Ficool

Chapter 1 - Prolog: Kesalahan dalam Desain Ketuhanan

Gelap. Dingin. Dan bau busuk yang sanggup membuat hidung manusia mana pun meleleh.

Itu adalah kesan pertama yang tertangkap oleh kesadaranku. Masalahnya, aku tidak lagi memiliki hidung. Atau paru-paru. Atau kulit yang bisa merasakan tekstur lembut kasur apartemenku di Tokyo. Sebaliknya, aku merasakan ribuan getaran halus yang merambat melalui sekumpulan rambut sensorik di sekujur tubuhku yang keras dan kaku.

Aku mencoba membuka mata. Tidak ada kelopak mata. Yang ada hanyalah pandangan majemuk yang terfragmentasi menjadi ribuan segi heksagonal, menangkap spektrum cahaya infra-merah yang tidak seharusnya bisa dilihat manusia.

Tunggu. Aku sudah mati, bukan?

Ingatan terakhirku adalah cahaya lampu truk yang menyilaukan saat aku baru saja keluar dari toko buku membawa volume terbaru sebuah novel isekai. Klise yang memuakkan. Aku, Adam, seorang analis data yang menghabiskan hidupnya meremehkan plot-plot malas para penulis fantasi, akhirnya menjadi korban dari lelucon kosmik yang sama.

Aku mencoba menggerakkan tanganku. Tidak, bukan tangan. Enam buah tungkai berduri yang berpijak pada permukaan batu yang lembap dan berlendir. Aku bisa merasakan antena di kepalaku bergoyang, menangkap partikel kimia di udara yang memberitahuku satu hal: Kematian ada di mana-mana.

[Pemberitahuan Sistem: Jiwa subjek 'Adam' telah berasimilasi dengan wadah baru.]

[Proses Reinkarnasi Selesai.]

[Ras: Labyrinth Roach (Kecoa Labirin)]

[Level: 1/10]

[Status: Kelaparan Terencana.]

"Hah..."

Aku ingin menghela napas, tapi yang keluar hanyalah bunyi gesekan kitin yang tajam. Kecoa? Benar-benar luar biasa. Dari semua makhluk di dunia fantasi—Naga, Phoenix, bahkan mungkin Slime yang punya potensi tak terbatas—aku berakhir sebagai hama yang paling dibenci dalam sejarah peradaban manusia.

Tapi tunggu. Labyrinth Roach?

Aku memutar pandanganku yang terfragmentasi. Aku berada di sebuah ceruk sempit di antara tulang belulang raksasa yang sudah membusuk. Di atas sana, langit-langit gua menjulang begitu tinggi hingga tak terlihat ujungnya, hanya menyisakan kegelapan yang pekat. Tekanan di tempat ini gila. Rasanya seolah-olah atmosfer itu sendiri mencoba meremukkan cangkang tipis di punggungku.

Ini bukan sekadar gua. Ini adalah distorsi ruang yang dipenuhi dengan konsentrasi magicule yang sangat tidak stabil. Jika ini adalah game, aku baru saja spawn di area level maksimal dengan perlengkapan pemula.

Krak.

Suara itu datang dari balik tumpukan tulang. Sesuatu yang besar sedang mengunyah. Sesuatu yang jauh lebih besar dariku.

Aku membeku. Secara naluriah, insting bertahan hidup yang tertanam dalam DNA baruku mengambil alih. Aku meratakan tubuhku ke tanah, mengandalkan warna karapas cokelat gelapku untuk menyatu dengan kotoran dan bayangan.

Sesosok makhluk muncul dari kegelapan. Itu terlihat seperti serigala, tapi memiliki tiga kepala dan sisik hitam yang memancarkan uap beracun. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

[Analisis Target: Lesser Hydra-Wolf (Rank S-)]

[Peringatan: Perbedaan kekuatan terlalu ekstrem. Peluang bertahan hidup dalam konfrontasi langsung: 0,000001%.]

Terima kasih, Sistem. Kau benar-benar membesarkan hatiku, pikirku sarkastik.

Si serigala itu tidak melihatku. Bagi makhluk sekaliber itu, aku hanyalah sebutir debu yang tidak layak untuk dikonsumsi. Dia terus berjalan, menyeret bangkai makhluk serupa naga yang setengah hancur. Namun, saat dia lewat, sepotong kecil daging busuk jatuh dari rahangnya, mendarat tepat tiga meter di depanku.

