Sorak-sorai bergema di area perlombaan non-akademik. Spanduk dua sekolah berkibar berdampingan:
SMA Seirei Gakuen
vs
SMA Shirokaze
Di papan skor, angka terus berubah seiring cabang-cabang lomba berjalan.
Kekuatan, Kecepatan, dan Sparring
Untuk cabang kekuatan fisik, Riku dan Rika sudah turun lebih dulu.
Riku mengangkat barbel sihir, otot tubuhnya menegang, urat leher tampak jelas. Di sisi lain, lawan dari Shirokaze juga tidak kalah kuat. Hasil akhirnya seri—angka di papan skor untuk cabang ini imbang.
Lanjut ke kategori kecepatan. Di lintasan lari yang diperkuat sihir, Rika dan beberapa murid lain bertanding. Aura penguatan tubuh berkedip-kedip di kaki masing-masing peserta.
Peluit dibunyikan.
Syuuut!
Bayangan mereka melesat.
Namun kali ini, tipis sekali, pelari dari SMA Shirokaze melewati garis finish duluan. Sorak dari kubu Shirokaze terdengar pecah.
Skor non-akademik pun sedikit miring ke arah SMA Shirokaze.
Rika (menghela napas):
"Aduh… tadi aku telat sepersekian detik…"
Riku (mengelus rambutnya lembut):
"Sudahlah, kamu sudah hebat. Lagipula… masih ada satu cabang lagi."
Sorotan pun beralih ke cabang terakhir non-akademik:
Pertarungan satu lawan satu.
Pertukaran Nama dan Kebencian
Awalnya, nama Rika tertera sebagai peserta untuk Seirei Gakuen.
Rika sudah siap melangkah ke arena ketika panitia menyebutkan nama lawan dari pihak Shirokaze.
Panitia :
"Perwakilan SMA Shirokaze untuk cabang duel satu lawan satu: Kurogane Hayato."
Nama itu membuat beberapa guru dari Seirei Gakuen mengerutkan kening.
Beberapa murid berbisik:
Murid :
"Itu kan… salah satu siswa terkuat di Shirokaze…"
Di sisi Seirei Gakuen, Ravien yang sedari tadi bersandar dengan wajah malas, tiba-tiba membuka mata.
Ravien (dalam hati, mata menyipit):
"Jadi… anjing kecil itu maju juga."
Ravien melangkah maju, berdiri di samping Rika yang sedang hendak melangkah.
Ravien : "Tukar. Biar aku yang maju."
Rika menatapnya heran, karena Ravien berinisiatif maju.
Rika : "Kenapa tiba-tiba kamu—"
Ravien menoleh sekilas, nada suaranya datar tapi dingin.
Ravien :
"Karena bocah yang akan kau lawan ini…
adalah orang yang membuat Hina menangis."
Sekejap, ekspresi Rika berubah. Kedua telinganya, sebagai beastkin, refleks sedikit menegang.
Rika (dalam hati):
Orang yang membuat… Hina menangis?
Hanya butuh beberapa detik bagi Rika untuk mengambil keputusan.
Rika mundur setengah langkah, karena melihat Ravien memancarkan aura yang tak biasa kali ini.
Rika : "Baik. Kali ini… aku serahkan padamu.
Pastikan dia tidak bisa bertingkah sesuka hati lagi."
Ravien tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, menaiki arena, aura demon-nya perlahan merembes keluar.
Di seberang, Hayato naik dengan senyum miring di wajahnya.
Hayato : "Oh? Kali ini bukan gadis beastkin itu yang maju… tapi demon penyuka gadis lemah dari sekolah ini."
Kata lemah itu menyentuh sesuatu yang ia benci—bukan pada Hina, tapi pada dirinya sendiri yang dulu membiarkan orang lain menyakiti tanpa balasan.
Ravien : "Diamlah, anjing kecil."
Pukulan yang Menggelitik
Wasit mengangkat tangan.
Wasit : "Aturan tetap berlaku. Tidak boleh membunuh atau menyebabkan luka fatal.
Pertarungan berhenti ketika salah satu tidak dapat melanjutkan, atau menyerah.
Bersiap…"
Kedua peserta berdiri saling berhadapan.
Hayato menurunkan tubuh, ototnya menegang, aura penguatan tubuhnya meledak.
Ravien berdiri santai, satu tangan di saku, seolah bosan.
Wasit : "Mulai!"
Hayato langsung menghilang dari tempatnya, kecepatan fisiknya menggetarkan tanah. Dalam sekejap ia sudah tepat di depan Ravien.
DOOM!!
