Ficool

Chapter 2 - Prolog

Dinginnya dinding logam stasiun luar angkasa NASA sudah menjadi kawan lama bagi Shenyue. Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, bahunya yang ramping tampak kontras di antara kerumunan unit elit Eraser yang sedang bersantai di dek observasi.

Shenyue hanya duduk terdiam, jemarinya sibuk mengelap belati sementara matanya yang tenang menatap kosong ke arah sebuah bola debu merah yang mereka panggil Bumi, ia memperhatikannya di balik kaca tebal.

"Lihat si anak ajaib ini," sebuah suara berat yang terdengar mekanis bergema di ruangan itu. Seorang Humanoid bertubuh besar dengan lengan sibernetika berwarna krom mengkilap menghampiri Shenyue. "Masih bernapas dengan paru-paru daging, ya? Aku heran bagaimana kasta rendahan sepertimu bisa masuk ke daftar unit Eraser, Bocah."

Shenyue tidak bergeming. Ia tidak membalas ejekan itu, hanya tarikan napasnya yang teratur yang menandakan bahwa ia mendengarkan. Baginya, kebisingan dari mesin-mesin yang terpasang di tubuh rekan-rekan setimnya jauh lebih berisik daripada kata-kata mereka.

"Biarkan dia, Jax," sahut seorang Humanoid perempuan yang sedang mengalibrasi sensor optik di mata kirinya. "Dia satu-satunya dari mereka yang tidak gemetar saat melihat debu merah. Itu sudah cukup untuk membuatku tidak perlu menyeret mayatnya nanti di permukaan Bumi."

Jax mendengus, suara uap keluar dari katup di lehernya yang terbuat dari titanium. "Tetap saja, memasukkan anak kecil ke unit Eraser adalah penghinaan bagi sistem. Aku tidak mau misiku gagal hanya karena harus mengawasi kasta rendahan yang tidak punya protokol cadangan jika jantungnya berhenti."

Shenyue akhirnya mengangkat wajahnya sedikit. Ia menatap Jax, bukan dengan kemarahan, tapi dengan tatapan yang sangat datar. "Jika jantungku berhenti, itu artinya aku mati," suara Shenyue pelan namun jelas, memotong kebisingan statis dari perangkat komunikasi di ruangan itu.

"Kau tidak perlu mengawasiku. Awasi saja sensor optikmu yang sering bergeser itu."

Mendengar itu, Humanoid perempuan yang memanggil Jax tadi kini sedang mengalibrasi matanya dan terkekeh kecil. "Pft… skor satu untuk si Bocah, Jax. Dia benar, sistem pelacakanmu memang sudah usang."

"Diam kau, Lyra!" gertak Jax, meski ia tidak melanjutkan ejekannya pada Shenyue.

Ia malah mengambil sebuah tablet data logam dan membantingnya ke meja observasi. "Hei, Manusia Murni. Kudengar kau menghabiskan waktu di simulator selama sepuluh jam kemarin. Apa yang kau cari? Sensasi membunuh debu?"

Shenyue kembali menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan Bumi yang merah membara. "Aku hanya sedang membiasakan diri dengan gravitasi nyata," jawabnya singkat sambil terus mengelap belatinya.

"Sesuatu yang tubuh mekanik kalian tidak bisa rasakan dengan benar sebagai… Humanoid."

Suasana di dek observasi itu mendadak hening. Kata-kata Shenyue seolah mengingatkan mereka bahwa meski mereka lebih kuat secara fisik, ada sesuatu yang telah hilang ketika mereka menukar bagian tubuh mereka dengan baja. Tepat saat ketegangan itu mulai merayap, lampu di dek observasi berubah menjadi merah pekat dan sebuah alarm berdengung rendah, menandakan panggilan dari pusat komando NASA:

[Call to units, please face the Center. A new mission has arrived.]

Jax mendengus pelan, membuang muka dari tatapan datar Shenyue. "Hanya kebetulan alarm ini menyelamatkanmu, Bocah," gumamnya sambil memutar tubuh beratnya menuju pusat ruangan.

