Ficool

Chapter 71 - Ketenangan Sebelum Badai

Langit jingga menyambut langkah lambat Kaivan menuju sebuah toko elektronik. Di dalam, cahaya neon memantul di puluhan layar. Tatapannya jatuh pada satu ponsel yang bersinar di balik kaca.

"Canggih sekali…" bisiknya. Ujung jarinya menyentuh permukaan kaca, dan untuk sesaat, dunia terasa seperti berada dalam genggamannya.

Benda ini tidak akan pernah menyakitinya, tidak seperti manusia. Ia tersenyum tipis, nyaris tak terlihat, namun di balik senyum itu ada sebuah janji. Bahwa rasa sakit bisa berubah menjadi kendali. Bahwa kekalahan bisa diubah menjadi arah.

Kaivan menatap ponsel di balik kaca. "Berapa harganya?" tanyanya pelan.

Pegawai toko menjawab cepat. Transaksi berlangsung singkat, tanpa banyak kata, dan tak lama kemudian ponsel baru itu sudah terselip di sakunya. Kaivan meninggalkan toko itu, seolah menanggalkan beban yang tak terlihat.

Di sebuah kios kecil di pinggir jalan, ia menyerahkan uang tunai kepada pria paruh baya. Tanpa sepatah kata, pria itu mengembalikan surat kepemilikan motor Kaivan yang sempat hilang. Jarinya bergetar saat memegangnya—bukan sekadar dokumen, melainkan simbol dari sesuatu yang pernah direnggut darinya.

Namun kedamaian tidak datang. Langkahnya membawanya ke sebuah toko barang antik, tempat aroma kayu tua dan kisah-kisah yang terlupakan memenuhi udara. Tanpa ragu, ia membeli kembali Tome Omnicent. Jemarinya menyentuh sampul kulit yang sudah usang, dan senyum tipis melintas di bibirnya. Sebuah janji untuk dirinya sendiri: "Kita mulai lagi."

Di sisi lain kota, langit jingga menaungi kekacauan. Tania berdiri di antara sisa-sisa geng yang perlahan mulai sadar. Wajah-wajah bingung berubah menjadi amarah saat mereka menyadari barang-barang mereka hilang.

Di antara mereka berdiri Darius, wajahnya membara oleh amarah. "Siapa yang berani mencuri motorku?!" raungnya.

Tania melangkah maju, rambutnya berantakan, tubuhnya tampak lemas, namun matanya berkilau licik. Senyum tipis sempat muncul di balik wajah lelahnya—awal dari sebuah akting sempurna. Pakaian yang sobek, langkah goyah, setiap detail dirancang untuk membangkitkan simpati. Ia siap memainkan peran korban.

Ia mengatur napasnya, membuat suaranya bergetar dengan sengaja. "Orang yang mengambil motormu… dan mengalahkan kalian semua… satu sekolah denganku," katanya pelan, namun setiap kata mengandung tujuan.

Kerumunan itu terdiam. Puluhan mata tertuju padanya.

"Namanya Kaivan," lanjut Tania, tatapannya dipenuhi luka palsu. "Dia yang mempermalukanku di sekolah."

Darius mengerutkan kening, rahangnya menegang. Nama itu menyalakan kembali rasa terhina yang pahit. "Kaivan? Si pendek aneh itu? Dia berani melakukan ini? Mencuri barang kita, memukuli kita… dan mengambil motorku?!"

Tania menarik napas dalam, menahan senyum. Matanya berkilau seolah hendak menangis. "Bukan cuma itu…"

Kerumunan menahan napas.

"Dia… dia menyerangku," bisiknya, hampir tak terdengar, namun cukup.

Seperti petir di langit tenang, amarah meledak. Wajah-wajah berubah oleh keterkejutan dan kemarahan.

"Dia bilang… aku tidak pantas dicintai," lanjut Tania, suaranya bergetar. "Bahwa aku hanya cocok jadi mainannya."

Kesunyian berubah menjadi kegaduhan. Napas berat memenuhi udara. Seseorang berteriak, "Bajingan itu! Kita buru dia sekarang!"

Darius tidak ragu. Tangannya gemetar saat meraih ponselnya. "Ayah… kita punya masalah. Motorku dicuri,"

Tania menundukkan kepala, menyembunyikan senyum kemenangannya. Panggung itu terbakar, dan naskahnya berjalan sempurna.

