Ficool

Chapter 47 - Diam Adalah Jawaban Paling Aman

Kaivan hanya tersenyum, seperti biasanya. Ia tak pernah membutuhkan pengakuan, hanya kebenaran sunyi bahwa ia ada di sana saat itu benar-benar dibutuhkan.

"Sejak saat itu, hidupku berubah. Ada hal-hal yang baru bisa kau lihat ketika kau pernah hampir kehilangan segalanya. Kadang, dari tragedi, lahir keajaiban."

Cahaya bulan menyapu wajah Thivi. Gadis yang biasanya bersinar ceria kini tampak lebih dalam, lebih rapuh, lebih manusiawi.

Ia mengembuskan napas perlahan. Tangannya yang sedikit gemetar kembali memutar botol itu. Tak ada yang bicara. Semua hanya menyaksikan tarian takdir. Botol itu melambat, berputar… lalu berhenti tepat di hadapan Felicia.

Felicia duduk tegak di bawah cahaya bulan yang redup. Tatapannya tenang, namun garis halus di dahinya menyimpan sesuatu yang lebih berat. Ia tahu—mata Thivi tidak hanya berisi rasa ingin tahu, tapi juga kecemburuan.

"Janji apa yang Kaivan berikan padamu?" Suara Thivi lembut, namun sarat ketegangan. Atap gedung itu seakan berubah, bukan lagi tempat kehangatan, melainkan ruang sidang sunyi. Semua mata menunggu jawaban yang bisa mengguncang ikatan di antara mereka.

Felicia perlahan menoleh pada Kaivan, menarik napas pelan. "Hari itu, di mall lama," bisiknya, suaranya lembut namun menusuk. "Kaivan bilang: 'Aku akan terus melindungimu, dari apa pun yang tak bisa kau lawan. Sebagai gantinya, lindungi aku dari setiap ancaman yang datang karena dirimu.'"

Ia mengangkat pandangannya ke langit. Senyum kecil terbentuk di bibirnya, meski tak sepenuhnya mampu menyembunyikan luka yang belum pulih. "Bagiku, itu bukan sekadar janji perlindungan… itu adalah ikatan. Bukan karena aku lemah, tapi karena kami berjanji untuk saling melindungi." Kata-katanya jatuh seperti hujan pertama musim ini, lembut, namun bergetar oleh kekuatan yang dalam.

Keheningan kembali turun. Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang sarat makna. Kaivan menundukkan kepala. Kata-kata menekan di tenggorokannya, tapi ia tahu—bahkan satu kata saja bisa mengurai segalanya. Tatapan Felicia terlalu jujur, terlalu dalam. Maka ia memilih diam. Menyakitkan, tapi lebih aman.

Ketegangan menyebar perlahan. Tak ada tawa, tak ada bisik-bisik. Hanya napas yang tertahan dan detak jantung yang saling bersahutan. Felicia menundukkan pandangannya ke botol dan memutarnya sekali lagi, memaksa waktu bergerak maju, menyembunyikan kebenarannya dalam putaran itu.

Di bawah langit malam bertabur bintang, botol itu berputar melintasi meja, memantulkan cahaya pucat bulan. Saat berhenti, ujungnya menunjuk Kaivan. Atap itu membeku; tawa mereka menghilang, berubah menjadi keheningan rapuh.

Felicia memecah kesunyian. "Kaivan, buku yang selalu kamu bawa itu… apa sebenarnya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Buku bersampul kayu itu, yang selalu digenggam erat seolah bagian dari dirinya, kini menjadi pusat perhatian semua orang.

Kaivan tersenyum tipis. Ia tahu saatnya telah tiba. Dengan tenang, ia mengangkat buku itu dan meletakkannya di tengah lingkaran. "Penasaran? Lihat saja."

Zinnia yang pertama menyentuhnya, membuka halaman pertama. "Kosong…"

Radit cepat merapat. "Serius? Aku tadi memotretnya, dan di foto itu ada tulisan dan gambar! Tapi begitu aku lihat langsung, semuanya hilang."

Kaivan hanya mengamati, diam namun tajam. Saat Felicia hendak menyentuhnya, ia menahan tangannya dengan lembut. "Jangan. Bisa bikin kamu pusing."

Felicia menarik tangannya. "Kenapa? Sebenarnya buku ini apa?"

Kaivan menarik napas. "Namanya Tome Omnicent. Bukan buku biasa. Buku ini hanya menampilkan informasi pada pemiliknya. Bukan cuma apa yang kamu inginkan, tapi apa yang benar-benar kamu butuhkan."

Keheningan menyebar. Angin malam menyelinap lewat, seolah ikut mendengarkan.

"Aku mendapatkannya dari seorang wanita tua. Aku menolongnya, dan dia bilang suaminya adalah pemilik sebelumnya. Buku ini hanya berpindah ke tangan orang yang dianggap layak."

Frans mengangkat alis. "Jadi… kamu dipilih? Seperti takdir?"

"Mungkin. Tapi halaman-halamannya tidak datang gratis. Setiap informasi punya harga. Kadang aku harus melakukan sesuatu yang bahkan tidak aku pahami saat itu."

Suasana makin menebal. Di bawah cahaya bulan yang pucat, buku itu tampak hidup, bukan hanya membisikkan masa lalu, tapi juga memberi petunjuk tentang masa depan mereka.

Frans membungkuk, mencoba meraihnya. "Jadi, kamu bisa tahu apa saja dari buku itu? Bahkan masa depan?"

Kaivan menggeleng. "Tidak seperti itu. Ini bukan soal mengetahui, tapi soal mengikuti. Buku ini memberi arah dan perintah. Tanpanya, aku tidak akan ada di sini. Kita tidak akan pernah bertemu."

Hening. Bahkan riuh malam kota terasa jauh. Bintang-bintang seakan membeku di langit. Angin yang menyentuh kulit mereka hanya membuat dingin di dalam dada semakin terasa.

More Chapters