Ficool

Chapter 1 - CHAPTER 1 - RETAKAN DI LANGIT

Bab 1 — Malam yang Terlalu Panjang

Hujan turun dengan cara yang membuat orang ingin segera pulang.

Bukan hujan yang ramah. Bukan hujan yang bisa dinikmati sambil tersenyum kecil di balik payung. Ini hujan yang jatuh keras, memukul aspal tanpa jeda, seolah setiap tetesnya membawa kelelahan dunia dan menumpahkannya ke jalanan kota.

Argha berdiri di bawah halte bus yang hampir kosong.

Atap seng di atas kepalanya bergetar tiap kali hujan menghantam lebih keras. Lampu neon di sudut halte menyala redup, berkedip tak beraturan, membuat bayangan tubuhnya tampak patah-patah di lantai basah. Hoodie tipis yang ia kenakan sudah tak ada gunanya.

Kainnya lembap, dinginnya menempel di kulit, merayap perlahan hingga ke tulang.

Harusnya aku sudah sampai rumah sekarang.

Ia memasukkan tangan ke saku, bukan untuk menghangatkan. Ia tahu itu percuma. Gerakan itu lebih seperti kebiasaan lama—refleks kecil untuk meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya masih terkendali. Bahwa ia masih ada di sini.

Lampu jalan di seberang halte berkedip, memantul di genangan air. Setiap kedipan terasa seperti waktu yang sengaja diperlambat. Malam ini enggan berakhir, dan Argha terlalu lelah untuk melawannya.

Ia baru pulang lembur.

Punggungnya terasa kaku, seolah ada beban yang tak pernah benar-benar ia letakkan. Matanya panas, kepalanya berat. Perutnya melilit, bukan karena sakit—lebih karena ia lupa kapan terakhir kali makan dengan benar.

Dalam kepalanya, hanya ada satu keinginan sederhana.

Sampai rumah. Mandi air hangat.

Tidur. Tanpa mimpi.

Hidupnya… biasa saja.

Terlalu biasa, bahkan untuk dikenang.

Argha bukan siapa-siapa. Di kantor, namanya jarang dipanggil kecuali untuk hal-hal sepele. Ia bukan yang paling bodoh, tapi juga bukan yang menonjol. Hari-harinya berjalan dalam pola yang sama: datang, bekerja, pulang, ulangi.

Ia pernah punya mimpi. Pernah percaya bahwa suatu hari hidupnya akan berarti.

Entah sejak kapan mimpi itu mengecil. Luntur. Digant

ikan oleh penerimaan yang sunyi.

Ya sudah. Beginilah hidupku.

Dan malam itu, ia berdiri di halte bus, menerima semuanya—tanpa perlawanan.

Bab 2 — Langit yang Rusak

Udara berubah lebih dulu.

Bukan angin. Bukan dingin.

Ada sesuatu yang membuat bulu-bulu halus di lengannya berdiri.

Argha mengernyit, menggeser berat badannya. Hidungnya menangkap aroma yang asing—tajam, logam, seperti darah yang lama mengering bercampur bau ozon sesaat setelah petir.

Apa…?

Suara hujan perlahan menghilang.

Bukan melemah.

Menghilang.

Seolah dunia menahan napas.

Argha merasakan dadanya menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut—belum—melainkan karena insting purba yang berbisik bahwa ada sesuatu yang salah. Sangat salah.

Ia mendongak.

Langit malam tidak lagi terlihat seperti langit.

Di antara kilat putih yang membelah awan, ada garis-garis gelap yang tidak seharusnya ada. Bukan awan.

Bukan cahaya. Seolah seseorang telah memukul langit dengan kekuatan yang tidak dimengerti, meninggalkan retakan kasar seperti kaca pecah.

Retakan hitam membelah langit.

Itu bukan bayangan.

Bukan cahaya.

Itu luka.

Luka yang mengoyak realitas.

Dari celah itu, turun satu garis petir berwarna hitam—hitam yang menelan cahaya di sekitarnya.

Bahkan hujan yang dilewatinya lenyap, seolah tak pernah jatuh.

Argha membeku.

Yang membuat napasnya tercekat bukan hanya pemandangan itu.

Melainkan kenyataan bahwa tak seorang pun bereaksi.

Seorang pria berjas berlari menembus hujan, sibuk melindungi tas kerjanya. Sepasang kekasih tertawa kecil di bawah kanopi toko, wajah mereka diterangi layar ponsel.

Pengendara motor melintas, roda memercikkan air tanpa ragu.

Mereka

hidup.

Berjalan.

Tertawa.

Di bawah langit yang sekarat.

Kenapa… cuma aku?

"...Apa itu," gumam Argha, suaranya terasa asing di telinganya sendiri.

Dan saat itulah petir hitam itu bergerak.

Tidak jatuh lurus.

Ia berbelok.

Seperti sesuatu yang melihat.

Memilih.

Menuju dirinya.

Bab 3 — Yang Terhapus

Lari.

Itu satu-satunya kata yang muncul di kepalanya.

Namun tubuhnya tidak mendengar.

Kakinya terasa tertanam di tanah.

Otot-ototnya menegang, tapi tak bergerak. Otaknya berteriak, panik, memaksa, namun semuanya terlambat

.

Tidak. Tidak sekarang. Jangan aku.

Petir hitam itu menyentuhnya.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada panas.

Tidak ada rasa sakit yang bisa ia pahami.

Yang ada hanyalah sensasi aneh—seperti tubuhnya dilucuti dari keberadaannya sendiri. Lapisan demi lapisan dirinya terkikis, seolah dunia sedang menghapus namanya dari daftar.

Kesadarannya terpecah. Pikirannya tercecer.

Dalam kekacauan itu, sebuah suara bergema di dalam kepalanya.

Bukan dari langit.

Bukan dari luar.

Melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Dingin. Tenang. Tanpa emosi.

Seolah telah menunggu lama.

Argha ingin bertanya. Ingin berteriak. Ingin menolak.

Namun semuanya runtuh lebih dulu.

Dunia menjadi hitam.

Bukan gelap.

Kosong.

Tak ada suara. Tak ada waktu. Tak ada dirinya.

More Chapters