapan.

*Baru pertama kali aku melihat wajah setampan ini di desa. Bukankah ini takdir untukku pria sepertinya, benar – benar tipeku. Dalam hati pelayan penginapan.

"Kami ingin memesan satu kamar" sambung gevan.

"Loh? Katanya kau tidak punya uang?" bisik riger.

"Ssstt... diamlah. Aku punya ide" gevan balas bisik.

"Nona anda terlihat cantik hari ini?" dengan nada goda "Hari sudah mulai gelap bukankah nona cantik memerlukan istirahat" gevan mencium tangan nona tersebut.

*Tuhkan dia langsung menyadari kalau aku ini cantik. Pasti setelah ini pria tampan akan langsung melamarku besok, senangnya jodoh pasti tidak akan ketuker. Dalam hati kepala pelayan menghakyal.

"Benarkah? Sepertinya aku terlalu sibuk akhir – akhir ini" sambung pelayan penginapan.

*HUEKKK... jadi ini ide yang di maksud? Sial, membuat bulu tanganku berdiri merinding. Mentang – mentang wajahnya andalan itu bisa di buat untuk menggoda. Dalam hati riger membuat eksperesi wajah mual.

*Berani sekali dia menatapku seperti itu, yang membuatku jadi seperti ini memangnya siapa? Awas kau nanti akanku habisi. Dalam hati gevan menatap tajam riger.

"Ada kamar yang tidak di pakai. Bagaimana kalau temanmu tidur di situ dahulu? Tidak usah bayar, sebagai gantinya temani aku selesai bekerja" sambung pelayan penginapan.

"Nona anda terlalu berbaik hati dengan orang sepertiku" gevan dengan wajah memelas.

*Kyakkk... pria ini terlalu menggoda, benar pilihan yang tepat meninggalkan temannya dan membuatnya bersamaku. Dalam hati pelayan penginapan senang.

"Tuan juga tidak keberatan, bukan?" pelayan penginapan senyum.

"Tentu saja kalian berdua harus menikmati kenca buta dengan nyaman bukan" mengedipkan mata "Diriku yang seperti ini takut mengganggu waktu berharga kalian" riger nada bersalah.

*Kau benar – benar tidak membantuku sama sekali. Dalam hati gevan kesal.

"Kau cukup peka ya" pelayan penginapan senyum.

"Tentu saja bukankah sudah seharusnya mendukung temanku ini dengan wanita cantik seperti nona" mencium tangan pelayan penginapan "Kalau begitu selamat bersenang – senang" riger meningglkan mereka.

***

"Bhuhaha... itu tadi ide yang cermelang hahaha..." riger berguling – guling.

"Berisik dia itu sangat cerewet selama di luar" gevan menutup pintu.

"Aku tidak menyangka keahlianmu adalah menggoda" riger meledek.

"Berisik kau sangat mengganggu lebih baik kembali tidur" gevan dengan kesal.

"Tenang saja di desa berikutnya aku akan membantumu" riger dengan bangga.

"Lebih baik bantulah aku dengan menghasilkan uang" gevan menatap tajam.

"Kenapa harus memakai cara merepotkan seperti itu?" riger menjelaskan "Kalau kau bisa kenapa harus aku? Kalau kau tidak bisa apalagi diriku."

"Diamlah kalau tidak membantu kita akan pergi menjelang pagi nanti" gevan beranjak tidur.

***

Beberapa jam sebelum kembali ke penginapan.

"Anda sebenarnya dari mana? Apa tempat asal anda semua orang seperti anda?" pelayan penginapan dengan serius.

"Tidak tau aku tidak pernah memperhatikan wajah seseorang, kecuali satu orang" sambung gevan.

"Siapa nama anda? Apa anda tertarik denganku? Bagaimana kalau kita memulai dekat dengan pelan – pelan?" pelayan penginapan dengan semangat.

"Nona bertanya satu persatu kalau sekaligus seperti itu" gevan dengan cemas.

"Sepertinya aku terlalu bersemangat karena auramu sangat berbeda dengan penduduk desa di sini. Terlalu menonjol dan juga tidak ada yang setampan anda" pelayan penginapan dengan penasaran terus terang menceritakan dan bertanya pertanyaan aneh lama kelamaan dan berakhir dengan malam yang lelah.

***

Kami beranjak pergi saat semua orang masih tertidur pulas, di malam menjelang pagi yang dingin terus berjalan menuju tujuan awal dengan menunggangi kuda hingga siangpun tiba di tempat peristirahat.