Lyra, yang sedari tadi sibuk dengan sensor optiknya, segera berdiri tegak. Langkah kakinya yang terbuat dari logam menghasilkan bunyi denting ritmis di atas lantai besi saat ia bergabung dengan barisan. Shenyue, sebagai satu-satunya Manusia Murni di sana, berdiri di posisi paling ujung, tampak kecil namun sangat tenang di antara para raksasa sibernetika.

Di tengah dek, sebuah proyektor holografik raksasa menyala dengan desisan listrik statis. Sinar biru pucat membelah keremangan lampu merah, memunculkan simbol NASA yang berputar pelan sebelum akhirnya tergantikan oleh wajah dingin seorang komandan yang dikenal sebagai Pusat.

"Unit Eraser," suara Pusat terdengar datar, tanpa emosi, seolah-olah kata-katanya juga telah didigitalisasi.

"Kalian telah dipilih untuk operasi pembersihan di Sektor 7, zona terdalam yang masih tertutup debu merah mematikan." Data koordinat mulai mengalir di sisi hologram, menampilkan peta permukaan Bumi yang hancur akibat anomali bio-elektronik abad ke-50.

"Target kalian bukan sekadar mesin pembunuh massal kali ini," lanjut Pusat. Mata digitalnya seolah tertuju langsung pada Shenyue.

"Ada sinyal biologis yang terdeteksi di bawah reruntuhan reaktor energi matahari. Kalian harus menyelamatkan Manusia Murni yang tersisa di sana sebelum anomali itu menghapus keberadaan mereka sepenuhnya."

Jax melirik Shenyue dengan sudut matanya, sebuah senyum miring muncul di wajah sibernetikanya. "Menyelamatkan kasta rendah di sarang monster? Ini akan menjadi misi yang sangat merepotkan!" Shenyue tetap diam, namun jemarinya yang menggenggam belati tampak sedikit mengencang.

"Jax… tidak baik kau mengejeknya… ingat, dia bisa saja dengan mudah menghancurkan salah satu bagian sistem tubuhmu kalau dia mau," ucap Pusat menatap Jax dan Shenyue.

"Tch… baiklah, saya mengerti… maaf," balas Jax.

"Setelah ini, kalian pergilah menuju Bumi dan rebut kembali peradaban kita, selama misi berlangsung… bukan berarti tidak ada misi tambahan saat kalian di Bumi." Setelah instruksi dari Pusat berakhir, suasana di dek observasi yang tadinya sunyi segera berubah menjadi kesibukan yang mekanis.

Unit Eraser bergerak serentak menuju hanggar persiapan, tempat di mana teknologi canggih dan raga manusia akan segera diluncurkan menuju neraka di permukaan Bumi. Suara langkah kaki logam yang berat bergema di lorong sempit menuju hanggar peluncuran, menenggelamkan langkah kaki ringan Shenyue yang hanya beralaskan sepatu bot standar.

Di kanan dan kirinya, para Humanoid mulai melakukan pemeriksaan sistem terakhir. Jax terlihat sedang memasang modul amunisi tambahan ke lengan sibernetikanya, sementara Lyra memasukkan serangkaian kode ke dalam pergelangan tangannya untuk mensinkronisasi penglihatan malamnya.

"Cek peralatan dan senjatamu, Bocah," Jax berseru tanpa menoleh, suaranya sedikit diredam oleh masker tempur yang mulai mengunci wajahnya. "Debu merah di Sektor 7 tidak akan memberimu kesempatan kedua untuk hidup jika kau melupakan salah satunya."

Shenyue tidak menjawab. Ia hanya menarik napas dalam-dalam, merasakan udara stasiun yang steril untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam kapsul peluncuran. Ia tidak perlu mengalibrasi sensor atau mengisi daya baterai; seluruh kekuatannya tersimpan di dalam aliran darahnya yang unik, yang siap berperang melawan virus dan anomali apa pun yang menunggunya di bawah sana.

More Chapters