Ficool

Chapter 185 - Bab 185: Lift Menuju Sarang Kurogane

Di dalam mobil hitam milik keluarga Kagehara, suasana mendadak sunyi.

Mesin berjalan halus, kota lewat di balik kaca—namun tiga gadis di kursi belakang seperti menahan napas bersama.

Beberapa detik berlalu… sampai akhirnya Ilysta menurunkan nada suaranya, memecah diam.

Ilysta:

"Kau membawa kami ke mana, Sumi?"

Natsumi menoleh, senyumnya tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang biasanya muncul saat ia sudah memutuskan sesuatu.

Natsumi:

"Kita akan menemui keluarga yang bermasalah dengan temanku."

Yuna langsung menyilangkan tangan, alisnya naik.

Yuna:

"Untuk apa?"

"Jangan bilang kau mau 'membereskan' keluarga itu saat ini?"

Natsumi:

"Tidak."

"Aku cuma mau mengecek pekerjaan yang mereka tawarkan… kepada orang tuaku beberapa minggu lalu."

Kali ini Ilysta benar-benar memandang Natsumi, seolah mencoba membaca sesuatu di balik matanya.

Ilysta:

"Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu."

"Dulu… maupun sekarang."

Natsumi malah tertawa kecil.

Natsumi:

"Makasih atas pujiannya."

Yuna menghela napas, menatap ke jendela lalu kembali menatap Natsumi.

Yuna:

"Itu bukan pujian, Sumi. Itu aneh."

"Dan kau memang aneh."

"Kami harap kau tidak menyeret kami lebih jauh ke masalah ini."

"Seperti di masa lalu."

Natsumi hanya tersenyum. Tidak membantah. Tidak setuju. Tidak menjelaskan.

Diamnya justru terasa seperti jawaban paling tegas.

Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah gedung menjulang—kaca dan baja memantulkan langit siang.

Supir Kagehara:

"Kita sudah tiba, Nona."

Natsumi turun duluan. Yuna dan Ilysta ikut turun, langkah mereka rapat—siaga, tapi menahan diri.

Mereka berjalan masuk ke lobi. Pegawai menyambut.

Pegawai (beastkin):

"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"

Natsumi:

"Saya ingin menemui direktur perusahaan keluarga Kurogane."

Pegawai itu menelan ludah.

Pegawai:

"Apakah Anda punya janji temu?"

Natsumi:

"Belum."

"Katakan pada mereka…"

"Natsumi Kagehara datang untuk melihat hasil kerja sama yang kalian tawarkan beberapa minggu lalu."

Begitu nama Kagehara keluar dari mulut seorang gadis SMA, ekspresi pegawai itu berubah total.

Ia seperti baru sadar bahwa satu jawaban salah saja bisa menghancurkan pekerjaannya.

Pegawai:

"Mohon… tunggu sebentar."

Natsumi mengangguk, lalu menambahkan tanpa senyum:

Natsumi:

"Cepat. Waktuku tidak banyak."

Pegawai itu buru-buru menelpon. Bicara singkat, berkali-kali berkata "iya" dengan gugup.

Lalu menutup telepon dan sikapnya langsung rapi—terlalu rapi.

Pegawai:

"Silakan ikut saya. Saya akan mengantar secara pribadi."

Natsumi melangkah duluan. Yuna dan Ilysta mengikuti.

Lift terbuka. Mereka masuk.

Angka-angka naik pelan.

Dan untuk beberapa detik… hanya ada suara denting lift, napas yang ditahan, dan bayangan rencana yang belum sepenuhnya diucapkan.

—Gerbang Kagehara

Di sisi lain kota, mobil keluarga Sakurai melaju melewati jalan panjang yang asing.

Dua jam perjalanan akhirnya berakhir di sebuah gerbang besar.

Empat penjaga berdiri di sana: dua elf dan dua beastkin.

Seragam mereka rapi. Tatapan mereka tenang—terlalu tenang untuk sebuah tempat biasa.

Ayah Mina turun dari mobil, menahan tegang di dada, lalu mendekati penjaga.

Di dalam mobil, Mina menatap keluar, jantungnya berdegup tidak nyaman.

Mina:

"Bu… ini bener tempatnya?"

Ibu Mina:

"Entah."

