Ficool

Chapter 91 - BAB – SUARA “TERIMA KASIH” YANG PELAN

Pagi berikutnya, kelas masih setengah kosong seperti biasa.

Hina sudah duduk di tempatnya, membuka buku catatan, pensil sudah siap di tangan.

Tak lama, langkah santai Ravien terdengar memasuki kelas. Ia duduk di kursinya, menyandarkan punggung, lalu menoleh sedikit ke arah Hina.

Ravien : "Hina."

Hina menoleh cepat.

Hina : "Y-ya?"

Ravien menatap singkat, nada suaranya datar tapi ada sesuatu yang lebih lembut dari biasanya.

Ravien : "Ponselnya... Kau menyukainya?"

Hina langsung memeluk tas kecilnya erat-erat.

Hina : "Sangat suka… Terima kasih, Ravien…"

Jawabannya pelan, tapi jelas.

Ravien : "Syukurlah."

Tanpa menunggu apa-apa lagi, ia langsung menyilangkan tangan di meja dan kembali tidur seperti sudah menyelesaikan satu "misi."

Hina menatapnya beberapa detik, senyum kecil muncul di wajahnya sebelum ia kembali fokus ke buku.

Tak lama, teman-temannya mulai berdatangan, dan dering bel pertama pun terdengar. Pelajaran dimulai, guru masuk, murid-murid membuka buku.

Ravien… tetap dalam mode standar: tidur.

Waktu merayap sampai istirahat siang.

Bel berbunyi, kursi berderit, murid-murid langsung bergerak—ada yang ke kantin, ada yang ke taman, ada yang nongkrong di lorong.

Rei, Airi, Riku, dan Rika juga berdiri.

Airi : "Hina, ke kantin?"

Hina mengangkat sebuah kotak makan dari tasnya.

Hina : "Ah, aku nggak ke kantin. Aku bawa bekal."

Airi melihat sekilas… dan matanya menangkap sesuatu di dalam tas Hina.

Kotak makan kedua.

Airi menyipitkan mata.

Airi : "Hina~ itu yang di tas… kamu bawa dua bekal?

Satunya lagi untuk siapa?"

Hina sedikit tersentak, tangannya menutup tasnya refleks.

Hina : 

"Ah, i-ini… itu… buat aku juga…"

Rika mencondongkan badan, matanya menyipit jahil.

Rika : "Atau jangan-jangan… itu untuk Ravien?"

Wajah Hina langsung memerah.

Ia menunduk, menggenggam kotak bekal yang satu.

Hina : "B-bukan…"

Sebelum ia sempat mengelak lebih jauh, suara berat terdengar pelan dari sebelahnya.

Ravien : "…Berisik sekali."

Ternyata ia terbangun gara-gara keributan kecil itu.

Tanpa banyak kata, Ravien duduk tegak, meraih kotak bekal yang sudah Hina keluarkan di meja. Tanpa bertanya ini untuk siapa, tanpa basa-basi, ia buka kotaknya dan mulai makan begitu saja.

Riku dan Airi melongo.

Airi : "Eeeh…!?"

Rika menepuk meja pelan.

Rika : "Jadi… dugaan kita tadi benar dong? Itu memang bekal buat Ravien?"

Hina langsung menunduk sampai hampir menyentuh meja.

Hina (dalam hati):

Malu banget…

Ravien berhenti mengunyah sebentar, menatap mereka satu per satu.

Ravien : "Ada apa?

Belum pernah lihat demon makan bekal gratis?"

Airi menahan tawa, lalu menghela napas panjang dengan senyum menggoda.

Airi : "Masalahnya bukan itu…

Kami cuma kaget saja. Soalnya… hubungan kalian ternyata sudah sejauh ini~"

Hina : "A-Airi…!!"

Rei yang dari tadi diam, mendadak angkat suara.

Rei : "Ngomong-ngomong, Hina…

Apa kamu sudah punya ponsel baru? Karena kemarin kamu bilang ponsel lamamu hancur."

Hina mengangguk pelan.

Hina : 

"U-um… sudah."

Perlahan ia mengeluarkan ponsel barunya dari tas. Body-nya mengilap, model terbaru, jelas bukan tipe murah-meriah.

Begitu melihatnya, semua langsung mendekat.

Rika :

"Eh?! Ini seri terbaru, kan!?"

Airi :

"Seriusan!? Aku aja belum punya tipe ini…"

Riku mengangkat alis, kagum.

Riku :

"Hoo… Hina, jangan-jangan kamu menang undian lotre besar?"

Hina panik sedikit.

Hina : 

"B-bukan… bukan begitu…"

Seolah menegaskan sesuatu, sebuah kotak makan kosong tiba-tiba diletakkan di meja Hina.

Ravien sudah menghabiskan makanannya.

Ravien :

"Terima kasih, makanannya."

