Ficool

Chapter 67 - Harga dari Tome

Kaivan menjawab pelan, nadanya membawa beban kehilangan. "Semuanya hilang. Termasuk Tome Omnicent."

Hening sejenak. Lalu suara Felicia terdengar lagi, kali ini lebih tegas. "Aku akan datang. Sekarang juga."

Kaivan menggeleng pelan. "Jangan. Aku akan menelepon lagi nanti."

Ia menutup panggilan itu perlahan, seolah menyegel keputusan yang tak bisa ia tarik kembali.

Dari seberang ruangan, Ethan berdiri diam, matanya dipenuhi rasa ingin tahu dan kegelisahan. Ia bisa merasakan bahwa sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sedang bergerak di hadapannya, tapi rasa takut menahan bibirnya untuk tetap tertutup.

Akhirnya, dengan suara kecil yang gemetar, ia bertanya, "Apa itu… Tome Omnicent?"

Kaivan berbalik, matanya tajam namun lelah. "Buku tua. Sampul cokelat," katanya singkat namun penuh tekanan. "Kamu jual ke mana?"

Ethan menunduk, rasa bersalah membebani kata-katanya. "Ke toko barang antik. Mungkin sekarang sudah tutup… tapi besok aku bisa antar kamu ke sana."

Kaivan terdiam sesaat, lalu mengangguk, dingin dan tegas. "Besok pagi."

Ethan mencoba mencairkan suasana. "Maaf… aku nggak tahu buku itu sepenting itu."

Kaivan hanya menghela napas. Tak ada pengampunan. Tak ada kata menenangkan. Ia berjalan ke sofa tua dan duduk tegak. Cahaya redup memantul di matanya, membuatnya berkilau samar—jauh, tak terjangkau.

Dengan canggung, Ethan pergi ke dapur dan kembali membawa dua gelas air. Ia menyodorkan satu. Kaivan menerimanya tanpa kata. Lalu, setelah jeda ragu-ragu, Ethan berkata, "Lo bisa nginep di sini malam ini."

Kaivan mengangguk kecil—hanya seperlunya. Ia meneguk air itu perlahan.

Di dalam sunyi malam, dua pria dari dunia yang berbeda duduk dalam ruangan sempit, terhubung bukan karena pilihan, tapi karena takdir yang belum selesai mengurai jalannya.

Keesokan paginya, di bawah langit abu-abu pucat, Kaivan dan Ethan berjalan menyusuri jalan kosong. Udara dingin sedikit meredakan ketegangan, tapi keheningan di antara mereka tetap berat—seperti dinding yang memisahkan dua kehidupan yang tak akan pernah benar-benar sejalan.

Kaivan berhenti. Suaranya tenang, tapi membawa beban. "Kenapa teman-temanmu mengkhianatimu?"

Pertanyaan itu menggantung—bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi juga ujian empati. Ethan terdiam, napasnya tidak teratur. Saat akhirnya bicara, suaranya pahit.

"Aku cuma mau bagianku. Mereka nolak. Aku melawan… tapi kalah."

Ia menundukkan kepala. Kata-katanya jatuh seperti luka lama yang terbuka kembali. Kaivan mendengarkan dalam diam, membaca lebih banyak dari nada suaranya daripada arti kata-katanya. Bagi Kaivan, pengkhianatan bukan sekadar peristiwa—melainkan pelajaran yang membentuk tulang punggung jiwa seseorang.

Langkah mereka berhenti di depan toko barang antik. Bangunannya kecil, papan namanya pudar, catnya mengelupas. Udara di sekitarnya terasa padat, seperti napas yang ditahan.

Ethan mengetuk pintu kayu. Suaranya pelan tapi jelas.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang pria tua berdiri di sana, rambutnya perak, matanya dingin. Ia menatap mereka tanpa emosi, tanpa keramahan.

Ethan mengumpulkan sisa keberaniannya. "Pak, saya mau beli kembali buku tua yang saya jual kemarin," katanya, suaranya gemetar namun tegas. Di dalam dirinya, rasa bersalah dan tekad saling bertabrakan.

Pria tua itu mengangkat alis, nadanya datar. "Sepuluh juta rupiah."

Sunyi jatuh. Mata Ethan membesar. "Kenapa mahal banget? Kemarin Bapak cuma bayar satu juta!"

Pria itu mengangkat bahu, tak peduli. "Nilainya sudah naik. Kalau tidak mau, silakan pergi."

Di belakang Ethan, Kaivan melangkah maju. Tatapannya tak goyah. "Baik. Kami akan kembali dengan uangnya."

Tak ada debat. Tak ada ragu. Ia menggenggam lengan Ethan dan menariknya pergi. Langkah kaki mereka menggema pelan di jalan batu.

Di luar, langit berubah menjadi biru yang lebih dingin. Angin menggerakkan daun-daun kering, berbisik tentang sesuatu yang belum selesai. Langkah mereka melambat, tiap pijakan terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ethan akhirnya berhenti, frustrasinya pecah. "Kenapa lo nggak ngomong apa-apa tadi? Dia jelas-jelas mau nipu kita! Lo nggak marah?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu jawaban yang bisa mengguncang lebih dari sekadar harga sebuah buku.

Kaivan berhenti, lalu berbalik perlahan. Tatapannya menembus Ethan.

"Diam!" Suaranya menggelegar, mengguncang udara. "Buku itu memang bernilai sepuluh juta. Bahkan satu miliar pun tidak sebanding. Jangan ceramahi aku soal nilai kalau kamu bahkan tidak mengerti artinya!"

Ethan membeku. Napasnya tercekat. Ia tak bisa menjawab. Namun Kaivan belum selesai bicara.

More Chapters