Jauh dari dunia manusia, di suatu tempat di Elyndor
Ruangan itu luas, sunyi, dan nyaris tanpa cahaya—hanya nyala samar dari obor-obor hitam yang bergetar pelan, seolah api pun takut bernapas terlalu keras.
Di ujung ruangan, sebuah singgasana menjulang.
Di sana duduk seseorang—seorang gadis… atau lebih tepatnya, sosok yang terlihat seperti gadis.
Sang Master.
Langkah kaki terdengar dari pintu besar.
Lunaria masuk lebih dulu, menunduk dengan hormat. Di belakangnya, Kaien menyusul, sikapnya rapi namun matanya tajam.
Lunaria:
"Hormat, Master."
Sang Master mengangkat satu tangan, memberi isyarat cukup.
Sang Master:
"Bagaimana perkembangan gadis itu?"
"Apakah sesuai dengan yang aku mau?"
Lunaria mengangkat wajahnya sedikit—senyum tipis terukir, dingin dan puas.
Lunaria:
"Seperti yang Master prediksi."
"Dia… mengikuti semua yang saya katakan."
Sang Master menyandarkan dagu pada jemarinya.
Sang Master:
"Bagus, untuk perkembangan sudah sampai mana?"
Lunaria:
"Untuk saat ini dia sudah melewati tahap satu."
"Tanpa kendala karena kelebihan dari gadis itu cocok dengan yang Master mau."
"Dan… aku yakin dia bisa melewati semua tahap."
"Bahkan mungkin… melebihi ekspektasi Master."
Sang Master tersenyum kecil—bukan sekadar senyum bahagia, melainkan senyum orang yang melihat bidak catur bergerak tepat sesuai rencana.
Sang Master:
"Bagus."
"Lanjutkan."
"Tuan kita tidak suka menunggu."
Lunaria menunduk lagi.
Lunaria:
"Baik, Master."
"Aku akan jalankan sesuai ajaran Master."
Namun sebelum ia mundur, ia mengingat sesuatu.
Lunaria:
"Master… satu hal lagi."
"Bagaimana dengan hewan peliharaan milik gadis itu."
"Apa yang harus saya lakukan."
Sang Master terdiam. Heningnya menekan.
Sang Master:
"Bawa kemari."
Kaien melangkah maju, tangannya menggenggam tubuh kecil berbulu yang meronta.
Sora.
Makhluk kecil itu berusaha menggeliat, kukunya mencakar udara—tapi genggaman Kaien tidak memberi ruang.
Sora:
"Kyuu—! Kyuu!"
Suara itu menggema di ruangan kosong.
Kaien mengangkat Sora hingga sejajar pandangan singgasana.
Sang Master menatap. Lama.
Lalu suara Master turun, pelan namun menusuk.
Sang Master:
"Hewan ini…"
"mengingatkanku pada masa lalu."
"Mungkin patut dicoba."
Lunaria menyipit. Kaien menahan napas.
Sang Master mengangkat tangan. Di telapak itu, energi anomali berputar seperti asap gelap yang hidup—membentuk pola halus yang membuat udara di sekitarnya seolah retak.
Sora meronta lebih keras.
Sora:
"Kyuu! Kyuu—!"
Energi itu bergerak mendekat.
Dan saat ujungnya hampir menyentuh bulu Sora—udara ruangan berdesis. Sebuah getaran halus menyapu lantai, seperti angin yang mendadak tersesat masuk ke tempat yang tidak seharusnya.
Sang Master berhenti setengah detik.
Cukup untuk memperlihatkan bahwa… ada sesuatu yang tidak sepenuhnya ia perhitungkan.
Namun ia tetap melanjutkan.
Energi menyentuh Sora.
Sora menegang, lalu mengeluarkan suara yang lebih kecil—seperti suara ketakutan yang dipaksa ditahan.
Sora:
"…kyuu…"
Sang Master menatap semakin dalam.
Sang Master (lirih):
"Menarik… makhluk ini memiliki ikatan yang kuat terhadap sesuatu."
"Tapi untung saja kau masih belum mampu melawanku."
Lunaria melangkah setengah langkah, rautnya waspada.
Lunaria:
"Master… apa yang terjadi?"
Sang Master tidak menjawab langsung. Tangannya tetap terangkat, energi tetap menempel pada Sora.
Sang Master:
"Kunci dia."
"Sepertinya bukan hanya gadis itu saja yang dapat dimanfaatkan."
