Ficool

Chapter 3 - Bab 3 — Penatua dan Bayang-Bayang

Hari ketiga.

Chen Yuhan sudah mulai memahami ritme kehidupan di dalam kamar ini dengan sangat baik. Bukan karena dia memiliki kebebasan untuk mengamati — justru sebaliknya. Dia terbaring di buaian yang sama, di sudut ruangan yang sama, menatap langit-langit yang sama setiap harinya. Tapi justru karena itulah dia belajar sesuatu yang penting.

Ketika seseorang tidak bisa bergerak, dia belajar mengamati dengan jauh lebih tajam.

Setiap pelayan punya pola. Pelayan pertama — perempuan muda bernama Xiao Fen yang dipanggil dengan nada sayang oleh sang ibu — selalu datang dari arah kiri, selalu menyentuh gelang giok di pergelangan kirinya setiap kali dia gugup, dan selalu melirik ke arah pintu sebelum berbisik apapun. Pelayan kedua, wanita yang lebih tua bernama Bi Yun, bergerak dengan efisiensi seorang profesional dan tidak pernah membuang satu langkah pun — tapi matanya terlalu tenang. Terlalu datar. Jenis ketenangan yang bukan berasal dari kedamaian, melainkan dari latihan panjang untuk menyembunyikan sesuatu.

Chen Yuhan mencatat keduanya tanpa menunjukkan apapun.

Sistem, apakah kau bisa mendeteksi qi atau energi dari orang-orang di sekitarku?

[ Pada level saat ini, Sistem dapat mendeteksi fluktuasi energi dasar. Bi Yun memiliki pola energi yang tidak konsisten dengan seorang pelayan biasa. Kemungkinan 73% dia adalah praktisi kultivasi tingkat rendah yang menyembunyikan kemampuannya. ]

Tujuh puluh tiga persen, ulang Chen Yuhan. Cukup untuk waspada. Belum cukup untuk bertindak.

Dia menyimpan informasi itu dan kembali berpura-pura tidur ketika Bi Yun mendekat untuk mengganti selimutnya.

Ancaman ketiga datang pada sore hari, tapi dalam bentuk yang sama sekali tidak Chen Yuhan duga.

Bukan pembunuh. Bukan racun. Bukan rencana gelap yang dieksekusi di bawah kegelapan malam.

Yang datang adalah seorang kakek.

Pintu kamar dibuka dengan cara yang berbeda dari biasanya — lambat dan penuh otoritas, bukan hati-hati dan tersembunyi. Para pelayan yang ada di dalam ruangan langsung berlutut. Bahkan Bi Yun yang selalu terlihat tenang ikut berlutut dengan kepala menunduk lebih rendah dari biasanya.

Pria tua itu masuk dengan langkah yang berat tapi tidak lemah. Tubuhnya tidak setegap Chen Wei, sudah membungkuk sedikit dimakan usia, tapi setiap langkahnya mengandung tekanan yang membuat udara di ruangan terasa lebih padat. Janggut putih panjang. Jubah abu-abu dengan bordir emas yang lebih rumit dari jubah Chen Wei kemarin. Mata yang berwarna abu-abu terang — tidak biasa, hampir tidak wajar — menatap sekeliling ruangan dengan tatapan seorang pria yang sudah terbiasa menilai segalanya dalam hitungan detik.

Kakek Besar, simpul Chen Yuhan secara naluriah. Kepala klan. Puncak kekuasaan Klan Suci.

Chen Mingzhi — sang ibu — segera duduk tegak di ranjangnya meski jelas masih lemah, dan memberi hormat dengan cara yang berbeda dari para pelayan. Lebih formal. Lebih berhati-hati.

"Ayah Mertua," ucapnya dengan suara yang dijaga tetap stabil.

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Matanya sudah beralih ke arah buaian di sudut ruangan.

Ke arah Chen Yuhan.

Langkahnya bergerak ke sana dengan kecepatan yang tenang tapi tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Chen Mingzhi membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu menutupnya lagi. Para pelayan tetap berlutut, tidak ada yang bergerak.

Pria tua itu berdiri di tepi buaian dan menatap ke bawah.

Chen Yuhan menatap balik.