"Kita istirahat di tempat yang bisa berteduh" gevan

"Bagaimana kita bisa menemukan tempat seperti itu di area ramput tandus seperti ini" riger terheran.

"Pasti ada" gevan

"Mana ada? Dipikirkan secara logika juga tidak mungkin ada" riger bingung.

"Carilah dengan berpikir keras" gevan menatap tajam.

*Apa ini pembalasannya? Akukan tidak sengaja memakai sedikit uangnya, walau banyak sedikit. Dalam hati riger mikir keras.

"Kau tunggu di sini dahulu, aku akan mencari di depan sana siapa tau ada penduduk desa" sambung riger "Jangan kemana – mana, diamlah di sini" beranjak pergi.

***

*Kenapa lama sekali si? Jangan bilang dia di makan binatang buas? Tidak mungkin, Binatangpun pasti takut dengan wajahnya. Apa dia mencuri uang terus masuk penjara lagi. dalam hati gevan mikir keras.

"Heii -!! Gevan -!!" riger berteriak dari kejauhan.

*Dia masih hidup kukira mati di gebukin penduduk desa, pikiran yang sia – sia. Dalam gevan merasa lega.

"Liatlah aku membawa sesuatu" riger mendekat.

"Dari mana uang sebanyak ini?" gevan penasaran.

"Rahasiaa~" dengan bangga "Ayo ikut denganku di depan sana sudah terlihat penduduk desa."

*Aku akan membuatmu menjadi kaya raya lagi dan berperan besar dalam perjalanan ini. Dalam hati riger senyum jahat.

*Firasatku mengatakan untuk tidak ke sana. Dalam hati gevan cemas.

"Sepertinya uang kita sudah cukup, mari kita melanjutkan perjalanan" gevan dengan cemas.

"Sudahlah ayo!! Aku bisa membantu keuangan" riger dengan polos.

"Wajahmu seperti orang yang memiliki banyak rahasia" gevan curiga.

"Mana mungkin. Kita sudah seperti saudara, kali ini aku akan membantu dengan segenap hati" riger dengan senyum jahat.

*Liatlah dia bahkan tidak bisa mengendalikan eksperesi sendiri. Dalam hati gevan ragu.

"Lebih baik kita tunda. Kudanya masih perlu makan rumput" sambung gevan gerogi.

"Kau itu terlalu tidak percaya denganku? Aku ini punya bakat alami bisnis jadi kita tidak akan lagi perlu uang" riger menyeret dengan paksa.

***

"Ini dia orang yang di maksud nyonya" riger melempar gevan di tanah.

"Jangan memanggilku nyonya tetapi nona" melihat wajah gevan "Tidak buruk untukku kala--,"

"Badan berhargaku ini mahal kenapa di lempar" selak gevan "Apa – apaan nenek ini" terheran menatap riger.

"Benar -!! nona manis karena tubuh yang berharga harga naik menjadi 2x lipat. Bagaimana?" riger dengan polos.

*Tidak jangan bilang... dalam hati gevan panik.

"Kalau seperti itu aku hanya akan menyewa 1 minggu" sambung nenek.

"Nona bagaimana kalau menyewa 1 bulan? Aku akan memberi diskon khusus!! Karena ini special" berbisik ke telinga nenek "Baru sampai di desa ini" riger dengan bangga.

"Apa maksudnya 1 bulan dan 1 minggu?" gevan cemas.

"Sudahlah kau diam saja. Percayakan padaku" riger mengedipkan mata.

*STRES... firasatku ini mengatakan aku harus kabur. Dalam hati gevan panik.

"Berapa diskonnya? Kalau hanya 10% persen aku tidak mau. Lebih baik aku mencari pria tampan lainnya" sambung nenek.

"Bagaimana kalau 15% persen khusus untuk nona" riger dengan bangga "Kalau di naikkan lagi sepertinya harga diriku seperti akan jatuh, kalau nona tidak mau masih banyak wanita seperti nona menawar harga tinggi."

*Seharusnya harga diriku yang jatuh. Dasar bajingan ini tidak tau diri. Dalam hati gevan kesal.

"Tunggu sebentar, ada yang harus kita bicarakan...." 

HALO GUYS UDAH BACA YA SAMPAI SINI. Author mau minta tolong ni ama kalian untuk bantu kita share dan voting author mau buat comic kita tunggu yaa guyss staytune teruss trimakasiiii:3

More Chapters