Pukulan lurusnya mendarat tepat di perut Ravien. Hembusan angin dari impact membuat para penonton di dekat arena menutup wajah.
Beberapa murid Seirei Gakuen menjerit panik.
Murid :
"Eh!? Ravien kena langsung!?"
Hayato tersenyum puas, masih menekan tinjunya di perut Ravien.
Hayato :
"Rasakan. Jangan pernah main-main dengan—"
Suara dingin memotong kalimatnya.
Ravien :
"…Apa sudah puas dengan pukulan menggelitikmu itu?"
Suara itu… datang dari atas.
Hayato membeku. Perlahan ia mendongak.
Ravien berdiri tegak, satu tangannya memegang pergelangan tangan Hayato yang masih menempel pada perutnya. Tidak ada luka, tidak ada darah, tidak ada rasa sakit di wajahnya— hanya tatapan jijik.
Penonton tercekat.
Rika menggenggam tangan Riku tanpa sadar.
Rika (dalam hati):
Padahal tadi… suara impact-nya kuat sekali… tapi dia… tidak apa-apa…?
Hayato mencoba lepas tangannya dari Ravien dan mundur beberapa langkah.
Hayato (dalam hati, keringat dingin mengalir):
Apa-apaan tubuh demon ini…?
Pukulan yang bisa membengkokkan baja…
dianggap menggelitik!?
Tidak mau kalah, ia kembali menerjang.
Kali ini, tinju dan tendangan bertubi-tubi mengarah ke tubuh Ravien.
Setiap pukulan mengeluarkan hembusan angin yang membuat rambut penonton berkibar.
DOOM! DOOM! DOOM! DOOM!
Namun hasilnya sama.
Ravien berdiri di tempat yang sama, hampir tanpa bergerak.
Hanya seragamnya yang sedikit berkibar, seolah hanya diterpa angin, bukan pukulan.
Pada akhirnya, tangan Hayato sendiri yang mulai bergetar kesakitan.
Ia melompat mundur, menahan pergelangan tangannya.
Hayato (mengumpat dalam hati):
Sial…! Tanganku…! Itu bukan tubuh, itu dinding besi hidup!
Ravien menghela napas, seolah benar-benar bosan.
Ravien :
"Segini sajakah… beastkin yang berani menyebutku lemah?
Menjijikkan."
Dalam sekejap, sosok Ravien lenyap dari pandangan.
Murid-murid hanya sempat mengedip… dan berikutnya yang terlihat adalah:
Ravien sudah berdiri tepat di depan Hayato.
Tangan kirinya menjepit leher Hayato, mengangkat tubuhnya dengan satu tangan seolah mengangkat boneka.
Hayato : "Kgh—!?"
Penonton gempar.
Murid :
"Dia… diangkat dengan satu tangan!?"
"Lehernya—!"
Hayato berusaha meronta, namun tubuh Ravien sama sekali tak bergeming.
Ravien menatapnya dari bawah, mata emasnya dingin bak pisau.
Ravien :
"Tadi kau bilang apa?
Demon yang menyukai manusia lemah itu memalukan?"
Hayato hanya memuntahkan suara serak, tangan meraih pergelangan Ravien.
Ravien mengangkat tangan kanannya, mengepal.
Ravien :
"Anjing kecil sepertimu…
seharusnya tidak menyentuh wanita yang dekat denganku."
Tinju Ravien melayang.
DOOM!!
Tinju Ravien menghantam perut Hayato. Tubuh Hayato melengkung, napasnya putus.
Hayato memuntahkan darah dalam jumlah banyak, sebagian mengenai wajah Ravien.
Penonton menjerit.
Murid :
"Itu cuma satu pukulan!?"
"Dia memuntahkan darah—!"
Wasit dan beberapa guru yang melihat itu langsung panik.
Dan langsung masuk ke arena, mencoba menghentikan.
Guru :
"Cukup! Lepaskan dia! Ini sudah kelewatan!"
Mereka berusaha menarik tangan Ravien, namun seolah memegang batu raksasa—
tubuh Ravien tidak bergeser sedikit pun.
Ravien melirik mereka dingin.
Ravien :
"Jangan mengganggu.
Kalian bahkan tidak cukup kuat untuk jadi angin sepoi."
Para guru maju, tapi tekanan aura membuat mereka tersentak mundur—napas berat, langkah goyah.
Wanita yang Menghentikan Demon
Ravien menarik napas pendek, menurunkan sedikit posisi kuda-kudanya.
Ravien :
"Sekarang… tidak ada yang bisa menyelamatkanmu.
Kali ini… aku akan menghancurkanmu."