Selama beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Hanya dua pasang mata yang saling bertemu — satu milik bayi yang baru berumur tiga hari, satu milik pria tua yang sudah hidup entah berapa puluh tahun dan sudah melihat lebih banyak hal dari yang bisa Chen Yuhan bayangkan.

Jangan tunjukkan apapun, perintah Chen Yuhan pada dirinya sendiri. Jadilah bayi. Hanya bayi.

Dia menggerakkan tangannya secara acak, mengeluarkan suara kecil yang tidak bermakna, dan mengalihkan pandangannya ke arah lentera di langit-langit seolah-olah itu jauh lebih menarik dari wajah siapapun.

Pria tua itu tetap diam.

Lalu — dan ini yang membuat Chen Yuhan benar-benar harus menahan seluruh reaksinya — pria itu melepaskan tekanan spiritual yang sangat tipis ke arah buaian.

Bukan serangan. Bukan ancaman. Lebih seperti... sapuan. Ujian yang sangat halus yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang tahu apa yang harus dicari.

[ PERINGATAN: Tekanan spiritual tingkat Saint sedang memindai area sekitarmu. Sistem merekomendasikan untuk tidak melakukan perlawanan atau penyerapan aktif. Biarkan tekanan itu lewat. ]

Chen Yuhan tidak melakukan apapun. Dia hanya berbaring dan menatap lentera, membiarkan energi asing itu menyapu tubuhnya seperti angin yang lewat tanpa hambatan.

Pria tua itu mengernyit sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Tapi Chen Yuhan melihatnya.

Dia tidak menemukan apapun, simpulnya. Atau dia menemukan sesuatu yang tidak dia mengerti.

"Anak ini..." pria tua itu akhirnya bersuara. Suaranya dalam, sedikit parau dimakan usia, tapi mengandung resonansi yang aneh seolah-olah kata-katanya memiliki berat fisik. "Matanya tidak seperti bayi biasa."

Keheningan.

Chen Mingzhi menjawab dengan hati-hati. "Banyak yang bilang begitu sejak dia lahir, Ayah Mertua. Chen Wei juga mengatakan hal yang sama."

"Bukan soal warnanya." Pria tua itu tidak mengalihkan matanya dari Chen Yuhan. "Bayi melihat dunia dengan cara yang kacau. Mata mereka bergerak tanpa tujuan, tanpa fokus. Anak ini..." dia berhenti sejenak. "Anak ini melihat."

Tidak ada yang menjawab karena tidak ada yang tahu harus menjawab apa.

Chen Yuhan memutuskan untuk membantu situasi. Dia mengeluarkan suara tangisan kecil — bukan yang sekeras malam pertama, hanya tangisan ringan bayi yang lapar atau tidak nyaman — dan menggerakkan tangannya ke arah tidak jelas.

Bi Yun langsung bergerak. "Sepertinya Tuan Muda kecil lapar—"

"Diam."

Satu kata. Tapi Bi Yun membeku seketika.

Pria tua itu akhirnya mengalihkan matanya dari Chen Yuhan dan menatap Chen Mingzhi. "Kau sudah tahu tentang kejadian malam pertama."

Bukan pertanyaan.

"Ya," jawab Chen Mingzhi pelan.

"Chen Wei sudah menyelidikinya?"

"Sudah. Tapi wanita itu tidak bisa diinterogasi lebih lanjut. Dia..." Chen Mingzhi berhenti sejenak. "Ditemukan meninggal di sel tahanan sebelum fajar."

Informasi baru. Chen Yuhan mencatatnya dengan cepat. Seseorang menutup jejaknya. Orang yang mengirim wanita itu punya cukup kekuatan dan keberanian untuk membungkam saksinya bahkan di dalam tahanan klan sendiri.

Itu bukan kemampuan faksi kecil.

"Aku sudah menduga," kata pria tua itu. Nada suaranya tidak berubah. Tidak marah, tidak terkejut — hanya datar dengan cara yang lebih dingin dari kemarahan manapun. "Beri tahu Chen Wei untuk tidak menyelidiki lebih jauh untuk saat ini."

Chen Mingzhi terkejut. "Tapi—"

"Menyelidik sekarang berarti menggerakkan mereka lebih awal dari yang kita inginkan." Pria tua itu berbalik dari buaian dan mulai berjalan ke arah pintu. "Biarkan mereka berpikir mereka aman. Tikus yang merasa aman akan menjadi ceroboh."

