Ficool

Chapter 141 - Bab 141: “Aura Dingin” — Sisi Mina

Semalaman, ucapan Mina di kelas tidak keluar dari kepala Natsumi.

Bukan karena ia iba—melainkan karena ada sesuatu yang tidak cocok antara rumor yang ia dengar… dan wajah gadis yang menjatuhkan cincin itu tanpa gemetar.

Natsumi (dalam hati):

Apa aku salah berkata seperti kemarin?

Keesokan harinya, Mina kembali datang ke SMA Shirokaze seperti biasa.

Namun kali ini… ada yang berbeda.

Biasanya Mina berjalan pelan, wajahnya lesu, suaranya lembut seperti orang yang takut mengganggu dunia.

Hari ini?

Langkahnya lebih tegas. Tatapannya dingin. Dan auranya seperti… seseorang yang sudah berhenti berharap pada simpati.

Para murid yang melihatnya di koridor saling melirik.

"Aneh…"

"Dia… terlihat beda…"

Mina tidak peduli.

Mina (dalam hati):

Gosip kemarin pasti sudah menyebar.

Tidak ada yang akan membelaku.

Dan aku sudah terlalu lelah untuk mengharapkan itu.

Ia masuk kelas, duduk, menatap papan tulis tanpa ekspresi.

—Kertas Kecil yang Terus Dilempar

Pelajaran dimulai.

Mina fokus menulis, mencoba menenggelamkan pikirannya dalam suara guru.

Lalu—

Tap.

Sebuah kertas kecil jatuh tepat di mejanya.

Mina menyingkirkannya tanpa melihat.

Beberapa menit kemudian…

Tap.

Kertas lagi.

Mina menghela napas, menahan diri.

Lalu kertas ketiga.

Kertas keempat.

Mina (dalam hati):

Tidak bisakah kalian tenang saat pelajaran.

Urat sabarnya putus perlahan.

Mina menoleh tajam.

Dan ia melihat siswi yang kemarin bertengkar dengannya—menatap Mina dari balik bangku, memberi isyarat halus: "Baca."

Mina menatapnya datar, lalu membuka kertas itu.

Tulisan singkat:

"Temui aku waktu istirahat. Halaman belakang sekolah."

Mina menatap kertas itu lama.

Mina (dalam hati):

Bagus. Perangkap baru.

Mereka pikir aku masih Mina yang akan diam dan hancur.

Ia melipat kertas itu, menyimpannya tanpa reaksi, lalu kembali menulis pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa.

—Istirahat— "Aku Datang untuk Minta Maaf"

Bel istirahat berbunyi.

Mina membereskan buku, mengeluarkan bekalnya, dan mulai makan di tempat.

Ia tidak bergerak ke halaman belakang.

Tidak ada niat.

Namun belum sempat sendoknya mencapai bibir, seseorang berdiri tepat di depan mejanya.

Itu siswi yang tadi melempar kertas.

Siswi itu menatap Mina, lalu bertanya dengan nada kesal:

Siswi:

"Kenapa kamu tidak datang?"

Mina mengangkat mata. Tatapannya dingin.

Mina:

"Untuk apa?"

"Aku tidak punya urusan denganmu."

Siswi itu menarik napas, seperti menahan emosi.

Lalu… ia melakukan sesuatu yang tidak Mina duga.

Ia membungkuk sedikit, formal.

Siswi:

"Natsumi Kagehara."

"Beastskin kucing."

"Sekarang setidaknya kita tidak bicara sebagai orang asing."

Mina mengernyit.

Nama itu terdengar seperti seseorang yang biasanya punya gengsi tinggi… tapi sekarang berdiri di depan Mina dengan nada rapi.

Mina:

"Dan?"

"Kalau mau mengulang provokasi kemarin, cari orang lain."

"Aku mau makan."

Natsumi mengepalkan tangan sebentar—menahan kesal karena Mina selalu menganggap semua orang berniat buruk.

Namun ia tetap duduk di kursi depan Mina, menatapnya tanpa senyum.

Natsumi:

"Aku datang untuk minta maaf."

"Dan… aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya."

Mina tidak bereaksi. Sendoknya tetap bergerak pelan.

Natsumi melanjutkan, suaranya lebih rendah:

Natsumi:

"Waktu kemarin kamu menjatuhkan cincin itu…"

"Aku lihat mata kamu."

"Itu bukan mata orang yang bangga menang berkelahi."

"Itu… mata orang yang sudah mengakui kesalahannya pada dirinya sendiri."

Mina berhenti mengunyah sebentar.

Tapi hanya sebentar.

Mina:

"Apa pun yang kamu lihat, tidak mengubah apa-apa."

"Aku tetap orang yang menyakiti Rei."

Natsumi mengangguk, jujur.

Natsumi:

"Benar."

"Aku juga tidak membenarkan itu."

Lalu ia menatap Mina lebih serius.

Natsumi:

"Tapi kalau ada alasan di balik semua itu… aku ingin tahu."

"Dan kalau kamu sungguh ingin minta maaf pada Rei…"

"aku mungkin bisa membantumu nanti."

Mina akhirnya mengangkat mata lagi.

Mina:

"Aku tidak butuh bantuan."

"Dan aku tidak butuh teman."

Natsumi terlihat ingin membantah, tapi menahan diri.

Natsumi:

"Aku tidak minta kamu percaya sekarang."