Hina tersenyum kecil.

Hina : 

"Sama-sama… dan… terima kasih juga… untuk ponselnya…"

Seketika ruang kelas hening.

Semua langsung membeku sepersekian detik.

Airi : "…Jadi, ponsel itu…"

Riku : "—Ravien yang belikan?"

Mata mereka kompak menatap ke arah demon yang sekarang sudah bersandar lagi, siap tidur ulang.

Riku, tentu saja, tidak menahan diri.

Riku :

"Kalau sampai beliin ponsel model terbaru gitu, kalian sudah pacaran ya, Ravien? Hina?"

Hina : 

"T-tidak…!! Bukan begitu…!"

Hina menggeleng-geleng cepat, wajahnya merah padam.

Hina : 

"R-Ravien membelikan ponsel ini karena… kemarin… hari ulang tahunku…"

Suasana hening kembali karena mendengar ucapan Hina.

Lalu meledak.

Airi :

"Eh—EH!? Kemarin ULANG TAHUNMU!?"

Rika :

"Kenapa kamu nggak bilang apa-apa kemarin, Hina…"

Rei menghela napas pendek, sedikit merasa bersalah.

Rei :

"Maaf… kami benar-benar tidak tahu."

Hina buru-buru menggeleng.

Hina : 

"T-tidak apa-apa! Sungguh!

Aku juga nggak pernah merayakan… jadi… aku tidak masalah sama sekali…"

Airi kemudian menatap Ravien tajam-tajam.

Airi :

"Tapi… ada satu hal yang mengganggu.

Ravien… bagaimana kamu bisa tahu ulang tahun Hina?

Kami yang sudah bertahun-tahun berteman saja tidak tahu."

Hina ikut menatap, kali ini dengan suara yang lembut dan ragu.

Hina : 

"Bolehkah… aku juga tahu? Dari mana… kamu tahu…?"

Ravien menghela napas lirih.

Ia mengangkat kepala sedikit, memandang wajah-wajah yang jelas tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban.

Ravien :

"…Aku lihat di database sekolah ini beberapa hari lalu."

Mereka semua :

"…"

Rika mengangkat tangan, menekan pelipis, lalu menghela napas panjang.

Rika :

"Ravien jangan lakukan itu lagi.

Meskipun kamu pintar, jangan sembarangan mengotak-atik data sekolah tanpa izin.

Pakai kecerdasanmu untuk hal yang… lebih bermanfaat."

Nada suaranya bukan marah besar, tapi jelas menegur.

Ravien mengklik lidahnya pelan.

Ravien :

"Tch…

Merepotkan sekali."

Ia kembali menjatuhkan kepala, seolah masalah sudah selesai.

Rei menoleh ke Hina.

Rei :

"Kalau begitu…

Hina sudah tidak perlu bawa bekal lagi dong? Tidak perlu menghemat buat beli ponsel."

Hina kaget. Ternyata Rei tahu alasan dia tiba-tiba sering membawa bekal.

Hina : 

"A-aku… itu…"

Sebelum Hina sempat menjawab, suara pelan terdengar dari arah meja Ravien.

Masih dengan posisi kepala tertelungkup, mata mungkin terpejam, tapi kata-katanya sangat jelas.

Ravien :

"…Tetap buatkan makan siang untukku.

Anggap saja sebagai bayaran… ponsel itu."

Hening satu detik.

Lalu tawa kecil pecah.

Riku tertawa sambil menunjuk Ravien.

Riku :

"Sepertinya ada seseorang yang sudah tidak bisa lepas dari masakan seseorang~"

Airi menutup mulut sambil cekikikan.

Rika mengangguk-angguk setuju.

Rika :

"Iya~ iya~ Demon jenius ternyata lemah juga kalau soal bekal buatan tangan."

Hina menunduk lagi, tapi kali ini bukan sedih—melainkan menahan senyum malu.

Hina : 

"Baik…

Kalau begitu… aku akan berusaha membuat makanan yang lebih enak lagi ke depannya…"

Bel istirahat belum habis, tapi suasana di sekitar meja mereka terasa hangat.

Sesaat kemudian, Rei berdiri.

Rei :

"Kalau begitu, kami ke kantin dulu.

Hina, makan yang banyak juga, ya."

Airi :

"Kalau Ravien tidur lagi, jangan terlalu dipeluk—eh maksudnya, jangan terlalu dijaga~"

Hina : 

"A-Airi!!"

Mereka pun tertawa dan meninggalkan kelas menuju kantin.

Hina membuka bekalnya sendiri.

Di sebelahnya, Ravien kembali "tidur"—tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

Hari itu berjalan seperti biasa: pelajaran, tawa kecil, dan perasaan yang pelan-pelan berubah.

Sampai bel pulang berbunyi… dan lembaran baru pun mulai terbuka.

More Chapters