Ficool

Chapter 65 - Ketika Takdir Dicuri

"Aku butuh bantuanmu untuk menemukan seseorang," kata Kaivan tenang. "Kalau kamu membantu, aku akan membayarmu."

Udara di sekitar mereka terasa menebal. Salah satu pria berambut panjang tersenyum miring. "Santai saja, bro. Duduk dulu. Kita ngobrol."

Kaivan duduk di kursi plastik yang sedikit goyah, angin senja membawa aroma samar bensin dan debu kota. Setelah menarik napas perlahan, ia mulai bercerita—tentang Raphael, tentang buku itu, tentang petunjuk misterius yang terus membawanya ke persimpangan tak terduga.

Kelompok pengendara motor itu kini mendengarkan lebih serius. Ekspresi mereka berubah seiring cerita Kaivan mengalir, campuran rasa penasaran dan kepercayaan yang perlahan tumbuh. Imbalan yang ia tawarkan cukup menggiurkan untuk menarik perhatian mereka. Ethan, yang tadi sempat ragu, kini terlihat yakin; ia mengangguk pelan, memberi tanda setuju.

Namun tubuh Kaivan sudah berada di ambang batas. Perjalanan panjang, tekanan dari Tome Omnicent, dan percakapan yang terasa menegangkan ini mengikis tenaganya. Ketika salah satu dari mereka memberinya segelas jus jeruk dingin, ia menerimanya tanpa curiga.

Rasanya biasa saja. Efeknya tidak.

Setelah satu tegukan, rasa kantuk menghantamnya seperti ombak besar. Kelopak matanya terasa berat, pikirannya mengabur. Dalam hitungan menit, ia tertidur lelap di kursi reyot itu, ditelan kelelahan yang sudah lama ia abaikan.

Kelompok itu saling bertukar pandang. Tawa mereka berubah menjadi seringai licik. Kesempatan membuka pintunya, didorong perlahan oleh angin malam.

"Ethan, lihat ini!" salah satu dari mereka berteriak. Seorang pemuda berambut berantakan sudah mengobrak-abrik tas Kaivan. Tangannya bergerak cepat, mencari sesuatu yang lebih berharga dari sekadar uang receh. Saat jarinya menyentuh dua amplop tebal, matanya membesar.

"Dua amplop, bro! Banyak banget, total sembilan juta! Hahaha!" teriaknya sambil mengangkat uang itu ke udara. Tawa meledak seperti kembang api di malam sunyi, liar dan penuh kemenangan.

Sorak sorai memenuhi udara. Mata mereka berkilat, mabuk oleh keberuntungan yang datang tiba-tiba seperti badai. Ethan berdiri dengan senyum miring, pikirannya melayang melampaui uang itu. Bagi mereka, Kaivan bukan teman. Ia hanyalah mangsa yang tersesat di sarang serigala.

"Jackpot!" teriak pria tinggi sambil mengayun salah satu amplop dengan gembira. Tawa mereka menelan malam, dipenuhi mimpi kekayaan instan dan kesenangan sesaat.

Namun di tengah kebisingan itu, seorang pemuda berkacamata melihat sesuatu yang aneh di dalam tas Kaivan. "Hei, lihat ini," gumamnya pelan, mengeluarkan sebuah buku tua berbalut kayu, halaman-halamannya menguning dimakan usia. Ukiran aneh menghiasi sampulnya, huruf-huruf dari bahasa yang terlupakan.

"Apaan ini? Kelihatan kuno banget!" katanya bingung, memegangnya seperti benda yang sekaligus berharga dan terkutuk. Yang lain mendekat, rasa penasaran mereka memberi makan bayangan sunyi yang menyelimuti buku itu.

Ethan melangkah mendekat, tatapannya tajam namun meremehkan. Ia melihat sekilas, lalu mendengus. "Ambil saja. Mungkin laku di pasar barang antik," katanya datar, lalu kembali ke kelompoknya, tawanya kembali terdengar.

Tak satu pun dari mereka sadar bahwa mereka sedang memegang Tome Omnicent—buku yang menjawab pertanyaan dunia dan menyimpan takdir mereka dalam halaman-halamannya yang sunyi. Di bawah cahaya bulan, buku itu berkilau samar, menyembunyikan kekuatannya dari mereka yang terlalu buta untuk melihat.

