Ficool

Chapter 45 - Malam Tanpa Hari Esok

Malam Sabtu itu, Kaivan menyiapkan perayaan mereka. Ludwig Café, dengan pemandangan langit kota yang terbentang luas, menjadi panggung yang sempurna. Biasanya sunyi di bawah taburan bintang, rooftop itu malam ini berubah hidup, dipenuhi tawa, obrolan hangat, dan dengung rasa syukur.

Dari ketinggian, lampu-lampu kota berkilau seperti lautan permata, seakan memantulkan kemenangan kecil mereka. Angin malam membawa aroma makanan dan getaran kegembiraan yang tak terucap, merajut suasana yang intim sekaligus nyaris magis. Detik-detik itu terasa seperti kenangan yang sedang lahir.

Biasanya, yang hadir hanya Kaivan, Radit, Frans, dan Zinnia. Namun malam ini berbeda. Dua wajah baru ikut duduk bersama mereka, Thivi dengan keceriaannya yang terang, dan Felicia dengan misteri yang tenang. Kehadiran mereka bukan sekadar menambah jumlah, tetapi mengubah irama. Perayaan itu tak lagi soal emas atau angka, melainkan tentang rasa memiliki. Tentang menjadi satu.

Hidangan menggoda memenuhi meja, minuman berkilau di bawah cahaya lembut. Percakapan melompat dari candaan ke mimpi, dari rencana ke pengakuan kecil yang tak pernah terucap. Tawa mengikat mereka erat, seperti janji diam bahwa tak satu pun akan berjalan sendirian lagi.

Di tengah keriuhan, perhatian tanpa sadar tertuju pada Felicia. Ia duduk santai di pangkuan Kaivan, menyuapinya dengan gerakan yang terasa alami, seolah sudah menjadi kebiasaan. Kaivan menerimanya tanpa ragu, seakan kedekatan itu tak perlu penjelasan.

Dari kursi lain, Tira yang duduk di samping Frans memperhatikan dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Siapa dia? Yang duduk di pangkuannya itu, sambil menyuapi," bisiknya.

Frans tersenyum, ada nada bangga dalam suaranya. "Itu Felicia. Dan yang itu Kaivan, sahabat paling setiaku. Dia ada bahkan saat aku memberanikan diri mengaku padamu."

Tira mengernyit pelan. "Mereka pacaran? Di depan umum begitu, apa tidak berlebihan?"

Frans mengangkat bahu ringan. "Tidak. Mereka tidak pacaran. Tapi Felicia memang selalu begitu, menjaga Kaivan seperti dia miliknya. Aku juga tidak tahu kenapa."

Tira mengangguk perlahan, meski rasa penasarannya belum sepenuhnya reda. Di seberang meja, Zinnia sempat menangkap potongan percakapan itu, namun hanya membalasnya dengan senyum tipis, memilih diam daripada menghakimi.

Di atas mereka, langit malam menaburkan bintang ke seluruh kota, seolah memberkati momen itu. Tak seorang pun memikirkan hari esok. Mereka hidup sepenuhnya di detik yang berlalu, membiarkan senyum dan tawa menghangatkan atap gedung itu.

Setelah mengantar Tira pulang, Frans kembali ke Ludwig. Jalanan lengang, lampu jalan menyala temaram, langkahnya pelan sambil mengulang malam itu di benaknya. Saat ia tiba, yang lain masih berkumpul, bercanda di bawah cahaya lembut.

Tiba-tiba Radit mengangkat sebotol minuman, senyumnya berubah usil.

"Bagaimana kalau kita main Truth atau Truth? Kalau ada Dare, orang bisa kabur dari pertanyaan penting. Tidak seru."

Lingkaran pun terbentuk. Kaivan, Zinnia, Thivi, Frans, dan Radit duduk mengelilingi meja. Felicia tetap dekat Kaivan, tersenyum samar, memilih menjadi pengamat. Botol itu diputar perlahan oleh tangan Radit, menandai awal permainan yang akan mengupas rahasia di balik tawa dan cahaya malam.

Botol berputar, gesekannya lembut namun cukup menegangkan keheningan. Seolah waktu ikut menahan napas, semua mata terpaku padanya. Hingga akhirnya ia melambat dan berhenti, menunjuk tepat ke arah Zinnia.

Zinnia menegakkan punggungnya, senyum tipis menyentuh bibirnya, meski ada sesuatu yang tersembunyi di matanya. Radit menyeringai, memanfaatkan momen itu.

"Zinnia, apa yang membuatmu selalu seteguh itu? Pernah terjadi sesuatu?"

Sunyi. Zinnia menunduk sedikit, pandangannya menyapu wajah-wajah di sekelilingnya. Malam yang tadi penuh tawa perlahan menjadi hening.

"Hidupku dulu biasa saja," katanya pelan namun mantap. "Sekolah, nongkrong. Tapi perlahan, pria-pria yang kupercaya selalu mengecewakanku. Setiap hubungan berakhir dengan luka. Bahkan setelah kakakku menikah, aku melihat hal yang sama pada iparku. Sejak itu, rasa takut mulai tumbuh. Bahkan dengan kalian, aku butuh jarak. Setidaknya seratus dua puluh sentimeter hanya untuk berbicara."

Suaranya tenang, namun tiap kalimat menusuk dalam, membuka lapisan luka yang lama tersembunyi.

"Ayahku meninggal saat aku masih kecil," lanjutnya. "Jadi aku tidak pernah punya sosok pria untuk dijadikan panutan. Lama-kelamaan, pria menjadi sesuatu yang terasa seperti ancaman yang tak pernah tidur."

Atap itu membeku. Tak ada candaan, tak ada tawa. Hanya angin malam dan napas yang ditahan. Untuk sesaat, mereka merasa lebih dekat, bukan karena permainan, melainkan karena kebenaran yang akhirnya terucap. Luka Zinnia menyentuh mereka semua, mengikat hati dalam keheningan bersama.

Radit, yang biasanya ringan, kini menatapnya dengan mata mantap. "Terima kasih, Zinnia," bisiknya tulus.

Tak ada yang menjawab dengan kata-kata. Hanya tatapan yang saling bertemu, memberi kekuatan dalam diam.

Botol diputar lagi. Ketegangan kembali tumbuh, seolah malam itu sendiri menahan napas. Banyak yang diam-diam berharap botol akan berhenti di Kaivan, agar misteri Tome Omnicent akhirnya terungkap. Namun takdir memilih lain. Ujung botol menunjuk Radit.

Senyum Zinnia tipis, tapi tatapannya tajam. "Apa hal terburuk yang pernah kamu lakukan?"

More Chapters