"Aku cuma minta kesempatan untuk membuktikan… aku tidak palsu."

Mina kembali makan.

Mina:

"Terserah. Lakukan semaumu."

Bel masuk berbunyi.

Natsumi berdiri.

Natsumi:

"Aku akan tetap bicara."

"Entah kamu suka atau tidak."

Lalu ia pergi kembali ke kursinya.

Mina menatap punggungnya sebentar… lalu menunduk lagi, seolah tidak tertarik.

Tapi di dalam hati Mina, ada satu hal yang mengganggu:

Mina (dalam hati):

Kenapa orang itu tiba-tiba berubah?

Atau… ini cuma bentuk kepalsuan yang lebih rapi?

—Pulang— "Kita Searah"

Sore hari, kelas selesai.

Mina memasukkan buku ke tas dan segera menuju gerbang, ingin pulang cepat.

Namun di gerbang, suara memanggil dari belakang.

Natsumi:

"Mina!"

Mina tidak berhenti. Ia berjalan.

Langkah Natsumi mengejar, lalu berjalan di sampingnya seperti sudah biasa.

Natsumi:

"Kita searah."

Mina:

"…Aku tidak minta ditemani."

Natsumi hanya terkekeh kecil, telinga kucingnya bergerak halus—tanda ia tidak takut.

Natsumi:

"Aku bukan nempel."

"Aku pulang lewat sini juga."

Sepanjang jalan, Natsumi "mengganggu" Mina dengan pertanyaan ringan.

"Apa hobi kamu?"

"Kamu suka makanan apa?"

"Kamu paling benci apa?"

"Kalau di rumah biasanya ngapain?"

Mina awalnya diam.

Namun lama-lama kesal.

Mina:

"Apa sebenarnya yang kamu mau?"

"Kemarin kamu provokator."

"Hari ini kamu tiba-tiba datang seperti ingin menyelamatkanku."

"Kamu pikir aku bodoh?"

Natsumi menatap Mina—dan kali ini jawabannya tidak main-main.

Natsumi:

"Aku memang membencimu kemarin."

"Karena aku juga pernah ditolong Rei."

Mina terdiam.

Natsumi melanjutkan:

Natsumi:

"Saat itu aku kesulitan mencari buku untuk persiapan ujian ke perpustakaan."

"Lalu Rei bantu memilihkan buku yang sedangku butuhkan."

"Dia tidak banyak bicara… tapi dia baik."

Natsumi menghela napas.

Natsumi:

"Makanya aku tidak bisa memaafkan kamu begitu saja."

"Tapi… setelah kejadian kemarin… dan melihat matamu."

"Aku merasa ada sesuatu yang tidak cocok dengan rumor."

Ia melirik Mina.

Natsumi:

"Rumor bilang kamu tidak punya hati."

"Tapi matamu tidak kosong, Mina."

"Matamu seperti orang yang setiap hari dihukum oleh kesalahannya sendiri."

Mina mengepalkan tangan.

Mina:

"Aku tidak butuh simpati."

"Aku tidak mau pertemanan palsu."

Natsumi mengangguk.

Natsumi:

"Makanya aku akan buktikan."

"Aku tidak palsu."

Mereka terus berjalan pulang bersama dalam udara sore yang berat—dua orang yang seharusnya saling benci… tapi dipaksa satu jalan oleh keadaan.

—Di waktu lain, jauh dari SMA Shirokaze—

Kota Veyra

Sementara itu, di Kota Veyra—di rumah sederhana keluarga Fenwald—

Nyra menutup pintu setelah Garm pergi.

Ia menuju dapur, mulai memasak untuk Kanna.

Suara pisau dan wajan terdengar menenangkan… tapi di balik gerakan tenang Nyra, ada benang halus yang mengikat pikirannya pada satu hal:

Garm.

Kanna duduk di kursi, menatap kakaknya yang memasak.

Kanna:

"Kak… Ka Garm pergi ke mana?"

"Kelihatannya tadi buru-buru."

Nyra tidak menoleh, tetap fokus pada masakan.

Nyra:

"Dia bilang ada urusan penting."

"Mau menemui temannya… di kedalaman Hutan Terlarang."

Kanna langsung tegang.

Kanna:

"Hutan Terlarang?"

"Kak… itu tempat penuh monster anomali…"

Nyra berhenti sebentar. Tangannya yang memegang spatula diam di udara.

Untuk sesaat… kekhawatiran yang ia tekan sejak tadi naik ke permukaan.

Nyra (dalam hati):

Benar… itu Hutan Terlarang…

Tapi… dia mencium keningku. Dia janji akan pulang…

Nyra menghela napas pelan, lalu kembali mengaduk masakan—lebih pelan dari sebelumnya.

Nyra:

"Dia kuat."

"Dan dia tidak pergi tanpa alasan."

Kanna tetap menatap kakaknya, cemas.

Kanna:

"Tapi Kak… kadang orang kuat pun bisa kalah… kalau salah tempat, salah waktu…"

Nyra tidak menjawab cepat.

Ia hanya berkata lebih lembut, seolah meyakinkan dirinya sendiri juga:

Nyra:

"…Aku percaya padanya."

Di luar rumah, angin Kota Veyra berhembus pelan.

Dan jauh di kedalaman Hutan Terlarang…

tak ada kabar yang kembali.

More Chapters