Ia mengangkat tinjunya sekali lagi, aura demon menekan seluruh arena.
Banyak murid Shirokaze yang sudah pucat, beberapa mundur selangkah.
Di bangku penonton, Riku menggertakkan gigi.
Riku : "Ini… kalau lanjut, lawanya bisa mati…!"
Rei menatap tajam, siap bergerak saat situasi benar-benar akan melewati batas.
Namun seseorang sudah masuk ke arena lebih dulu.
Sebuah sosok kecil berlari menembus arena sebelum siapa pun sempat mencegah.
Hina.
Hina berlari tanpa pikir panjang. Nafasnya memburu, tapi ia tidak berhenti—hingga akhirnya ia menubruk tubuh Ravien dari belakang, lalu memeluk punggungnya dari belakang.
Hina : "Ravien… cukup…!"
Suara Hina bergetar.
Air mata kembali jatuh, bukan lagi karena ponsel yang hancur, tapi karena sesuatu yang jauh lebih berat di dadanya.
Hina :
"Jangan… jangan teruskan lagi…
Aku tidak apa-apa… jadi… tolong… berhenti…"
Ravien terdiam. Tinju kanannya masih terangkat.
Arena terasa sunyi—bahkan napas penonton seperti tertahan.
Ravien menunduk sedikit, melirik tangan kecil yang memeluknya erat dari belakang. Ia bisa merasakan tubuh Hina bergetar hebat.
Ravien (pelan, hanya cukup untuk Hina dengar):
"Kalau aku membiarkan dia… suatu hari dia akan menyakitimu lagi."
Hina menggeleng, masih menempel di punggung Ravien.
Hina :
"Kalau kamu menghancurkan dia… kamu juga menghancurkan dirimu. Dan aku… nggak mau jadi alasan itu."
Kata-kata itu sederhana, tapi menancap.
Beberapa detik, hanya ada desiran angin di atas arena.
Akhirnya—tinju Ravien perlahan turun.
Ia melepaskan cekikannya dan, bukan menurunkan Hayato dengan lembut, melainkan melemparnya ke luar arena.
Tubuh Hayato menghantam tembok pembatas sekali lagi, dan ambruk tak berdaya. Guru-guru medis segera berlari menghampiri.
Ravien meraih tangan Hina yang masih memeluknya, melepaskan pelan-pelan hingga genggaman itu terurai. Ia tidak menoleh sedikit pun kepada Hina.
Tanpa sepatah kata, ia berbalik—lewat di samping Hina yang masih menangis—dan berjalan keluar arena.
Sorak maupun hinaan tidak ia hiraukan.
Ia hanya berjalan lurus, meninggalkan lapangan.
Hasil yang Pahit
Setelah beberapa menit diskusi tegang di antara para guru dan panitia, keputusan diumumkan.
Panitia :
"Untuk cabang non-akademik duel satu lawan satu…
kemenangan diberikan kepada SMA Shirokaze,
karena peserta dari SMA Seirei Gakuen melakukan tindak kekerasan berlebihan yang melanggar batas aturan."
Sorak kemenangan terdengar dari kubu Shirokaze.
Namun banyak wajah terlihat pucat; mereka masih mengingat pemandangan Hayato dicekik dan dipukul hingga muntah darah.
Di sisi Seirei Gakuen, murid-murid menggerutu marah.
Murid Seirei :
"Kenapa Ravien melakukan itu sejauh itu…!?"
"Kalau dia nahan dikit saja, kita bisa menang bersih…"
Mereka hanya melihat demon yang mengamuk tanpa alasan.
Mereka belum tahu tentang ponsel yang hancur… tentang hinaan, tentang Hina yang hampir dipukul, tentang kata-kata "wanita lemah" yang menghina.
Di tengah kerumunan itu, Hina berdiri diam, sembari menggenggam ponsel retaknya.
Hina (dalam hati, menatap punggung Ravien yang menjauh):
Terima kasih sudah marah untukku…
Tapi… jangan sampai kamu yang hancur karena aku…
Dan di sudut lain arena, seseorang dari SMA Shirokaze memandang kejadian itu dengan campuran ngeri dan… rasa bersalah samar yang muncul entah dari mana.
Namun, untuk semua orang di sana—
Yang mereka tahu hari itu hanyalah:
Di mata banyak orang, Ravien hanya "mengamuk" dan membuat Seirei kalah.
Tapi di tangan Hina yang menggenggam ponsel retak, ada kebenaran lain:
seseorang baru saja hampir menjadi monster… hanya karena ia tidak tahan melihatnya disakiti lagi.
