Ficool

Chapter 80 - Semua Orang Telah Melewati Garis

Kaivan bergerak cepat menyusuri lorong dingin, tubuhnya ditelan bayangan yang menempel di dinding seperti jubah malam. Dingin karambit yang tersembunyi di dalam sepatu botnya mengingatkannya bahwa ia tidak pernah benar-benar tanpa senjata.

Dua penjaga muncul di ujung lorong. Kaivan berhenti, suaranya tenang, berusaha terdengar tak berbahaya. "Maaf, aku hanya mencari toilet."

"Tembak dia!"

Waktu seolah melambat. Peluru pertama membelah udara, namun Kaivan sudah bergerak lebih dulu. Rantai karambitnya berayun, menepis tembakan itu dengan denting logam yang nyaring. Dalam satu gerakan, bilahnya melilit leher penjaga pertama. Satu tarikan singkat, tubuh itu roboh tanpa suara.

Penjaga kedua mengangkat senjata, tetapi Kaivan sudah melompat. Lututnya menghantam wajah pria itu, membuatnya terlempar ke dinding dan jatuh tak sadarkan diri. Napas Kaivan memburu, namun langkahnya tidak goyah. Bayangannya kembali menyatu dengan gelap.

Ia bergerak seperti bisikan perang, setiap langkahnya berdengung oleh tekad yang sunyi. Dalam pikirannya, jalur dan kemungkinan berkelindan, kabur, bertahan, atau mati. Keringat mengalir di pelipisnya, tetapi kemauannya semakin mengeras.

Pintu di ujung lorong semakin dekat. Jemarinya menyentuh gagang karambit. Langkah kaki terdengar menggema. Kaivan membeku. Napasnya tertahan. Detak jantungnya bergemuruh seperti genderang perang. Bersandar pada dinding, ia menghitung irama langkah musuh. Dalam keheningan itu, ia menjadi bayangan, dan bayangan tidak pernah gentar.

Saat suara langkah menjauh, Kaivan kembali bergerak. Sunyi memanjang, hanya diisi desah napasnya dan gesekan halus sepatunya. Setiap gerakan terukur, setiap detik dihitung oleh denyut nadinya. Tidak ada ruang untuk ragu. Di dalam kepalanya, satu kalimat terus bergema. Terus bergerak. Jangan berhenti.

Di tempat lain, Radit dan Ethan melangkah dalam gelap. Seragam musuh melekat di tubuh mereka, memberi penyamaran yang rapuh. Lorong berkelok seperti labirin, berbau logam dan zat kimia. Mata mereka bergerak cepat, memeriksa setiap sudut.

"Seperti labirin…" bisik Ethan, napasnya bergetar.

Radit mengangguk muram. "Fokus. Cari Felicia. Ambil barangnya. Lalu menghilang."

Mereka tiba di sebuah pintu besi bertuliskan Penyimpanan Makanan. Gagangnya dingin, permukaannya berkarat. Ethan menarik napas perlahan lalu memutar kenopnya. Pintu berderit terbuka, dan dunia seakan berhenti sesaat.

Deretan rak terbentang di hadapan mereka. Bukan makanan, melainkan kematian. Bahan peledak, cairan tak dikenal, tabung-tabung dengan kode penghancur. Bau kimia yang tajam menusuk hidung.

Radit melangkah mendekat, menyentuh label dengan tangan bersarungnya. "Ini… bisa meledak?"

Suara Ethan terdengar ragu. "Aku cuma tahu bom kartun yang ada sumbunya. Tapi yang ini… beda."

Ketegangan memenuhi udara. Napas mereka membentuk uap tipis. Radit mengepalkan tangan.

"Kita harus cepat. Aku yakin Kaivan akan menemukan Raphael. Tapi sekarang, kita cari Felicia dan keluar."

Di ruangan terang dengan udara yang menyesakkan, Felicia berdiri membawa nampan minuman. Tangannya sedikit gemetar, namun wajahnya tetap tenang, topeng ketenangan di tengah badai. Yusra, pria bertubuh besar dengan mata rakus, menatapnya seperti mangsa.

"Hei, gadis manis. Temanmu itu… bagaimana dia bisa punya buku seperti milik Ketua?" suara kasar Yusra memecah sunyi. Tangannya mulai terulur, membuka kancing kemeja Felicia.

Felicia menahan gelombang jijik yang naik dari dada ke tenggorokannya. Tatapannya membeku pada Tome Omnicent yang tergeletak di meja. "Aku tidak tahu buku apa yang kau maksud," katanya, suaranya stabil namun dingin.

Senyum miring menghiasi wajah Yusra. "Jangan malu. Aku bisa membuat hidupmu lebih mudah. Bagaimana kalau aku menikahimu?" Ia berdiri perlahan. Satu per satu kancing itu terbuka.

"Meski dadamu kecil… tubuhmu tetap indah. Semua perempuan indah bagiku."

Sesuatu di dalam diri Felicia akhirnya retak. Kesabaran yang selama ini ia genggam hancur dalam satu detik. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya, menampar wajah Yusra dengan suara keras yang menggema.

Plak!

Yusra terhuyung, matanya membelalak. Felicia tidak memberinya waktu untuk pulih. Tendangannya menghantam perut pria itu, membuatnya terlempar ke meja. Kertas dan buku berserakan ke lantai.

"Kau babi menjijikkan!" teriaknya.

Ia maju lagi. Tinju dan amarah menghantam tubuh Yusra. Setiap pukulan adalah luapan dari rasa takut, jijik, dan penghinaan yang terpaksa ia telan. Buku-buku jarinya berdenyut sakit, tetapi semangatnya menyala terang.

Tak jauh dari sana, Kaivan berlari menembus lorong remang. Napasnya pendek-pendek, namun tekadnya tak goyah. Di kejauhan, suara benturan keras terdengar, diikuti teriakan yang langsung ia kenali.

Ia mempercepat langkah, sepatu menghantam lantai dingin hingga tiba di depan pintu besar. Suara di dalam semakin jelas, pergulatan, teriakan, lalu sunyi.

Dengan satu tendangan keras, Kaivan mendobrak pintu itu.

Pemandangan di depannya membuatnya terpaku.

Felicia berdiri di tengah ruangan terang, dadanya naik turun, rambutnya berantakan, wajahnya menyala oleh amarah. Di kakinya, Yusra tergeletak memar dan hampir tak sadarkan diri.

"Kau babi menjijikkan!" teriak Felicia lagi, tinjunya masih gemetar. "Kalau Kaivan yang membuka kemejaku, mungkin aku tidak akan protes, tapi KAU? Berani sekali!"

Sunyi menyusul. Hanya napas Felicia yang tersengal dan detak jantung Kaivan yang menggema.

Kaivan berkedip, benar-benar tidak siap dengan pemandangan itu. Mulutnya setengah terbuka, satu alisnya terangkat canggung.

Felicia menoleh, lalu membeku saat melihatnya berdiri di ambang pintu seperti patung. Tatapan mereka bertemu. Api di wajahnya perlahan berubah menjadi rasa malu, pipinya memerah terang.

"K-Kaivan? S-sejak kapan kau di situ?"

 

More Chapters