Ficool

Chapter 1 - Awal kehancuran

Seorang remaja miskin, Theron, ingin membuat orang tuanya bahagia. Ia terpaksa berjualan sayuran setiap hari.

"Cape banget hari ini," keluh Theron, menatap keranjang sayurnya yang masih penuh.

Ia terus berjualan sampai sore, perutnya keroncongan karena tidak ada yang membeli.

"Dek, saya mau beli semua sayurannya," tiba-tiba terdengar suara seorang pembeli.

"Boleh, Kak," jawab Theron sambil tersenyum.

Ah, akhirnya ada yang beli!

Dagangan Theron habis terjual, dan ia segera membeli obat serta makanan untuk ayah dan ibunya yang sedang sakit.

Akhirnya bisa beli makanan dan obat... pikirnya lega.

Malam pun tiba, Theron pulang ke rumah.

"Ibu, Ayah, aku pulang," panggilnya.

"Uhuk… uhuk," sahut orang tuanya.

"Theron, kenapa pulang malam-malam? Ibu dan Ayah khawatir," kata ibunya.

"Gak papa, Bu. Aku pengen Ibu sama Ayah cepat sembuh," jawab Theron sambil menyerahkan obat dan makanan.

"Ayah sangat bangga punya anak seperti kamu," kata ayahnya.

"Ya udah, tidur dulu karena kecapekan setelah jualan seharian," saran ibunya.

"Baik, Bu… tidur dulu," Theron mengangguk.

Aku harus lebih semangat jualan lagi, pikirnya.

Pagi harinya, semua terbangun dan makan bersama.

"Mudah-mudahan jualanku laku," pikir Theron.

"Hati-hati, Theron," khawatir ibunya.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang meminta tolong.

"Tolong… ada jambret!" jerit seorang ibu.

Ada yang minta tolong, aku harus bantu, pikir Theron.

"Woi, botak…!" kata Theron menegur.

"Ngelunjak nih anak," kata preman kesal.

"Kembalikan dompet ibu itu!" tegas Theron.

"Serang bocah itu!" perintah preman.

"Aaargh!" teriak preman saat Theron menghadang.

"Hebat juga lu, bocah," kata si preman.

"Iaahh..! Aaargh!" teriak preman lain.

"Ampun, kami minta ampun," kata para preman.

Preman itu akhirnya kabur dan dompet ibu berhasil dikembalikan.

"Ini dompet ibu kan?" tanya Theron.

"Terima kasih telah bantu saya," kata ibu itu.

"Ini, nak, ibu ada sedikit uang," kata ibu.

"Gak papa, Bu, saya ikhlas bantu ibu," jawab Theron.

"Terima kasih, nak. Yaudah, ibu pergi dulu," kata ibu itu.

"Iya, Bu," jawab Theron. Lalu ia melanjutkan jualan.

Masih banyak sayuranku ya, pikirnya.

"Ayo, dibeli-dibeli, dagangan segar!" teriak penjual lain.

Pasar ini cukup ramai, kata Theron sambil tersenyum.

Tiba-tiba terdengar suara aneh dari bawah tanah: "grukk... grukk..."

"Haaa!?" teriak Theron ketika seekor monster cacing raksasa muncul.

"Lari semua! Tolong!" jerit orang-orang.

Kenapa ada cacing sebesar itu? pikir Theron panik.

Prajurit dari kerajaan datang untuk menghadapi monster cacing berkepala tiga.

"Serang!" perintah prajurit.

Tidak lama kemudian muncul tiga monster tingkat menengah: naga api, naga petir, dan katak beracun.

Banyak banget monster! pikir Theron.

Banyak prajurit yang diserang dan dimakan monster. Lalu datang seorang ksatria tingkat menengah level 2, yang berhasil mengalahkan ketiga monster tingkat menengah level 10.

Hebat, semoga aku bisa sehebat itu, pikir Theron kagum.

Setelah para monster mati, kota kembali aman. Theron pun ingin menjadi lebih kuat.

Bentar lagi malam, pikirnya.

Aku harus beli makanan dan obat, walaupun uang baru sedikit.

Angin besar datang di kota dan desa Hellow. Malam pun tiba, semua monster membuat kekacauan di mana-mana. Theron panik dan langsung pulang, melihat desanya hancur diserang monster.

"Aku harus cepat pulang…" pikir Theron panik.

Di rumah, Theron melihat monster memakan ayah dan ibunya. Ia langsung menangis dan menyerang monster itu dengan dendam yang membara.

More Chapters