Ficool

Chapter 92 - Aku Tidak Akan Dikendalikan

Motor itu berhenti mendadak. Di bawah cahaya lampu jalan, Kaivan menatapnya datar. "Kau mau kuturunkan di sini?"

Isabel membeku sejenak, lalu tertawa canggung. "Jangan! Aku cuma bercanda."

Kaivan menghela napas dan menyalakan mesin kembali. Keheningan setelah itu terasa berbeda. Lebih hangat, lebih lembut, seolah ada benang tak terlihat yang mulai terjalin di antara mereka. Isabel sendiri tidak tahu mengapa, tetapi berada di dekatnya terasa... aman.

Jalanan semakin sepi. Bangunan-bangunan perlahan tenggelam dalam bayang-bayang saat mereka melintas. Ketika mereka tiba di depan rumah Isabel, gadis itu tiba-tiba ragu. Rumah itu tampak gelap dan dingin, memancarkan kemarahan yang sunyi.

"A... aku takut," bisiknya, suaranya gemetar.

Kaivan menyadarinya. Ia mematikan mesin lalu menepuk bahu Isabel dengan lembut. "Aku akan bicara dengan mereka," katanya pelan. "Semuanya akan baik-baik saja."

Isabel mengangguk, masih gelisah, tetapi ia mempercayainya. Bersama-sama mereka berjalan menuju pintu depan. Setiap langkah terasa berat seiring detak jantung Isabel yang semakin keras. Namun kehadiran Kaivan tetap tenang, seperti perisai yang bahkan tidak ia sadari ia butuhkan. Kaivan mengetuk pintu dengan ringan, sementara Isabel bersiap menghadapi apa pun yang menunggu di baliknya.

Setelah memastikan Isabel pulang dengan selamat, Kaivan kembali mengendarai motornya, membelah jalanan yang kosong. Angin malam menembus jaketnya, tetapi pikirannya terasa jauh lebih dingin. Suara mesin bercampur dengan sunyi, sampai sebuah suara kembali terdengar. Bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya.

"Aku bisa membantu menyimpan informasi ini di ingatanmu... dengan sangat rinci."

Kata-kata itu menghantam pikirannya. Selama ini ia merasa dirinya yang menggunakan buku itu. Namun sekarang rasanya justru buku itulah yang sedang memanfaatkannya. Ia tidak pernah meminta kekuatan itu. Tome Omnicent yang menawarkannya.

Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, tajam dan menakutkan. Apakah ia benar-benar mengendalikan Tome itu... atau justru ia sudah menjadi bagian darinya?

Tiba-tiba ia menginjak rem keras. Ban berdecit di atas aspal, membelah sunyi malam. Di bawah lampu jalan, Kaivan duduk terpaku, napasnya berat. Jantungnya berdetak keras di dada. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan buku dari tasnya.

Tome Omnicent.

Tangannya mencengkeram buku itu semakin erat. Tatapannya terpaku padanya, seolah mencari jawaban yang tersembunyi di balik gelapnya halaman-halaman itu.

"Apa yang kau inginkan dariku?" bisiknya. Suaranya bergetar di antara tekad dan ketakutan.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang berat, seakan hidup.

Tome Omnicent tidak merespons. Diamnya terasa seperti tatapan makhluk hidup yang sedang mengamati, bukan sekadar kertas dan tinta. Halaman-halamannya tetap kosong dan tak bergerak. Angin malam yang dingin merayap pelan, membuat sunyi di antara harapan dan ancaman semakin dalam. Mata Kaivan tetap tertuju pada buku itu, seolah memaksa tinta-tinta bisu itu berbicara sekali lagi.

"Aku tahu kau punya kehendakmu sendiri," katanya pelan, kali ini lebih tegas. "Kenapa aku bertemu mereka? Kenapa kau memilih jalan ini untukku?"

Suaranya menggema samar di malam hari. Bukan lagi permohonan seorang anak muda, melainkan tuntutan seseorang yang meminta makna dari takdir itu sendiri.

Dan tepat ketika harapan hampir padam, tinta hitam mulai muncul di halaman itu. Perlahan, seperti darah yang merembes dari luka yang tak terlihat. Kata demi kata terbentuk.

"Aku hanya mencoba mengabulkan keinginanmu. Kau berkata: Aku ingin membantu. Aku tidak ingin bersikap acuh lagi. Aku hanya menjadikan niat itu nyata."

Bayangan-bayangan melintas di benak Kaivan.

Senyum nekat Radit yang entah bagaimana justru menyelamatkan mereka semua.

Tatapan Zinnia yang waspada namun teguh.

Felicia yang dingin dan tenang.

Dan Thivi, cahaya kecil yang tertawa di tengah malam-malam panjangnya.

Kini setiap pertemuan itu terasa terlalu terencana, terlalu tepat untuk disebut kebetulan. Semua seperti potongan puzzle yang sudah ditempatkan jauh sebelum Kaivan membuat langkah pertamanya.

Namun baris berikutnya terasa jauh lebih dalam menusuk.

"Sejak hari itu sampai sekarang, kau terus membantu. Tetapi setiap pilihan yang menyimpang dari jalanku menciptakan riak yang harus kuperbaiki."

Kaivan membeku.