"Tapi kalau ayahmu membawa kita ke sini… pasti benar."

Mina menelan ludah, menatap gerbang itu—bahkan gerbangnya saja sudah terasa seperti dunia yang berbeda.

Di luar, suara Ayah Mina terdengar memohon.

Ayah Mina:

"Saya mohon… izinkan kami menemui keluarga Kagehara."

"Hanya sebentar. Ini menyangkut keselamatan keluarga kami."

Salah satu penjaga beastkin menjawab datar, tanpa emosi.

Penjaga Beastkin:

"Maaf. Tidak bisa."

"Tidak ada janji temu."

"Lagi pula kepala keluarga tidak berada di kediaman."

Mina menggertakkan gigi. Ia tidak tahan melihat ayahnya merendah seperti itu.

Mina (dalam hati):

Aku… tidak bisa membiarkan ayah terus memohon sendirian…

Ia membuka pintu dan turun.

Ibu Mina:

"Mina—!"

Terlambat. Mina sudah menghampiri ayahnya.

Mina:

"Ayah… ada apa?"

Ayah Mina (lirih):

"Kita tidak diizinkan…"

"Dan kepala keluarga mereka sedang tidak ada di rumah."

Mina menatap penjaga, lalu melangkah satu langkah maju.

Mina:

"Kumohon…"

"Biarkan kami bertemu dengan mereka."

"Kami benar-benar tidak punya tempat lain untuk meminta bantuan."

Penjaga itu tetap sama. Datar. Tidak goyah.

Mina merasakan panas di matanya—campuran marah, malu, dan putus asa.

Lalu—seorang penjaga elf yang sedari tadi diam menerima panggilan lewat earphone kecil. Ia menjawab "iya" beberapa kali.

Ia menutup sambungan, lalu berjalan mendekat.

Penjaga Elf:

"Kalian… keluarga Sakurai?"

Ayah Mina terkejut.

Ayah Mina:

"Benar."

Penjaga elf itu mengangguk.

Penjaga Elf:

"Kalian diizinkan masuk."

"Nyonya sudah menunggu."

Mina menahan napas—lalu menoleh cepat ke ayahnya.

Mina:

"Ayah… kita masih ada harapan…"

Ayah Mina mengangguk pelan. Mereka kembali ke mobil.

Gerbang besar itu terbuka perlahan.

Mobil melaju masuk melewati jalan panjang menuju kediaman yang luas, terlalu luas untuk mereka yang baru saja kehilangan rumah.

Di dalam mobil…

Mina:

"Kenapa tadi mereka bilang kepala keluarga tidak ada… tapi penjaga lain bilang 'nyonya' menunggu?"

Ayah Mina:

"Menurut informasi yang Ayah dapat…"

"yang memegang keputusan di keluarga itu bukan suami atau istri."

"Melainkan anak mereka."

Ibu Mina menatap keluar jendela, suaranya gemetar.

Ibu Mina:

"Rumah ini… terlalu besar…"

"Apa mereka benar-benar mau membantu kita…?"

Mina (dalam hati):

Kepala keluarganya… anak mereka…

Berarti keputusan ada di tangan "anak" itu…

Tolong… semoga dia mau mendengar…

Mobil berhenti di depan rumah besar. Pelayan elf menyambut dan meminta kunci mobil. Ayah Mina menyerahkan.

Pelayan Elf:

"Selamat datang."

"Silakan ikut saya. Tuan dan nyonya sudah menunggu."

Ayah Mina sempat ragu—takut ini hanya pintu menuju penghinaan baru.

Namun Ibu Mina menggenggam tangannya. Mina menggenggam tangan ayahnya dari sisi lain.

Mereka melangkah bersama.

Pintu besar terbuka. Mereka dibawa ke ruang tamu luas.

Mereka dipersilakan duduk.

Lalu dibiarkan menunggu.

Ruang tamu itu terlalu rapi, terlalu sunyi, sampai suara napas mereka sendiri terasa mengganggu.

Detik-detik terasa panjang.

Lalu terdengar langkah kaki mendekat.

Sebuah suara pria—dingin dan tegas—datang dari arah lain ruangan.

Suara Pria Misterius:

"Apa urusan kalian… sampai merasa berhak memaksa menemui kepala keluarga?"

More Chapters