Ficool

Chapter 2 - Bab 2 Anak Memalukan Montega

Nama Zaivan Montega tidak pernah disebut dengan bangga.

Di aula perjamuan, para bangsawan berbisik tanpa berusaha merendahkan suara. Di lorong-lorong dagang, para pelayan tersenyum sopan—lalu menertawakan begitu ia lewat. Zaivan mengenal semua tatapan itu. Tatapan yang tidak marah, tidak benci—hanya yakin bahwa ia tidak penting.

"Anak Baron Montega, kan?"

"Yang tidak bisa bertarung itu?"

"Ah, yang cuma pandai menghamburkan uang ayahnya."

Zaivan menunduk. Kebiasaan lama yang nyaris otomatis—warisan dari hidup sebelumnya sebagai bayangan. Namun di balik sikap itu, ada sesuatu yang bergerak. Ingatan. Otot-otot yang mengingat sakit. Nafas yang tahu kapan harus ditahan.

Ia tidak membantah.

Belum.

Keluarga Montega berbeda dari yang ia kenal.

Baron Montega bukan petarung. Tangannya halus, matanya tajam—lebih terbiasa menghitung angka daripada menghunus pedang. Namun suaranya hangat, dan setiap pulang, ia selalu bertanya hal yang sama.

"Hari ini bagaimana, Zaivan?"

Pertanyaan sederhana. Tidak ada perintah. Tidak ada tuntutan. Zaivan selalu menjawab singkat, masih canggung menerima perhatian yang tidak diikuti harga.

Ibunya—perempuan yang lembut dan tegas—sering menyodorkan teh hangat, mengingatkannya makan, menepuk bahunya sebelum tidur. Sentuhan-sentuhan kecil yang tidak pernah diminta balasan.

Keamanan.

Kata itu kembali hadir—kali ini tanpa syarat.

Malam hari, ketika rumah besar Montega sunyi, Zaivan mulai bergerak.

Ia keluar ke halaman belakang, ke sudut yang jarang diterangi obor. Tidak ada guru. Tidak ada penonton. Hanya tubuhnya sendiri dan tanah dingin. Ia mengulang dasar-dasar—langkah kaki, keseimbangan, napas. Pelan. Senyap.

Ingatan Zega bangkit, namun Zaivan menahannya.

Bukan untuk membunuh, katanya pada diri sendiri.

Untuk melindungi.

Pukulan pertamanya kikuk—bukan karena lemah, melainkan karena ia menahan. Ia belajar ulang, menyesuaikan tubuh baru dengan disiplin lama. Keringat mengalir. Napas berat. Ia jatuh—bangkit lagi. Tidak ada teriakan. Tidak ada pujian. Hanya kemajuan kecil yang jujur.

Keesokan harinya, rumor menyebar.

Gudang Montega di pinggiran kota didatangi preman kecil. Mereka datang dengan alasan pajak, izin, atau sekadar pamer kuasa. Biasanya, Baron Montega membayar—lebih murah daripada perang.

Hari itu, Zaivan kebetulan ada di sana.

Ia berdiri di samping ayahnya, diam, kepala sedikit menunduk. Preman itu menyeringai.

"Anakmu?"

"Iya."

"Sayang. Tampak rapuh."

Senyum itu tidak sempat menjadi tawa.

Zaivan melangkah satu inci ke depan—cukup untuk memutus jarak. Gerakannya sederhana, nyaris tidak terlihat. Preman itu tersandung—jatuh ke lutut—udara keluar dari paru-parunya tanpa suara. Tidak ada darah. Tidak ada keributan. Hanya kejutan.

Zaivan mundur kembali.

Menunduk lagi.

"Ayo pergi," katanya pelan.

Mereka pergi.

Malam itu, Baron Montega memanggil Zaivan ke ruang kerja.

"Kalau kau ingin belajar," kata sang Baron, memilih kata dengan hati-hati, "aku bisa menyediakan apa pun."

Zaivan menatap meja kayu, lalu mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak menghindar.

"Aku akan belajar," jawabnya. "Dengan caraku."

Baron Montega mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh.

Kepercayaan—sekali lagi—diberikan tanpa syarat.

Di luar, kota tetap mencibir.

Namun di dalam, sesuatu berubah.

Anak memalukan itu mulai memiliki wilayah.

Bukan peta. Bukan tanah.

Melainkan orang-orang yang ingin ia lindungi.

Dan bayangan yang pernah mati,

pelan-pelan

belajar berdiri di bawah cahaya.

More Chapters