Ficool

Chapter 113 - Chapter 113

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 CHAPTER 113 — "Bangkitnya Voidstep Hunter, Zura Retak, Damien Drop Energi, dan Turunnya Dewa Es"

(MC: Damien Valtreos)

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌑 ADEGAN 1 — Debu Mereda, Ancaman Belum Mati

Debu dari ledakan Crimson Collapse mulai turun seperti hujan abu.

Rex berbisik sambil memegang pundak Hana:

"Bro… dia mati kan? Please bilang dia mati…"

Hana menggigit bibir.

"Aku… nggak yakin."

Damien menarik napas panjang, tubuhnya gemetar.

Energi merah gelap di sekitarnya perlahan memudar.

"…Blood Ignition hampir habis… 30% aja udah kerasa begini."

Zura berdiri di depan Damien, tubuhnya penuh retakan seperti porselen berlumur bayangan.

"Tetap di belakangku, Tuanku."

Damien mengangguk kecil.

Namun—

KRRTTT… KRRTTT…

Dari tumpukan batu, suara retakan ruang muncul.

Seolah bayangan itu menolak mati.

Rex mundur dua langkah.

"UH– bro… jangan bilang…"

Satu tangan hitam menyembul keluar.

Diikuti kepala dengan mata gelap menyala seperti api lembah neraka.

Pemburu Voidstep bangkit kembali.

Dan ia tersenyum.

Senyuman aneh… seperti predator yang baru pemanasan.

"Menarik… kau benar-benar melukai tubuhku."

Damien mengumpat pelan.

"Serius… belum mati?"

Pemburu itu mulai melangkah.

Tidak cepat—pelan, tapi dengan aura menekan seolah ruang di sekitarnya roboh.

"Aku lupa… kalian murid Atheus selalu keras kepala."

Zura langsung menaikkan postur bertarung.

Namun pemburu itu mengangkat satu jari.

"Kau dulu."

Voidstep Hunter menghilang.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🩸 ADEGAN 2 — Zura Retak Semakin Parah

SRAAAASH!!!

Cakar hitam muncul tepat di perut Zura.

Zura sempat menahan dengan tangan, tetapi—

CRAAAAK—

Retakan di tubuhnya makin banyak, merambat seperti kaca yang dilempar batu.

"ZURA!!"

Rex panik.

Hana terkejut sampai tidak bisa berteriak.

Zura menahan serangan dengan tubuhnya sepenuhnya, tidak mundur satu langkah pun.

Ia menatap pemburu itu tanpa rasa takut.

"Retakkan tubuhku… tapi aku akan tetap berdiri di depan Tuanku."

Damien meraih lengan Zura.

"Zura, cukup! Kau bisa hancur kalau terus kaya gini!"

Zura tetap tegap.

"Aku dikirim untuk melindungi Tuan Damien, bukan untuk bertahan hidup."

Pemburu Voidstep mencondongkan kepala, seperti binatang yang menilai mangsanya.

"Kau loyal, puppet. Tapi itu tidak menyelamatkanmu."

Ia menghilang lagi.

Damien mencoba fokus, tapi—

Penglihatan berputar.

Energi Red Hyper Primordial-nya drop drastis setelah 30%.

"Kenapa… secepat ini…"

Dalam batinnya terdengar suara misterius:

[Tubuhmu belum kompatibel. Paksa 30% = efek samping: penurunan stamina ekstrem.]

"Tch… bagus banget timingnya."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌘 ADEGAN 3 — Damien Mulai Kehabisan Tenaga

Pemburu muncul di belakang Damien.

Rex menjerit:

"BRO DI BELAKANG!!"

Damien mencoba mengangkat tangan—

Tapi tubuhnya limbung, kakinya gemetar seperti tidak ada kekuatan.

"...Sial… tubuhku kosong…"

Cakar Voidstep hampir menyentuh leher Damien—

TAP!

Zura mendorong Damien ke samping dan menerima serangan penuh.

CRAAACK!!

Retakan di tubuh Zura berubah dari retakan tipis…

menjadi patah dalam.

Zura jatuh berlutut.

"Zura!!"

Damien memegang bahunya.

Zura hanya mengatakan satu kalimat:

"Maaf… Tuanku… aku… terlalu lambat."

Pemburu Voidstep menurunkan tangan, seolah melihat hasil pekerjaannya.

"Boneka itu akan hancur 2 serangan lagi. Setelah itu, giliranmu."

Damien menggertakkan gigi.

Namun tubuhnya… benar-benar tidak bisa bangkit.

Energi lunar juga hampir habis.

Hyper-red sudah drop.

Hana berbisik ketakutan: "Damien… kita beneran mati…"

Rex memeluk pedangnya sambil gemetaran.

"Kalo mati… gua mau mati duluan, jangan Damien yang duluan…"

Damien menunduk, napasnya memburu.

"…tidak… aku nggak boleh jatuh sekarang…"

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

❄️ ADEGAN 4 — Langit Astralheim Membeku

Langit yang tadinya gelap perlahan berubah menjadi putih pucat.

Butiran salju turun.

Suasana berubah dari panas dan kacau… menjadi sunyi membunuh.

Pemburu Voidstep menghentikan langkah.

Ia mendongak.

"…akhirnya kau muncul."

Retakan es di langit terbuka seperti bunga kristal.

Dan dari dalamnya…

Turun seorang pria berambut putih perak, jubah es berlapis rune kuno.

Tatapannya tajam, dingin, tidak berekspresi.

Aurelius Frostmourn.

Rex langsung duduk jatuh.

"Gua… gua nggak salah liat kan?? Itu—"

Hana hampir pingsan.

"Dewa Es… turun beneran…"

Damien—yang hampir tumbang—melihat siluet itu dari bawah.

"…Aurelius…"

Aurelius turun perlahan, napak di udara beberapa meter di depan Damien.

Ia melihat sekilas tubuh Damien yang penuh luka dan kelelahan energi.

Kemudian ia melihat Zura yang hampir hancur.

Lalu ia menatap Voidstep Hunter.

Dan dengan nada datar, dingin, namun mengandung ancaman:

"Keluar dari wilayahku, pemburu kegelapan. Atau aku yang akan membekukanmu menjadi debu."

Suasana berubah seketika.

Bukan aura besar…

Tapi tekanan gletser purba yang tidak butuh dipamerkan.

Voidstep Hunter menyipitkan mata.

"…Raja Es akhirnya turun tangan."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 END CHAPTER 113

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

More Chapters