Ficool

Chapter 1 - Prolog

Sebelum ledakan cahaya—Big Bang—alam semesta hanyalah kehampaan mutlak. Aku ada di sana, bukan sebagai entitas, tetapi sebagai kehampaan itu sendiri. Selama jutaan tahun, aku berdiam dalam kegelapan tanpa batas. Lalu, sebuah titik cahaya muncul entah dari mana dan meledak dahsyat. Ledakan itu merenggut sebagian kekuatanku, melemparkan ku keluar dari kehampaan, dan untuk pertama kalinya aku memperoleh wujud: kegelapan pekat, yang kelak dikenal sebagai Superior Cosmic.

Wujud ini memunculkan pertanyaan yang tak pernah terpikir sebelumnya. Saat aku merenungi asal-usul ku, cahaya itu menyebar, menciptakan planet dan galaksi. Pengetahuan tentang nama-nama benda langit tiba-tiba mengalir dalam diriku.

Tiba-tiba, aku terdorong untuk mencari penciptaku—dorongan yang tak pernah muncul sebelumnya. Ketika cahaya itu mulai meredup, muncul satu sosok di pusat ledakan. Cahaya yang tersisa diserap olehnya, membentuk cahaya paling terang. Sosok itu mendekat cepat.

Dia muncul di hadapanku.

"Dia cepat," pikirku.

Aku tak berniat melawan, hanya menatapnya. Dalam pikiranku, jika aku menyerang, aku pasti kalah.

Lalu dia bicara.

"Aku adalah Existence. Aku di sini untuk memusnahkan mu, Nothingness."

Aku tak mengerti alasan dia ingin memusnahkan ku. Aku tidak pernah mengganggunya. Namun aku bisa merasakan aura bahaya yang sangat kuat darinya.

"Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi ketahuilah, aku akan melawan," jawabku tenang.

"Tak masalah. Tapi sadarilah, kau sekarang hanyalah anjing kecil," katanya sambil menunjuk sombong.

"Selamat tinggal, Nothingness," ucapnya sambil terkekeh dan menyalakan cahaya di ujung jarinya.

Aku mengangkat tanganku dan menjentikkan jari.

"Masuk dalam kegelapan," gumamku.

Seketika, lubang hitam muncul di depan wajah Existence, menyerap cahaya di sekitarnya.

"Apa ini?" gerutunya dengan nada marah.

"Kau menggunakan trik kecil? Memalukan," ejeknya.

Setelah sepuluh detik, lubang hitam itu menghilang.

"Hahaha... HA—" tawanya mengejek.

Aku hanya menyeringai.

"Bahkan kau tersenyum dengan kemampuan receh seperti itu?" katanya, meremehkan.

"Hey, kenapa aku dikirim ke sini hanya untuk menghadapi makhluk lemah ini? Kau mendengar ini, bukan?" teriaknya ke atas.

Dia tertawa, lupa akan tujuannya. Aku mengangkat tangan dan berbisik,

"Absolute Dark Hole."

"Hah? Kau mau apa—?"

Lubang hitam muncul di tengah tubuhnya dan mulai menyerap energinya.

"KAU... Apa yang kau lakukan?" teriaknya marah.

Aku tersenyum.

"Tadi, saat lubang hitam pertama muncul, aku menyusutkan nya dan membiarkannya menyerap energimu tanpa kau sadari."

"KAU…" gumamnya penuh benci.

Dengan kecepatan cahaya, Existence keluar dari lubang hitam dan menembakkan light beam raksasa ke arahku. Aku tak sempat menghindar. Tubuhku terbelah dua.

"Ugh… k-kau…" lirihku menahan sakit.

Existence, yang merasa menang, bersiap menembakkan cahaya lagi. Namun pandangannya teralihkan ke lubang hitam yang tak kunjung hilang.

"Jawab aku. Apa yang kau lakukan?" tanyanya serius.

"Kau bilang tahu segalanya. Tapi bahkan kau tak tahu kenapa lubang hitam itu tetap ada," ejek ku.

"Ini mustahil. Seharusnya lubang hitam itu menghilang dalam 10 detik…"

Tubuhku yang sudah hancur setengah mulai musnah. Aku tersenyum tipis. Dia menembakkan cahaya sekali lagi. Kali ini, hanya kepalaku yang tersisa sebelum akhirnya menghilang.

"Lihat dirimu… Menyedihkan. Kegelapan abadi? Hah. Kau hanya lalat bagiku. Selamat tinggal, saudaraku."

Aku tak berkata. Hanya menatap kosong. Kesal dengan reaksiku, ia menembakkan light beam terakhir. Tubuhku benar-benar musnah.

"Sudah kehilangan setengah kekuatannya pun tetap merepotkan… Tapi, apa yang harus kulakukan dengan lubang hitam itu?" pikirnya.

Lubang hitam itu tetap ada. Tidak bisa dihilangkan karena hanya pengguna aslinya yang bisa melakukannya. Ia menamakannya Absolute Dark Hole—lubang hitam abadi yang akan terus menyerap segalanya.

"Aku biarkan saja. Mungkin ini jadi pelengkap semesta," katanya.

Dan dengan begitu, Existence menjadi penguasa alam semesta tapi karena kehilangan sebagian kekuatannya, ia mulai bertransformasi menjadi bintang bernama siru yang bersinar terang bewarna biru...

Tanpa ada yang menyadari, milyaran tahun sudah berlalu. Alam semesta sudah jauh berbeda, sekarang dipenuhi galaxy-galaxy. Salah satunya Bimasakti, yang dimana galaxy tersebut terdapat planet bernama bumi. Disanalah sang kehampaan terlahir kembali sebagai manusia. Mampukah ia balas dendam?.....apa existence menyadari keberadaannya?...

kita akan tahu itu sebentar lagi....

More Chapters