Seolah semua kehendak bebasnya hanyalah ilusi. Ia merasa seperti tokoh dalam sebuah cerita yang penanya tidak pernah ia pegang. Setiap keputusan yang ia buat, setiap perlawanan yang ia lakukan, ternyata hanya bagian dari naskah yang lebih besar, yang diam-diam ditulis oleh kehendak di balik halaman-halaman kuno itu.

Sebuah pertanyaan menggema di kepalanya.

Apakah ia benar-benar mengendalikan semuanya... atau hanya bidak lain dalam permainan Tome?

Tatapannya tetap terpaku pada buku itu, mencari makna dalam keheningan yang dibawa oleh angin dan daun-daun yang bergetar.

Lalu, dengan tekad tiba-tiba, ia menutup buku itu rapat.

Napasnya tajam. Tangannya masih gemetar, tetapi bukan karena takut. Ada sesuatu yang baru lahir di dalam dirinya.

Tekad.

"Aku tidak akan dikendalikan," gumamnya pelan.

Suaranya tenang, tetapi kata-katanya tajam seperti pisau. Bukan sekadar pemberontakan, melainkan sebuah sumpah. Janji kepada dirinya sendiri, dan kepada entitas yang bersembunyi di dalam halaman-halaman gelap itu.

Kaivan memasukkan buku itu kembali ke dalam tas. Gerakannya kini lebih mantap. Matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Ia tahu kata-katanya saja tidak akan mengubah apa pun. Tetapi di dalam dadanya, sebuah percikan telah menyala. Kehendak untuk menghancurkan takdir yang ditulis tanpa persetujuannya.

Ia akan mengambil kendali, bahkan jika dunia berkata sebaliknya.

Mesin motor kembali meraung, memecah sunyi malam. Namun kali ini tatapan Kaivan tidak lagi dipenuhi kebingungan. Hanya api kecil yang menyala diam-diam.

Ia melaju menembus kegelapan, tetapi cahaya sudah mulai tumbuh di dalam dirinya.

Malam masih dingin. Jalanan tetap kosong. Tetapi ia tidak lagi takut.

Ia akan menentang kehendak buku itu, dan menulis takdirnya sendiri.

Keesokan harinya, ketika bel makan siang berbunyi, ruang kelas dipenuhi riuh percakapan. Di salah satu sudut yang lebih tenang, Kaivan duduk di mejanya, menulis cepat di sebuah buku catatan yang sudah usang.

Tangannya bergerak gesit, memenuhi halaman dengan angka dan perhitungan. Anggaran, peralatan, segala sesuatu yang ia butuhkan untuk memindai Tome Omnicent. Sesekali ia bergumam pelan, alisnya berkerut, matanya menyipit seperti seseorang yang sedang memecahkan teka-teki.

"Aku butuh scanner... dan komputer yang layak," bisiknya hampir tak terdengar.

Ujung penanya bergerak gelisah, menyusun strategi seolah ia sedang bersiap menghadapi perang.

Di luar kelas, sepasang langkah ringan berhenti di depan pintu. Felicia berdiri di sana, tinggi dan anggun. Rambut hitam legamnya berkilau di bawah cahaya lampu neon.

Gadis misterius yang selalu menarik perhatian itu tersenyum pada ketua kelas.

"Kaivan ada di dalam?" tanyanya lembut.

Suaranya jernih, tetapi membawa tekanan yang sulit diabaikan. Mata merahnya berkilau, tatapan yang membuat orang hampir mustahil menolak.

Anak laki-laki di pintu itu mengangguk gugup lalu berteriak ke dalam kelas.

"Kaivan! Pacarmu nyari kamu!"

Seketika ruangan menjadi sunyi.

Semua kepala menoleh.

Bisikan-bisikan menyebar di udara seperti percikan api. Beberapa gadis saling bertukar pandang dengan mata menyipit.

Kaivan hanya melirik sekilas, lalu menghela napas dan menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan.

"Dia bukan pacarku," katanya datar.

Ia kembali tenggelam dalam dunia angka dan logikanya, mencoba menjauh dari panggung yang tiba-tiba menyorotinya.

Namun Felicia sudah berjalan mendekat. Langkahnya anggun, kedua lengannya terlipat, senyum geli terlukis di bibirnya.

"Tenang saja," katanya ringan, cukup keras untuk didengar semua orang. "Apa yang ada di antara kami jauh melampaui hubungan biasa."

Kelas itu terengah.

Bisikan kembali meledak.

"Melampaui? Jadi... mereka sudah tunangan?" bisik seorang gadis kepada temannya.

Felicia hanya tersenyum tipis mendengar komentar itu. Ia meletakkan tangannya di bahu Kaivan, membuat pemuda itu akhirnya menoleh meski masih memegang penanya.

Mata merah Felicia melirik catatannya, rasa ingin tahu berkilau di dalamnya.

"Apa yang sedang kau kerjakan, Kaivan?" tanyanya sambil mengangkat alis ketika melihat labirin angka di buku catatannya.

"Menyusun anggaran... untuk scanner dan komputer. Aku butuh itu untuk mendigitalkan Tome Omnicent," jawab Kaivan singkat tanpa menoleh lama.

Felicia mengangguk, bibirnya melengkung geli.

"Hmm. Tapi ini sudah jam makan siang." Ia tersenyum lembut, sesuatu yang jarang terlihat darinya. "Ayo. Kita makan dulu."

More Chapters