Dia berhenti tepat sebelum pintu. Tanpa berbalik.

"Perkuat penjagaan kamar ini dengan orang-orangku. Bukan orang Chen Wei, bukan orang klan umum. Orang-orangku." Satu jeda. "Dan Bi Yun."

Pelayan yang disebut itu mendongak dengan ekspresi yang baru pertama kali Chen Yuhan lihat di wajahnya — sesuatu yang mendekati kepanikan yang sangat terkontrol.

"Kau melayani keluarga ini dengan baik selama dua puluh tahun," kata pria tua itu masih tanpa berbalik. "Jangan rusak catatan itu dengan satu keputusan bodoh."

Bi Yun berlutut lebih dalam. "Hamba mengerti."

Pintu terbuka. Pintu tertutup. Dan pria tua itu pergi meninggalkan keheningan yang berat seperti batu.

Chen Yuhan memproses seluruh interaksi itu sambil pura-pura tertidur beberapa menit kemudian.

Kakek Besar — yang belum disebutkan namanya secara langsung dalam pembicaraan tadi — bukan orang yang mudah dibaca. Dia mendeteksi sesuatu yang tidak biasa dari Chen Yuhan, tapi dia tidak mengungkapkannya secara terbuka. Entah karena dia tidak yakin, atau karena dia sengaja menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Keduanya sama-sama berbahaya dengan cara yang berbeda.

Yang menarik adalah perlakuannya terhadap Bi Yun. Dia mengetahui sesuatu tentang pelayan itu — bahwa Bi Yun bukan pelayan biasa — tapi dia memilih untuk memberi peringatan daripada menghukum. Itu bukan tindakan seseorang yang impulsif. Itu tindakan seseorang yang sudah memperhitungkan nilai dan kegunaan setiap bidak di papan caturnya.

Kakek Besar adalah pemain catur, simpul Chen Yuhan. Bukan jenis yang mudah dimainkan. Tapi juga bukan musuh — setidaknya belum.

[ Analisis tambahan: Kakek Besar kemungkinan sudah mengetahui atau mencurigai identitas pihak yang mengirim wanita malam itu. Keputusannya untuk menghentikan penyelidikan Chen Wei bukan berarti dia tidak bertindak — dia hanya bertindak dengan cara yang berbeda dan di luar pengetahuan semua pihak. ]

Setuju, balas Chen Yuhan. Yang artinya ada pertarungan di atas level yang bisa dilihat Chen Wei. Permainan yang lebih dalam.

[ Peta ancaman diperbarui. Ancaman ketiga teridentifikasi: Kakek Besar sebagai variabel tidak terduga. Bukan musuh, bukan sekutu yang dapat diandalkan sepenuhnya. Kategori: pengamat aktif yang harus diperhitungkan. ]

Tiga ancaman teridentifikasi. Quest pertama dari Sistem berbunyi kembali di kepalanya.

[ Quest aktif: Bertahan hidup selama satu tahun tanpa ketahuan. Progress: Hari 3 dari 365. ]

Tiga hari dari tiga ratus enam puluh lima. Masih sangat jauh.

Chen Yuhan menutup matanya dan membiarkan ritme Kultivasi Pasif bekerja mengisi tubuhnya dengan energi yang dia butuhkan. Di luar jendela, matahari sore mulai condong ke barat, mengubah warna langit menjadi jingga yang dalam.

Energi surya yang tersisa hari itu mengalir masuk dengan tenang.

Dan di dalam buaian kayunya yang dilapisi sutra merah, seorang bayi yang tampak tidur nyenyak sedang menyusun rencana untuk setahun ke depan dengan ketenangan seorang komandan perang yang sudah pernah melewati lebih dari yang bisa dibayangkan oleh dunia ini.

Tiga hari pertama sudah mengajarkan banyak hal.

Dunia ini tidak memberi ruang untuk lengah. Tidak peduli seberapa kecil dan tidak berdaya seseorang terlihat dari luar.

Mungkin justru karena itu — karena tidak ada yang mengira sesuatu yang besar bisa tersembunyi di balik sesuatu yang sekecil ini.

Baik, pikir Chen Yuhan di ambang antara terjaga dan istirahat yang disengaja. Kalau begitu, mari kita manfaatkan itu sebaik mungkin.

Bersambung ke Bab 4...

More Chapters