"Makhluk ini mungkin tidak kecil seperti kelihatannya."
"Ikatan seperti ini… bisa diperas jadi senjata."
Kaien menelan ludah—ia jelas tidak nyaman, tapi tidak berani bersuara.
Sang Master menarik energinya perlahan.
Sora tersengal kecil, masih gemetar.
Sang Master:
"Lunaria."
"Mulai tahap berikutnya."
"Dan pastikan gadis itu tetap patuh."
"Kalau perlu… ancam dia bagaimanapun caranya demi rencana Tuan kita."
Lunaria menunduk dalam.
Lunaria:
"Baik, Master."
Sang Master menatap Sora sekali lagi.
Sang Master (dingin):
"Dan hewan ini…"
"kita simpan."
"Karena dia akan berguna bersamaan dengan gadis itu di kemudian hari."
Sora mengeluarkan suara lemah, seolah memanggil sesuatu yang jauh.
Sora:
"…kyu…"
Sang Master tersenyum tipis.
Sang Master:
"Tunggulah."
"Rencana Tuan kita… tak lama lagi akan terlaksana."
—Pagi yang Terlewatkan Kael
Di bawah singgasana itu, rencana bergerak pelan—seperti ular di dalam gelap.
Dan jauh dari sana… pagi datang seperti biasa.
Kanna Fenwald sudah berdiri di sofa ruang tamu—dengan tangan di pinggang dan wajah yang jelas tak bisa dibantah.
Kanna:
"Kakek Kael! Bangun!"
"Antar aku sekolah!"
Di sofa terbaring tubuh seorang pria, Kael Vharos membuka mata pelan. Biasanya ia akan mengomel… biasanya ia akan berdebat… biasanya ia akan mencari alasan.
Tapi kali ini—
Kael hanya menarik napas, duduk, lalu berdiri.
Tanpa satu pun komentar.
Kanna (dalam hati):
Ada apa dengan kakek Kael…?
Kok dia hanya diam saja dan menurut begitu saja?
Jangan-jangan dia sedang menyusun jebakan untukku…
Tapikan kemarin kakek bilang tidak mempermasalahkannya.
Kael langsung masuk kamar mandi tanpa bicara.
Kanna menatap pintu kamar mandi lama, lalu mengangkat bahu kecilnya.
Kanna (dalam hati):
Ya sudahlah. Kalau kakek masih marah dengan sikapku kemarin.
Mungkin memang aku yang keterlaluan.
Sepuluh menit kemudian, Kael keluar—rapi, bersih, dan… masih terlihat seperti pikirannya berada di tempat lain.
Ia melewati Kanna, berjalan lurus menuju pintu depan.
Kanna makin heran.
Ia buru-buru menyusul, sempat melongok ke dapur dan mengangkat suara.
Kanna:
"Kak Nyra! Ka Garm! Kanna berangkat ya!"
Dari meja makan, Nyra dan Garm menoleh.
Nyra:
"Hati-hati, Kanna."
Garm:
"Jangan bikin masalah lagi."
Kanna nyengir, lalu keluar.
Di Jalan Menuju Sekolah
Sepanjang jalan, Kael diam. Matanya menatap lurus ke depan.
Kael (dalam hati):
Shiori…
Pertama gang buntu…
Lalu minuman itu…
Sungguh penuh misteri dari dirinya…
Dan kalau benar itu minuman yang kukenal, bagaimana caranya dia mendapatkannya?
Dan siapa dia sebenarnya…?
Kanna memanggilnya beberapa kali.
Kanna:
"Kakek Kael."
"Kakek."
"Kakek Kael!"
Tidak ada respons.
Akhirnya Kanna mendekatkan wajahnya ke samping telinga Kael, lalu—dengan napas dalam—teriak dekat telinga Kael.
Kanna:
"KAKEK KAEEL!!"
Kael tersentak.
Kael:
"—Hah?!"
"Ada apa?!"
"Sampai kau teriak di kupingku?!"
Kanna (kesal):
"Aku panggil dari tadi, kakek nggak jawab!"
"Kakek ngelamun, apa sih!"
Kael mengusap belakang lehernya.
Kael:
"…Maaf."
"Pikiranku lagi berantakan."
Kanna menyipit curiga, tapi Kael cepat menambah.
Kael:
"Sebagai gantinya… sore nanti aku buatkan puding spesial."
Mata Kanna langsung berbinar.
Kanna:
"Beneran?!"