Di tengah kekacauan, ia berdiri diam, mata berkaca-kaca, bibir bergetar, tubuh gemetar. Namun di balik semua itu, senyum tipis tak terlihat melengkung di wajahnya. Setiap gerakan presisi, setiap emosi terhitung—bukan untuk simpati, melainkan untuk menyalakan balas dendam. Dan ia berhasil.

Benih kebencian telah ditanam. Tania tahu badai akan datang, bukan karena kebetulan, melainkan karena rancangannya sendiri. Ini bukan balas dendam. Ini adalah seni.

Sementara itu, di sudut kota yang lain, Kaivan duduk sendirian. Matahari senja menghangatkan kulitnya, namun hatinya tetap membeku. Di pangkuannya tergeletak Tome Omnicent yang terbuka—berat, bukan karena buku itu sendiri, melainkan karena takdir yang dibawanya.

"Berangkat ke Purwakarta. Temui Raphael. Bawa Felicia dan Radit."

Tulisan itu bersinar samar, seolah membisikkan takdir. Kaivan mengembuskan napas pelan, detak jantungnya stabil, lalu semakin cepat. Sebuah arah. Sebuah misi.

Ia menutup buku itu dengan lembut. Saat ia hendak berdiri, sebuah suara tenang memecah kesunyian.

"Mau pergi lagi?"

Ethan muncul dari bayangan, bersandar di dinding, tangan di dalam saku. Tatapannya tajam, kehadirannya membelah udara seperti bilah yang tenang.

Kaivan menoleh padanya, diam sejenak. "Ke Purwakarta. Ada seseorang yang harus kutemui."

Nada suaranya tegas, meski getaran tipis menunjukkan kegelisahannya.

Ethan melangkah mendekat, stabil dan pasti. "Siapa? Dan kenapa itu penting?" Suaranya tenang, namun matanya menuntut kejujuran.

Kaivan menarik napas panjang. "Tome Omnicent yang menyuruhku. Aku hanya mengikuti arahannya."

Ethan berdiri di depannya, tak berkedip. "Kamu percaya buku itu sepenuhnya? Kamu bahkan tidak tahu apa yang menunggumu."

Kaivan membalas tatapannya. "Setiap kali aku mengikuti arahnya, aku menemukan sesuatu yang penting. Bahkan kamu… itu juga karena buku ini. Aku tidak bisa mengabaikannya."

Ethan menyeringai tipis. "Kalau begitu, aku ikut."

Kaivan ragu sesaat, namun melihat ekspresi tenang Ethan, ia mengangguk. "Baik. Tapi ini tidak akan aman. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun."

"Tenang saja," kata Ethan, menepuk bahunya. "Aku sudah terbiasa dengan ketidakpastian. Lagipula, kamu masih berutang satu bantuan padaku, ingat?"

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka bersiap pergi. Ethan mengencangkan helmnya, ekspresinya datar seolah ini hanya perjalanan biasa. Saat motor melaju, dengungan mesinnya yang lembut membelah senja yang sunyi.

Angin malam menyapu wajah mereka. Udara terasa sejuk, bercampur aroma tanah lembap dan pepohonan jauh yang bergoyang di bawah cahaya senja yang memudar. Tak satu pun berbicara, namun pikiran mereka tertuju pada hal yang sama: sesuatu menunggu di depan.

Kaivan mengendalikan motor dengan satu tangan, tangan lainnya menarik ponsel dari jaketnya. Jarinya mengetik cepat. Keheningan menggantung di udara, namun keputusannya sudah bulat—perjalanan ini telah dimulai.

Temui aku di Danau Jatiluhur. Sekarang, tulisnya pada Felicia, berharap ia datang tepat waktu untuk membantu menghadapi apa pun yang menunggu mereka.

Saat mereka semakin dekat, suasana berubah. Hutan semakin rapat, bayangan semakin dalam, dan suara alam terdengar semakin hidup—namun entah kenapa terasa mengancam. Ekspresi Ethan berubah serius. "Kamu tahu…" katanya pelan. "Aku bisa merasakan sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya sedang menuju ke arah kita."

Kaivan tidak menjawab, matanya terkunci pada jalan di depan. Di kejauhan, Danau Jatiluhur berkilau seperti cermin yang memantulkan cahaya senja terakhir. Ia memperlambat laju motor, dan Ethan tahu—ini bukan akan menjadi pertemuan biasa.

More Chapters