Ficool

Chapter 2 - Nama Tanpa Suara

Di tengah hiruk-pikuk sekolah yang biasanya bising, ruang kelas itu terasa seperti sebuah pulau terpencil. Dinding-dindingnya dipenuhi lembaran hasil ujian, deretan angka yang mencerminkan perjuangan sekaligus harapan tak terhitung banyaknya siswa.

Kaivan duduk membungkuk di bangkunya, mata gelap dan kosong menatap papan pengumuman tempat nama-nama peraih nilai tertinggi dipajang. Jantungnya berdegup kencang, sementara kedua tangannya yang mengepal menekan permukaan meja.

Di depan kelas, sang guru, pria paruh baya dengan suara berat dan berwibawa, mulai memanggil satu per satu nama siswa yang masuk dalam daftar peringkat atas.

"Rina Ananda."

Seorang gadis berkacamata bangkit perlahan dari bangku depan. Rambut hitamnya yang diikat rapi bergoyang lembut saat ia melangkah maju. Senyum malu-malu terukir di wajahnya, namun di balik itu, tersimpan cahaya kepercayaan diri yang jelas terlihat di matanya.

Kaivan menelan ludah. Setiap kali Rina tersenyum, sebersit iri menusuk dadanya… namun entah mengapa, perasaan itu bercampur dengan kehangatan yang tak mampu ia pahami. Setelah Rina menyelesaikan perkenalan singkatnya dan kembali ke tempat duduk, Kaivan menundukkan kepala, jemarinya saling memilin dengan gelisah. Detak jantungnya semakin tak beraturan.

Pemanggilan nama terus berlanjut, namun namanya tak pernah terdengar.

Tiba-tiba dunia terasa menjauh. Suara-suara di sekelilingnya menggema hampa, kehilangan makna. Ia duduk lunglai, seperti prajurit yang kalah perang. Air mata menggenang di sudut matanya, tetapi tak satu pun jatuh.

Di taman sekolah, ia melihat Rina tertawa bersama teman-temannya. Suaranya lembut, senyumnya bersinar. Kaivan hanya memandang dari kejauhan, bibirnya sedikit terbuka seolah ingin berbicara… namun tak ada suara yang keluar. Akhirnya, ia berpaling dan melangkah pergi.

Kembali ke mejanya, Kaivan duduk dengan pensil yang bergetar di tangannya, mencoretkan garis-garis tak bermakna di atas kertas. Buku catatannya terbuka di hadapannya, dipenuhi rumus dan catatan yang kini terasa seperti simbol asing.

"Bahkan untuk menjadi siswa yang baik saja… aku gagal?"

Kaivan menatap langit senja yang terbingkai oleh jendela kamarnya. Dalam keheningan itu, senyum Rina kembali muncul di benaknya. Bukan sekadar senyumnya yang menghangatkan hati, melainkan cara Rina membawa dirinya dengan penuh keyakinan, sesuatu yang terasa begitu jauh darinya.

"Kenapa aku tidak bisa seperti dia?" gumamnya dalam hati. Ia meraih laci meja, mengeluarkan sebuah buku harian yang sudah usang. Membuka halaman kosong, ia mulai menulis dengan tangan gemetar.

Di luar, matahari terbenam melukis dunia dengan semburat jingga, langit biru perlahan tenggelam dalam senja yang lembut. Namun bagi Kaivan, keindahan itu terasa hampa. Ia terus menatap ke luar jendela, hatinya semakin berat seiring malam yang kian larut.

Pada hari liburnya, Kaivan bertemu dengan teman-temannya di sebuah kafe kecil yang hangat dengan desain bernuansa vintage: Rina, Tania, dan Dandi. Udara dipenuhi aroma kopi segar dan kue-kue manis. Tania, seperti biasa, menyeruput kopinya sambil tersenyum lebar.

"Kaivan, kenapa sih kamu selalu memilih tempat makan yang biasa-biasa saja? Sekali-sekali ajak kami ke tempat yang mewah dong!" godanya.

Kaivan tertawa kecil, meski ada rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya. "Ya… yang penting kita bisa makan bersama, kan?" ujarnya sambil mengangkat gelas jusnya, setengah yakin.

"Itu benar! Yang penting kita bersama. Lagipula, kue di sini enak banget!" sahut Rina sambil menyenggol bahunya pelan, senyumnya yang cerah membuat jantung Kaivan berdebar.

"Ya, siapa peduli tempatnya. Selama makanannya enak, aku bahagia!" tambah Dandi, yang sudah memegang sendok seolah siap menyerbu hidangan penutup.

Tania meliriknya dengan senyum jahil. "Kalau soal makanan, Dandi memang selalu yang paling duluan!"

Mereka semua tertawa bersama.

"Eh, Rina," Kaivan tiba-tiba berkata, berusaha mencairkan suasana. "Kalau kamu jadi superhero, kekuatan apa yang ingin kamu miliki?"

Rina terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Hmm… aku ingin bisa terbang! Supaya bisa pergi ke mana saja tanpa batas, bebas seperti burung!"

Kaivan mengangguk pelan. "Keren. Jadi kamu bisa kabur dari masalah kapan pun kamu mau, ya?" candanya.

Rina terkikik. "Bukan kabur dari masalah. Aku bakal terbang terus buat liburan, langsung ke tempat-tempat mewah!"

Dandi yang duduk di sebelah Kaivan ikut menyela. "Kabur dari masalah? Kalau Kaivan sih, kekuatannya pasti lari super cepat, biar bisa lari dari semua masalahnya! Masalahmu banyak, Van!"

Tania menyeringai ke arah Kaivan. "Atau kekuatan memperlambat waktu, jadi kamu bisa menghilang cepat setiap kali malu, hahaha!"

Kaivan memaksakan senyum. "Mungkin," jawabnya singkat, berusaha menutupi perih di dadanya. Jauh di dalam hati, ia tahu candaan mereka tidak sepenuhnya sekadar candaan.

Malam itu, ketika mereka akhirnya berpisah, Kaivan berjalan pulang sendirian. Trotoar yang sepi menjadi satu-satunya teman, bayangan-bayangan memanjang mengikuti langkahnya. Tawa dan ejekan tadi masih terngiang di telinganya, kini berubah menjadi pengingat betapa seringnya ia dianggap tidak pernah cukup.

More Chapters