Perutku melilit. Rasa lapar ini bukan sekadar keinginan untuk makan; ini adalah perintah biologis yang menyakitkan. Jika aku tidak makan sekarang, aku akan mati dalam hitungan menit.

Baiklah. Jika hidup ingin aku menjadi kecoa, aku akan menjadi kecoa yang paling menjijikkan dan sulit dibunuh yang pernah ada.

Aku merangkak maju. Cepat. Efisien. Tanpa suara.

Setiap inci gerakan terasa seperti judi dengan nyawa. Aku mencapai potongan daging itu. Baunya seperti belerang dicampur dengan kotoran, tapi bagiku, itu adalah aroma steak Wagyu kelas atas. Aku menancapkan mandibulaku ke dalamnya dan mulai mengunyah.

[Anda telah mengonsumsi daging 'Ancient Earth Drake'.]

[Memperoleh sejumlah kecil Magicule.]

[Syarat terpenuhi. Memperoleh Skill: 'Scavenger's Stomach' Lv 1.]

[Syarat terpenuhi. Memperoleh Skill: 'Poison Resistance' Lv 1.]

[Level Naik: 1 -> 2]

Panas menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa sakit yang tajam menusuk sistem sarafku saat sel-sel di dalam tubuhku dipaksa untuk bermutasi dalam hitungan detik. Karapasku berdenyut, mengeras, dan sedikit menebal.

Sakit sekali, sialan.

Tapi aku tidak berhenti. Aku terus mengunyah. Di dunia ini, moralitas adalah kemewahan bagi mereka yang memiliki kekuatan. Bagiku? Aku hanya butuh kalori untuk berevolusi.

Tiba-tiba, getaran hebat merambat melalui antena-ku. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada serigala tadi sedang mendekat dari arah berlawanan. Itu bukan sekadar monster. Itu adalah sesuatu yang mengeluarkan aura kejahatan yang begitu pekat hingga cahaya di sekitarnya tampak terserap.

Aku segera menarik diri kembali ke celah tulang, tapi terlambat.

Sebuah mata merah raksasa terbuka di kegelapan, tepat di atas tempatku berada. Itu bukan mata monster biasa. Itu adalah mata yang mengandung kecerdasan purba yang dingin.

[Peringatan Darurat: Entitas 'Watcher of the Abyss' mendeteksi keberadaan Anda.]

[Status: Terkunci.]

"Sial," desisku dalam hati. "Baru lima menit bereinkarnasi dan aku sudah memicu boss terakhir?"

Sistem berdenting di kepalaku, kali ini dengan nada yang lebih dingin, lebih mekanis.

[Memicu Unique Quest: 'The Bug in the System'.]

[Tujuan: Bertahan hidup dari tatapan Dewa selama 60 detik.]

[Hadiah: Jalur Evolusi Terlarang.]

[Kegagalan: Penghapusan Eksistensi Total.]

Aku tidak lari. Lari adalah tindakan sia-sia di depan predator yang mengendalikan ruang. Aku diam. Aku mematikan semua fungsi tubuh yang tidak perlu. Aku menurunkan detak jantungku hingga hampir nol. Aku menjadi batu. Aku menjadi bayangan. Aku menjadi ketiadaan.

Ayo, lihat aku jika kau bisa, kau brengsek di atas sana. Aku adalah kecoa. Dan kecoa tidak mati semudah itu.

Detik demi detik berlalu seperti keabadian. Cahaya merah itu menyapu area tersebut, mencari anomali kecil yang berani bergerak di wilayah kekuasaannya. Aku bisa merasakan sistem sarafku mulai terbakar karena tekanan magicule yang dipancarkan makhluk itu. Cangkangku mulai retak. Cairan tubuhku mulai mendidih.

5... 4... 3... 2... 1...

[Quest Berhasil.]

[Anda telah menipu 'Sistem Dunia' dengan menyembunyikan eksistensi Anda dari pengawasan Dewa.]

[Memperoleh Skill Unik: 'Abyssal Camouflage'.]

[Memperoleh Skill: 'Thought Acceleration'.]

[Kondisi Evolusi Tersembunyi Tercapai.]

[Individu 'Adam' siap untuk melakukan Evolusi Pertama.]

[Memulai Evolusi: Labyrinth Roach -> ???]

Kegelapan yang lebih pekat menyelimutiku, dan untuk kedua kalinya dalam satu jam, kesadaranku memudar—kali ini dengan seringai yang, jika aku punya bibir, pasti akan terlihat sangat jahat.

Permainan dimulai, kalian para Dewa sombong.

More Chapters