Ficool

Chapter 1 - BAB 1: KEMATIAN, SURAT DARI TAKDIR, DAN BADAI EAST BLUE

Sial. Benar-benar sial.

Itu adalah pikiran terakhirku. Sangat klise, aku tahu. Tidak ada kilasan balik tentang momen-momen indah kehidupan, tidak ada penyesalan puitis. Hanya satu kata umpatan kasar yang tertahan di tenggorokan saat pandanganku menggelap total.

Kematian, ternyata, rasanya sangat dingin.

Dan basah.

Tunggu dulu. Basah?

"...uhuk! Uhuk-uhuk!"

Rasa sakit yang menghujam dada memaksaku membuka mata. Hal pertama yang kusadari bukanlah cahaya putih surga, melainkan rasa asin yang pekat di lidah dan air dingin yang mencoba merangsek masuk ke paru-paru. Aku terbatuk hebat, memuntahkan air laut berliter-liter sementara tubuhku terombang-ambing tak berdaya.

Di mana ini?

Pikiranku berputar kacau. Aku seharusnya sudah mati. Jelas-jelas ada truk sialan yang menghantamku saat aku mencoba menyelamatkan seekor kucing (ya Tuhan, seberapa klise lagi hidupku ini?). Tapi sekarang? Aku berada di tengah lautan lepas, dikelilingi ombak raksasa yang tampak siap menelanku hidup-hidup.

Guntur menggelegar di langit yang hitam legam, kilatan petir menyambar, menerangi neraka cair di sekelilingku. Hujan turun seperti ribuan jarum yang menusuk kulit.

Sesaat, rasa panik mencekikku. Aku berteriak meminta tolong, tapi suaraku hilang tertelan gemuruh badai.

"Ayah! Ibu!"

Suara siapa itu? Suara itu terlalu cempreng, terlalu kecil.

Aku melebarkan mata, menatap tangan yang mencoba menggapai serpihan kayu mengapung di dekatku. Tangan itu kecil. Mungil. Jauh dari tangan pria dewasa yang biasa kulihat.

Deg.

Sebuah ingatan asing mendadak merangsek masuk ke kepalaku, memaksa, menyakitkan. Memori tentang badai yang sama, kapal yang hancur, teriakan putus asa orang tua, dan rasa takut yang melumpuhkan seorang anak kecil.

Sirius D. Arthur. Umur enam tahun. East Blue.

Aku belum mati. Aku... aku bertransmigrasi. Ke dalam tubuh anak kecil berumur enam tahun berinisial "D" di dunia One Piece.

"Gila... ini gila..." gumamku, nyaris tak terdengar.

Tapi aku tidak punya waktu untuk krisis eksistensial. Sebuah gelombang besar, setinggi gedung lima lantai, melengkung di atasku, siap menghancurkan sisa-sisa kesadaranku.

Mati. Aku akan mati lagi. Dua kali dalam satu hari. Ini rekor.

Aku memejamkan mata, pasrah pada kekuatan alam yang absolut ini.

[Peringatan: Vital Tuan Rumah dalam Bahaya Absolut. Mengaktifkan Protokol Pertahanan Darurat.]

Sebuah suara dingin, tanpa emosi, mendadak bergema langsung di dalam tengkorakku. Itu bukan suara manusia, bukan pula suara alien. Itu adalah suara sistem.

Dunia seolah berhenti berputar. Gelombang raksasa itu membeku di puncaknya. Petir berhenti menyambar. Hujan tertahan di udara.

Sebuah layar semi-transparan berwarna biru muda muncul di depan mataku, berkilauan di tengah kegelapan badai yang beku.

[Selamat Datang, Tuan Rumah.] [Memulai Prosedur Pertolongan Pertama: Paket Pemula Diaktifkan.]

Aku hanya bisa melongo. Sebagai seorang mantan gamer, aku tahu apa ini. Tapi mengalaminya langsung saat kau baru saja hampir mati tenggelam adalah pengalaman yang sama sekali berbeda.

[Menganalisis Lingkungan... Lokasi: Laut Terbuka East Blue (Badai Tingkat 3).] [Solusi Segera: Transfer ke Lokasi Aman Terdekat.]

Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, pandanganku mendadak berputar. Rasa mual menghantam perutku, lebih parah daripada saat terombang-ambing di laut. Rasanya seperti tubuhku ditarik melalui lubang sedotan yang sangat sempit.

Bruk.

Rasa sakit kembali menghantam, tapi kali ini bukan karena air dingin, melainkan karena punggungku mendarat keras di atas pasir yang hangat.

Rasa hangat?

Aku membuka mata perlahan. Badai itu hilang. Langit yang hitam legam berganti menjadi langit biru cerah dengan awan putih yang berarak santai. Suara gemuruh ombak digantikan oleh desiran angin lembut yang menggesek daun-daun palem.

Rasa asin di mulutku masih ada, tapi aku tidak lagi tenggelam. Aku berada di sebuah pantai berpasir putih yang sangat indah.

Aku duduk perlahan, mencoba menggerakkan tubuh kecil ini. Segala rasa sakit dan kedinginan tadi hilang, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Aku menatap tubuhku—pakaian basah kuyup, tubuh mungil, dan tangan kecil ini. Ini bukan tubuhku, tapi aku mengendalikannya.

"Aku... selamat?"

