Ficool

Chapter 7 - sifat , kedua akai

Gang buntu. Tembok batu tinggi.

Dua puluh prajurit mengepung satu bocah.

"Hahaha! Udah mentok ya? Menyerah aja, kami kasih kesempatan kedua buat hidup!"

Akai balik badan. Santai banget.

"Eh, serius nanya dong. Kalau gue nyerah sekarang, lo pada bakal ngampunin gue?"

Prajurit yang paling berisik jawab ketus sambil ngakak, "Gak mungkin lah! Pasti gila karena gak bisa kabur! Hahaha! Enak aja!"

Akai nyengir. Bukan senyum biasa, senyum iseng kayak badut.

"Oke, noted."

Kerambit keluar. Diputer tiga kali di jarinya. Kuda-kuda.

Prajurit belum siap, Akai sudah di depan muka mereka.

Sret! Sret! Sret! Empat detik, lima orang tumbang.

Sisanya langsung buyar. Ada yang pipis di celana, ada yang doa-doa, "Tuhan tolong!"

Bagi Akai ini mainan. Satu-satu tumbang. Sisa tiga orang.

Akai jalan pelan ke prajurit yang tadi paling keras ketawanya. Prajurit itu gemetar, jatuh duduk.

Akai jongkok, tatap matanya, puter lagi kerambitnya tiga kali.

"Eh, gue nanya lagi dong, pertanyaan yang sama." Nada suaranya pelan, tapi ngeselin kayak Joker, "Kalau gue nyerah, kalian kasih gue kesempatan kedua gak?"

Prajurit itu diam, bibirnya terkunci takut.

Akai ketawa kecil, "Diem berarti bingung ya? Yaudah gue kasih game aja."

Dia nunjuk dua temen prajurit itu yang masih hidup. "Tusuk temen lo, gue kasih lo lari. Gimana? Fair kan?"

Demi hidup, prajurit itu jadi gila. Dia menusuk temannya sendiri padahal temannya nangis, "Jangan, kawan! Kita sudah berjanji bakal bersama sampai tua ku mohon jangan,sambil tanpa bersalah perajurit pun membunuh temannya!"

Akai ngakak ngeliat itu.

"Nah kan. Gini lah jika ketakutan menguasai diri mu, lucu. Demi diri sendiri, temen pun dibunuh."

Jleb! Teman kedua dihabisin Akai juga. Tinggal satu.

"Oke, sesuai janji. Kau boleh lari."

Dengan tubuh yang gementar, sambil menahan rasa takut dan berdiri untuk berlari sekencang-kencangnya.

Akai angkat pistol apinya santai. Dor! Tewas di tengah jalan.

Akai bisikin punchline-nya sambil muter kerambit, "Gue kan cuma bilang lari. Gak bilang bakal hidup."

Dengan Kebiasaan lama nya , dia menulis di dinding batu pakai darah korbannya: Aku mencintaimu. Sambil menancap kan jantung korbannya.

Akai pergi tanpa noleh dan kegelapan seolah menelannya.

Beberapa menit kemudian Captain datang. Dan melihat tubuh mayat prajurit nya.

Melihat tersebut prajurit muda yang tidak terbiasa melihat darah dan tubuh yang sudah bernyawa sontak membuat nyat muntah hebat.

Captain dingin, "mengapa kau muntah?. Apakah kau mau nyusul mereka."

Sambil melihat prajurit dengan amarah.

Prajurit itu langsung menelan muntahannya.

Captain melihat tulisan darah itu, mukanya keras.

"Ini bukan orang biasa. Ini badut pembunuh."

Captain jongkok. Dia cek luka di leher korban. Bersih. Tidak ada perlawanan. Pedang mereka masih di sarung. Tidak ada yang sempat dicabut.

"Dia bunuh mereka sebelum mereka siap," gumam Captain.

Dia berdiri, tatap tulisan darah di dinding. Matanya menyipit.

"Bereskan tempat ini. Panggil semua prajurit. Cari wajah asing yang baru masuk kota kemarin. Kalau lari, bunuh di tempat."

More Chapters