Mereka pergi dengan bangga, saku berat oleh uang dan takdir yang tak mereka pahami. Di belakang mereka, Kaivan masih tertidur, tak menyadari bahwa malam itu baru saja menulis ulang hidupnya. Malam itu, dunia mencatat dalam diam: yang dicuri bukan hanya harta, melainkan takdir seorang manusia.

Beberapa jam kemudian, Kaivan mulai terbangun. Tengah malam menyelimuti kota kecil itu dalam keheningan. Tubuhnya terasa berat, seperti terjebak dalam kabut tebal. Ia berkedip, matanya menyesuaikan diri dengan cahaya lampu jalan yang samar di ujung pandangannya.

Ada yang salah. Kekosongan mencengkeram dadanya, bukan sekadar kehilangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam—menggerogoti sampai ke tulang. Tasnya hilang. Uangnya, motornya, dan yang paling buruk… Tome Omnicent.

Panik menyebar cepat. Ia memeriksa saku-sakunya, berharap pada keajaiban kecil, tapi dunia hanya menjawab dengan sunyi. Ia membeku, berdiri di jalan sepi seperti anak kecil yang tersesat di hutan gelap.

Pikirannya berputar, mencari pegangan. "Mereka… mereka merampokku," bisiknya, suaranya bergetar, seolah takut mengakui kenyataan. Tanpa Tome Omnicent, ia merasa seperti kompas tanpa jarum penunjuk.

Dari kabut pikirannya, secercah ingatan muncul—bisikan samar dari Tome: Sembunyikan sesuatu di antara kaus kakimu. Dulu terasa sepele, tapi kini itu satu-satunya cahaya dalam kabut.

Dengan tangan gemetar, ia melepas sepatu dan merogoh kaus kaki lusuhnya. Jarinyamenyentuh sesuatu yang kecil dan padat. Perlahan, senyum samar muncul di bibirnya.

Beberapa gram emas. Tidak banyak, tapi cukup untuk menjaga harapan tetap hidup. Di tengah kehancurannya, ia menemukan satu hal yang tidak dicuri: kemauannya untuk terus berjalan.

Di sebuah pegadaian kecil yang bersih tanpa noda, Kaivan berdiri di depan pria paruh baya di balik etalase kaca. Emas itu, yang sebelumnya tersembunyi di balik lapisan kain, kini berkilau di bawah cahaya pucat.

"Saya ingin menjual ini," kata Kaivan pelan, namun dengan tekad yang sunyi. Keputusan yang lahir dari keputusasaan, dijalankan tanpa rasa takut.

Pria itu mengangkat emas itu ke arah lampu, memutarnya di antara jari-jarinya sebelum meletakkannya di atas timbangan. Bunyi tik halus alat itu terdengar seperti lonceng takdir yang rapuh.

Beberapa saat kemudian, pria itu mengangguk. "Tidak banyak, tapi saya bisa menawarkan ini." Ia menyebutkan angka yang sederhana, kecil, namun cukup menyalakan secercah harapan.

Kaivan menerimanya, sadar bahwa itu satu-satunya pijakan untuk terus melangkah—ke Bandung, mungkin, atau ke mana pun Tome sebenarnya ingin membawanya. Uang itu mungkin tidak memberinya kenyamanan, tapi memberinya kesempatan untuk bergerak.

Saat ia melangkah keluar dari toko, udara malam menyelimuti tubuhnya. Langit di atasnya gelap, bukan sekadar penanda waktu, melainkan cermin jiwanya—tersesat, namun tetap berjalan menuju jejak fajar yang paling samar.

Sementara itu, jauh dari sana, suasana yang berbeda bergema.

Di dalam ruangan sempit yang dipenuhi asap dan bau alkohol, tawa meledak di antara botol-botol dan kabut tipis. Kelompok Ethan tenggelam dalam kekacauan hasil rampasan mereka.

Ethan duduk di tengah, santai dan angkuh, gelas di tangannya, matanya menyapu kerumunan. Ia mengangkat minumannya. "Jadi… sisanya boleh aku ambil semua, kan?" Suaranya ceria, tapi rasa percaya diri di baliknya menekan yang lain.

Tawa mengikuti, meski tidak semuanya tulus. Seorang pria kurus bertopi menatapnya tajam. "Iya, santai. Nanti kita bahas," jawabnya datar. Nada suaranya menyimpan sesuatu yang tak terucap—ketenangan sebelum badai.

More Chapters