[Ya, Tuan Rumah. Anda Berada di Pulau Tak Berpenghuni, Koordinat East Blue.] Suara sistem itu kembali berdenging.

Aku menghela napas panjang, menjatuhkan tubuh kembali ke pasir. Gila. Benar-benar gila. Aku benar-benar berada di dunia One Piece, dan aku memiliki Sistem.

Aku tahu dunia ini. Dunia penuh petualangan, buah iblis, bajak laut, dan Angkatan Laut yang korup. Dunia di mana kekuatan adalah segalanya. Dunia di mana nama "D" adalah ancaman bagi Pemerintah Dunia.

Aku, Sirius D. Arthur, bocah umur 6 tahun, sendirian di pulau tak berpenghuni, memiliki nama "D". Ini seperti takdir sedang memberikan jari tengahnya padaku, lalu memberiku surat cinta.

"Sistem... apa... apa yang bisa kau lakukan?" tanyaku, masih sedikit linglung.

[Sistem adalah Pembantu Absolut Tuan Rumah untuk Menjadi Penguasa Lautan.] [Fungsi Dasar Terbuka: Inventaris, Peta, Analisis, dan Pemanggilan Karakter.]

Aku melebarkan mata saat mendengar tag-tag tag "Pemanggilan Karakter". "Pemanggilan? Karakter? Maksudmu..."

[Tuan Rumah Dapat Memanggil Karakter Kuat dari Dimensi Lain untuk Menjadi Kru Anda. Karakter yang Dipanggil Akan Menyesuaikan Diri dengan Dunia Ini dan Loyal 100% pada Tuan Rumah.]

Jantungku berdegup kencang. Ini bukan lagi sekadar Sistem biasa. Ini adalah Sistem overpower. Aku bisa memanggil kru dari anime lain? Bayangkan, Unohana Retsu sebagai wakil kaptenku, atau Tsunade sebagai dokterku. Pemerintah Dunia tidak akan tahu apa yang menghantam mereka.

"Tapi... aku sendirian di sini. Umur enam tahun. Bagaimana aku bisa memanggil mereka sekarang?" tanyaku, skeptis.

[Fungsi Pemanggilan Membutuhkan 'Poin Reputasi' atau 'Tiket Pemanggilan' Spesial. Sebagai Hadiah Selamat Datang, Tuan Rumah Menerima:] [10x Tiket Pemanggilan 'Dewi Lintas Dimensi' (Dorman).] [1x Paket Pembangunan Basis 'Pulau Terisolasi'.]

Aku mengerutkan kening. Dorman? "Dorman maksudnya apa?"

[Karakter yang Dipanggil Akan Tiba di Pulau dalam Keadaan Tanpa Ingatan Masa Lalu (Hanya Mengingat Nama dan Latar Belakang Buatan). Mereka Akan Terbangun Bersamaan dengan Perjalanan Tuan Rumah.]

Aku mengangguk paham. Ini lebih baik. Aku bisa membangun ikatan yang asli dengan mereka, bukan hanya sekadar bawahan yang patuh. Dan Paket Pembangunan Basis?

[Paket Basis: Mengubah Pulau Ini Menjadi Tempat Pelatihan dan Tempat Tinggal Absolut. Fitur: Fasilitas Simulasi Tempur, Ruang Gravitasi, Dapur Tingkat Dewa, dan Sistem Pertahanan Pulau.]

Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku tidak akan langsung berlayar. Tidak di umur enam tahun ini. East Blue mungkin disebut lautan terlemah, tapi aku tahu lautan ini juga lautan kelahiran banyak monster. Aku tidak akan menjadi bajak laut lemah yang mati di tangan bandit gunung atau Angkatan Laut kelas teri.

Aku memiliki waktu lima tahun lebih tua daripada karakter utama, Luffy.

"Lima tahun..." gumamku, sebuah seringai tipis muncul di wajah mungil Arthur.

"Aku akan menggunakan waktu lima tahun itu. Aku akan membangun markas terkuat di pulau ini. Aku akan memanggil kesepuluh dewi itu. Dan aku..."

Aku meraba saku pakaian basah Arthur, berharap menemukan sesuatu. Tidak ada apa-apa, tentu saja. Tapi rasa hangat dari matahari memberiku keyakinan.

"Aku tidak akan bergantung pada senjatamu, Sistem. Dalam dunia ini, kekuatan murni adalah kunci."

Aku berdiri, menatap laut biru yang luas di depanku. Laut yang baru saja mencoba membunuhku, tapi sekarang terlihat begitu menantang.

"Aku punya waktu 16 tahun untuk berlatih sebelum masa cerita utama dimulai. Aku akan menguasai Haki. Aku akan melatih krunya untuk menjadi monster. Dan kita..."

Ting.

[Misi Pertama Terbuka: Gunakan Paket Basis dan Mulai Pelatihan Neraka.]

Suara sistem itu kembali berdenging, seolah mengonfirmasi keputusanku.

"Sirius D. Arthur," aku menyebut namaku sendiri, merasakan getaran aneh saat huruf "D" itu terucap.

"Awal petualanganku... dimulai di pulau terpencil ini."

Aku menatap langit East Blue yang cerah. Badai itu sudah berlalu, tapi badai yang sesungguhnya—badai yang akan mengguncang Tahta Kosong Governments World—baru saja terbentuk.

Dan aku adalah pusatnya.

More Chapters