"Janji?!"
Kael mengangguk pelan.
Kael:
"Janji."
Di Gerbang Sekolah
Kanna berlari untuk menghampiri dua temannya—elf dan beastkin.
Dengan langkah yang ceria diimbangi dengan senyum bahagia akan sesuatu.
Teman Beastkin:
"Kanna, kenapa kamu sepertinya sangat senang?"
"Apa ada hal baik pada dirimu hari ini?"
Kanna:
"Iya, karena kakekku berjanji sore nanti akan membuatkan puding spesial untukku."
Kedua teman nya saling bertatapan karena heran Kanna terlihat sangat senang hanya karena sebuah puding di sore hari.
Teman Elf:
"Kenapa hanya untuk sebuah puding kau jadi seperti itu Kanna?"
Teman Beastkin:
"Benar bukannya itu sama saja dengan puding yang ada di dekat sekolah kita?"
Kanna:
"Itu puding kakek Kael!"
"Beda!"
Kael masih mendengar itu dari kejauhan.
Kael (dalam hati):
Gadis ini dia membanggakan diri hanya karena puding dariku?
Biarlah, aku anggap itu permintaan maaf karena mengabaikannya tadi.
Sekarang tujuanku saat ini adalah mencari jawaban.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu berbalik.
Tujuannya jelas: Guild Pedagang.
—Guild Pedagang dan Waktu yang Tidak Sejalan
Setelah perjalanan dua puluh menit akhirnya Kael sampai di gedung yang pernah ia datangi.
Guild Pedagang masih ramai dengan berbagai ras yang keluar masuk dari sana.
Kael masuk ke gedung guild. Ramai seperti biasa.
Matanya langsung menyapu ke arah meja resepsionis yang ia kenal.
Namun meja itu… kosong.
Ia melihat ke meja lain yang sudah ia kenal.
Meja Misa yang terlihat lebih ramai, jadi Kael menunggu.
Setelah beberapa saat, akhirnya gilirannya tiba.
Misa:
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
Kael langsung to the point.
Kael:
"Aku mau bertemu pegawai elf yang kemarin."
"Shiori. Dia ada?"
"Kenapa mejanya kosong lagi?"
Misa terdiam sejenak, karena lelah harus menjelaskan kembali.
Misa:
"Seperti yang sudah saya infokan kemarin."
"…Soal privasi pegawai—"
Kael (memotong, cepat):
"Aku cuma mau bicara. Penting."
Misa memandang Kael beberapa detik—lalu menurunkan suara, seakan memberi "pengecualian" dengan risiko kecil.
Misa:
"…Baik."
"akan kuberi tahu sedikit."
"Shiori belum datang."
"Karena dia punya hak istimewa jam kerja."
"Dan biasanya… dia datang setelah jam makan siang."
Kael menghela napas pelan.
Kael:
"Kalau begitu, di mana dia tinggal?"
Misa langsung mengangkat satu tangan menolak, bahkan sebelum Kael selesai.
Misa:
"Tidak."
"Itu sudah melebihi apa yang bisa aku beritahu."
"Kalau aku jawab, Shiori benar-benar akan marah padaku."
Kael mendecak pelan, tapi menahan diri.
Kael:
"…Baiklah."
"Nanti aku traktir kau sebagai ucapan terima kasih."
Misa (senyum nakal):
"Deal."
Kael keluar dari guild—namun tujuan belum tercapai.
Ia berjalan pelan menuju pusat kota, melewati toko kecil yang dulu membantunya paham soal mata uang. Ia mampir sebentar, berbincang lama tanpa sadar.
Waktu berlalu.
Saat ia akhirnya sampai ke pusat kota, suara air mancur menyambutnya seperti nyanyian yang menenangkan.
Kael duduk di bangku yang sama seperti kemarin—menghadap air mancur, menghadap langit.
Kael (dalam hati):
Shiori…
Minuman itu…
Aku cuma mengenal satu orang yang bisa membuat rasa seperti itu.
Zeraphine…
apa mungkin itu kau?
Kalau iya… kenapa kau pura-pura tidak mengenaliku?
Kelopak matanya berat.
Ia kalah oleh lelah yang menumpuk dari pertanyaan yang tidak punya jawaban.
Dan tanpa ia sadari—
Kael terlelap, sendirian, di tengah ramainya Kota Veyra…
sementara di tempat lain, "tahap berikutnya" sudah mulai bergerak.
