Ficool

Chapter 49 - Di Ambang Dunia Miliknya

Kaivan menggeleng pelan. "Aku belum tahu. Buku itu belum mengatakan apa pun tentang mereka. Untuk sekarang… kita jalani saja hidup kita."

Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil, ringan. "Dan mungkin… tetap memperbaiki ponsel."

Tawa pecah, ringan dan singkat. Untuk sesaat, malam terasa tanpa beban. Namun di balik tawa itu, janji dan takdir telah mulai menuliskan bab berikutnya.

Di dalam mobil Frans, yang melaju stabil di jalan malam yang sunyi, lampu kota menari di permukaan jendela. Kaivan duduk di kursi depan, tenggelam dalam pikirannya, sementara Felicia dan Thivi duduk di belakang, satu di kiri, satu di kanan, seperti dua kutub yang menjaga kesunyiannya. Di atas mereka, langit penuh bintang mengawasi dari kejauhan.

Di dalam benak Kaivan, dengung malam tergantikan oleh gema kata-kata Tome Omnicent sebelumnya: "Kau akan memainkan Truth or Truth malam ini, dan kau akan memberitahu teman-temanmu tentang aku, untuk membangun kepercayaan." Kata-kata itu tertinggal seperti nubuat yang telah terpenuhi. Ia sadar, ia tak lagi sekadar mengikuti, tapi mulai memilih untuk percaya bahwa ini adalah jalannya.

Felicia memperhatikan pantulan wajah Kaivan di kaca depan mobil. Ia bisa merasakannya—sesuatu yang bergejolak di balik wajah tenangnya. Dengan suara rendah namun tajam, ia bertanya, "Kaivan, kamu sedang memikirkan apa? Kamu terlihat… jauh sekali."

Kaivan sedikit terkejut, menarik napas perlahan. "Ibuku," katanya. "Aku tidak yakin bagaimana meyakinkannya supaya mengizinkan kalian menginap malam ini."

Tawa kecil pecah dari sisi kanan. "Oh, itu? Serahkan saja padaku. Aku ahli diplomasi calon mertua masa depan," goda Thivi, menyenggol Felicia dengan senyum jahil.

Felicia mengembuskan napas pelan, bayangan senyum muncul di bibirnya. "Kurasa tidak akan sesederhana itu, tapi… kita akan mencari jalan bersama."

Malam menyambut mereka dengan aroma daun basah. Mobil Frans berhenti di depan rumah Kaivan, sederhana, hangat, seperti jiwa yang terlalu gelisah untuk tidur. Kaivan turun lebih dulu, tatapannya tertuju pada rumah yang menyimpan sejarah dan rahasia. Felicia menyusul, langkahnya mantap, matanya tajam. Thivi yang terakhir, seringan bayangan, rambut pendeknya tersapu angin.

Mereka berdiri di depan pintu, menghadapi bukan hanya sebuah rumah, tapi bab baru yang menekan pelan di hati mereka.

"Ini dia," gumam Kaivan, suaranya nyaris hilang tertelan angin malam. Ia berdiri di depan pintu, tangannya bertumpu pada gagang, namun ragu untuk memutarnya. Ia menoleh, menatap mata Felicia dan Thivi dengan senyum samar. "Tunggu di sini sebentar. Aku perlu bicara dengan ibuku dulu."

Felicia mengangguk, tangannya terlipat, diam namun tegas. Thivi tersenyum ringan. "Baik, kami tunggu," katanya ceria.

Kaivan menarik napas dalam. Pintu berderit terbuka pelan, seperti tirai babak baru yang tersibak, lalu kembali tertutup, meninggalkan Felicia dan Thivi di bawah langit berbintang.

Di dalam, kehangatan menyambutnya. Cahaya lembut lampu ruang tamu menenangkan udara. Ibunya duduk di sofa dengan secangkir teh di tangan, wajahnya ramah namun waspada.

"Kaivan? Ada apa, Nak?" tanyanya lembut, suaranya seperti pelukan tak kasat mata.

Kaivan melangkah perlahan, lalu duduk di hadapannya. "Bu, dua temanku ingin menginap malam ini. Mereka pernah menginap sebelumnya, minggu lalu. Teh Kira juga sudah kenal mereka."

Ibunya mengernyit pelan, meski senyumnya tetap ada. "Teman-temanmu laki-laki?"

Sebelum Kaivan sempat menjawab, pintu depan kembali terbuka. Teh Kira pulang. Ia melihat Felicia dan Thivi di luar dan memanggil, "Hei, kalian berdua kenapa berdiri di situ? Masuk saja."

Thivi tertawa. "Kami menunggu Kaivan. Dia bilang mau bicara dulu dengan ibunya."

Felicia mengangguk pelan. "Kami tidak ingin mengganggu."

Kira menggeleng, terkekeh. Ia menarik mereka masuk dengan senyum nakal. "Aduh, sudah malam. Jangan berdiri di luar begitu."

Mereka masuk bersama, langkah ringan memenuhi ruang kecil itu. Ibu Kaivan bangkit, menyambut kedua gadis itu dengan senyum hangat.

Ruang tamu sederhana yang diterangi cahaya lembut itu berubah menjadi panggung kecil mereka. Malam yang awalnya damai perlahan bergeser, menjadi komedi ringan, mungkin sedikit drama, tapi juga sesuatu yang hangat, menunggu meresap dari balik kenyamanan rumah itu.

Percakapan pertama mengalir ringan. Ibu Kaivan menyajikan teh, pertanyaan sopan dan sapaan hangat memenuhi ruangan. Teh Kira merebahkan diri di sofa, tawanya mudah pecah.

"Kaivan, serius? Kamu biarkan mereka menunggu di luar? Harusnya kamu langsung suruh mereka masuk, dong," godanya sambil tertawa.

Tawa menyebar di ruangan, meski Kaivan hanya tersenyum kaku. Felicia dan Thivi saling bertukar pandang singkat, senyum lembut mereka menyembunyikan kecanggungan yang mulai merayap.

More Chapters